Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 66 Mengambil paksa


__ADS_3

“Jangan kau sentuh anak-anak ku Bang, kau Ayah yang tak berguna.”


“Apa maksud mu Yati?”


“Kau pikirkan saja sendiri,” jawab Maryati seraya membawa Anisa kedalam kamarnya.


Melihat Ibunya terus saja menangis, Andi putra bungsunya juga ikut menangis sedih. Bima berusaha menenangkan mereka berdua, dengan mengajaknya bermain di luar rumah.


Dua minggu setelah itu, Tomi mengajak Anisa untuk pergi, Maryati tak mengira kalau Tomi akan membawa Anisa pada Mayar.


“Kita mau kemana Ayah?” tanya Nisa ingin tahu.


“Kita mau kerumah Nenek sayang.”


“Ooo, kerumah Nenek.”


“Nisa mau kerumah Nenek?”


“Mau.”


“Nisa mau tinggal dirumah Nenek?”


“Mau.”


“Benar, Nisa mau tinggal bersama Nenek?”


“Iya Ayah, Nisa mau kok.”


Tak berapa lama kemudian, angkot yang mereka tumpangi pun berhenti tepat di depan rumah Leli, saat itu tak ada Mayar di sana. Sebab, jika Anisa melihat Mayar, dia pasti ketakutan.


Saat Anisa tertidur, lalu secara diam-diam, Tomi membawa Nisa kerumah Mayar, dia mengurung Anisa di dalam kamar Kakaknya dan Tomi kembali kerumah Bundanya.


Tak berapa lama kemudian Nisa pun terbangun dari tidurnya, semua yang di lihatnya saat itu tampak begitu asing sekali, sepi dan gelap, Nisa pun menjerit memanggil Ayahnya.


Sekuat-kuatnya dia berteriak, tak seorang pun yang datang menghampiri dirinya dan membukakan pintu. Anisa semakin ketakutan, dia pun meronta-ronta di dalam kamar, air matanya tak henti-hentinya mengalir.


“Ayah, Ayah! buka pintu…huhuhu…Ayah! ayah! aku takut Yah..!”


Di luar kamar tampak Mayar duduk sendiri dengan diam, dia sengaja melakukan hal itu, agar Anisa tak mengetahui kalau saat itu dia sengaja mengurung gadis kecil itu di dalam kamarnya.


Beberapa saat menangis, Anisa menjadi lelah, diapun mencoba berhenti sejenak, karena menurutnya, tak seorang pun yang akan datang untuk membukakan pintu. Namun Mayar yang tak lagi mendengar suara tangisan Anisa merasa sedikit khawatir.


Mayar mencoba mengintip kedalam lewat celah sempit dinding yang terbuka. Saat itu Mayar tak melihat Anisa ada di dalam kamarnya, lalu diapun bergegas untuk membukakan pintu.


Saat pintu terbuka, Anisa langsung berlari kencang menuju pintu luar, hal itu membuat Mayar kesulitan untuk menangkapnya. Untung saja saat itu Tomi masih berada di rumah Leli, sehingga Anisa bisa dengan mudah menemukan Ayahnya.


“Eh, Nisa udah bangun sayang,” ujar Tomi berpura-pura.


“Ayah ayo pulang!” ajak Nisa seraya menarik tangan Ayahnya.


“Kenapa Nisa minta pulang nak?”


“Ayo Ayah, kita pulang saja, cepat Yah,” paksa Anisa sembari terus menarik tangan Ayahnya.


“Baiklah nak, baik. Kita akan pulang sekarang,” jawab Tomi.

__ADS_1


Seraya menarik tangan Ayahnya, Nisa berusaha berjalan dengan cepat. Di saat itu, Tomi masih berusaha untuk merayu putrinya untuk kembali kerumah Mayar.


“O iya sayang, Ayah jadi lupa.”


“Ayah lupa apa?”


“Tabung susu milik mu, masih tertinggal di rumah Nenek.”


“Biarkan saja Ayah.”


“Kalau nggak di jemput, nanti Nisa minum susu pakai apa?”


“Biar Nisa berhenti minum susunya Ayah.”


“Nisa serius, mau berhenti minum susu?”


“Iya Ayah,” jawab Nisa yang terus berjalan dengan cepat di depan Ayahnya.


Saat itu Tomi sadar, kalau Mayar telah gagal mendapatkan Nisa, namun dia masih punya Suci yang masih bayi.


Setibanya mereka di rumah, Nisa langsung berlari memeluk tubuh Ibunya, Maryati yang melihat putrinya ketakutan mencoba bertanya.


“Ada apa sayang, kenapa kau ketakutan seperti itu?”


“Ayah mengurung aku di rumah Bibi, Bu.”


“Apa?”


“Rumah Bibi itu sangat menakutkan sekali.”


“Nggak, kenapa kau percaya sekali dengan ucapan Nisa, Yati?”


“Nggak mungkin dia ketakutan kalau kau nggak berbuat sesuatu padanya.”


“Tadi itu Nisa tertidur di rumah Kak Mayar, lalu aku meninggalkannya di sana dan pergi kerumah Bunda.”


“Bohong, kau memang berniat untuk menipuku kan, Bang?”


“Buat apa aku menipu mu Yati?”


Yati tak percaya dengan ucapan suaminya, semenjak hari itu dia selalu waspada dengan sikap dan tindak-tanduk Tomi. Akan tetapi, saat Suci berusia empat tahun, Mayar datang lagi dan dia langsung meminta Suci untuk di rawatnya sendiri.


“Nggak bisa, aku nggak akan memberikan Suci pada kalian.”


“Kami janji, kami akan merawat Suci dengan baik Yati.”


“Nggak, aku nggak mau,” jawab Yati yang terus mempertahankan putri kecilnya.


“Berikanlah Yati, toh, kak Mayar akan merawat bayi mu dengan baik kok.


Kasihan kita, dia belum memiliki anak setelah lama menikah.”


“Aku nggak mau Bang, kenapa sih, kau selalu saja membela keluarga mu?”


“Karena dia udah janji akan merawat putri mu dengan baik.”

__ADS_1


“Aku nggak percaya Bang.”


“Dasar Bodoh kau Yati, bersama Kak Mayar, putrimu akan hidup bahagia.”


“Aku nggak mau, kalau Kak Mayar ingin punya anak, kenapa nggak adopsi saja anak dari panti asuhan.”


“Aku nggak mau anak panti asuhan itu Yati, karena anak-anak itu nggak jelas asal-usulnya.


“Itu hanya alasan mu saja Kak.”


“Kakak nggak bohong Yati.”


“Nggak aku nggak mau.”


“Ayolah Yati.”


Merasa terdesak, Maryati pun berlari kedalam kamarnya, saat itu dia tak melihat Bima dirumah itu. kalau Bima ada pasti Bima membela dirinya.


Mesti demikian Tomi sepertinya tak mau perduli dengan perasaan istrinya, saat Suci sedang menyusu dengan Ibunya, tomi mencoba menarik paksa bayi kecil itu dan di serahkan pada Mayar.


Maryati yang terkejut karena Tomi telah merampas Suci dari dirinya, diapun berusaha untuk mengejarnya kembali dan merebut bayi itu dari tangan Mayar.


Namun sayang tenaga Mayar sangat kuat, Maryati sampai tersungkur di buatnya.


Tak ingin bayi itu di bawa pergi oleh Mayar, Maryati terus saja berusaha merebutnya dia menarik paksa pakaian Mayar dan melemparnya dengan batu.


Setelah berusaha mati-matian merebut putrinya dari tangan Mayar, Tomi bukannya menolong istrinya, dia justru menarik paksa Maryati , sehingga bayi itu terlepas dari Ibunya.


“Berhenti Maryati, kau benar-benar keterlaluan!” bentak Tomi.


Maryati yang nggak bisa menahan perasaan itu, kemudian dia pun tak sadarkan diri dan di bawa kerumah, sementara Mayar bersama dengan suaminya telah sukses merebut Suci dari Ibunya.


Di saat Maryati tak sadarkan diri, semua anak-anaknya menangis seraya memeluk Ibunya. Tia yang menyaksikan hal itu merasa marah dan kesal melihat sikap Ayahnya.


“Ayah jahat, Ayah jahat! kenapa Ayah berikan adik ku pada Bibi?”


“Ayah nggak memberikannya nak, Ayahnya meminjamkannya saja, nanti kalau Bibi mu telah punya anak, dia pasti akan mengembalikan adik mu kerumah ini.”


“Ayah jahat, sekarang Suci telah pergi, huhuhu…!” gerutu Leni pada Ayahnya.


“Adik mu hanya di pinjam Bibi nak, nanti juga akan di kembalikan.”


“Ayah jahat! gara-gara Ayah, Ibu meninggal uhuk..uhuk..uhuk…!”


“Ibu nggak meninggal nak, sebentar lagi Ibu juga bangun, dia bisa kembali bermain bersama dengan kalian lagi.”


“Aku nggak mau lagi berteman dengan Ayah.”


“Nisa sayang, sini nak, biar Ayah peluk.”


“Aku nggak mau, Ayah jahat.”


Mesti semua putrinya mengatakan kalau Ayahnya jahat, namun Tomi terlihat biasa-biasa saja, dia bahkan merasa tak bersalah sama sekali.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2