Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 48 Perlakuan kasar


__ADS_3

Maryati yang selalu diam, bukan berarti dia itu takut dan bodoh tapi karena dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa, sebab rantau yang telah dia tuju saat itu adalah rantau yang salah. Jika ingin pulang pun ke Jakarta, tentu tak bisa, karena tak punya uang untuk ongkos.


Karena lelah sehabis menempuh perjalanan jauh, Maryati mencoba merebahkan badannya sejenak, untuk melepaskan rasa lelah yang bergelayut di sekujur tubuhnya.


Tiba-tiba saja Mayar datang menghampirinya, dan menendang punggung Maryati, hingga perempuan itu pun merasa kesakitan.


“Heh! kau kira ini rumah singgah, yang bisa seenak hati mu bisa tidur! ayo ke dapur sana, masak biar bisa makan!”


Perintah Mayar tak di bantah sedikit pun oleh Maryati, dengan pelan dan sabar dia pun pergi ke dapur untuk masak. Setelah selesai memasak, Maryati dan ketiga orang anaknya bukannya di beri makan oleh mereka semua, justru semua makanan itu di habiskan tak bersisa.


“Ibu, aku lapar,” ujar Bima pada Ibunya.


Mendengar suara Bima menyebut kata lapar, air mata Maryati tak kuasa untuk di bendung lagi, di hadapan semuanya Maryati pun menangis histeris, dadanya terasa begitu sesak sekali saat itu.


“Ibu kenapa menangis?” tanya Bima heran.


“Hei! kenapa kau menangis? apakah kalian lapar hah!” ujar Inah dengan suara kasar.


“Iya Bi,” jawab Bima pelan.


“Kalau lapar, masak sendiri, cari beras sendiri, belanja sendiri.”


“Tapi Ibu ku nggak punya uang Bi.”


“Kalau nggak punya uang, jangan datang ke kampung orang, emangnya semua makanan di rumah ini gratis, bayar dong!”


Mendengar perkataan Inah, Bima tak mau melanjutkan ucapannya, dia terpaksa harus menelan air liurnya yang terasa begitu pahit.


Sementara itu, Tia dan Leni hanya menatap mereka semua yang sedang asik makan dengan lahapnya di meja makan.


“Mana Ayah Bu, kenapa dia nggak pulang?” tanya Bima pelan.


Maryati tak menjawab, hanya kepalanya saja yang dia gelengkan saat itu, Bima melihat betapa hancurnya perasaan Ibu tercintanya.


Ketika mereka semua selesai makan, lalu mereka pun pergi dengan meninggalkan meja yang berantakan begitu saja, Maryati pun bangkit dan mengemasi sisa nasi yang berada di atas piring bekas makan mereka semua.


Nasi yang terkumpul saat itu hanya sekitar empat suap, kemudian Maryati menyuapkan nasi sisa itu ke mulut anak-anaknya dengan deraian air mata.


“Ibu, sebaiknya kita pulang saja ke tempat Kakek di jakarta, kalau di sana kita bisa makan enak dan tidur yang tenang.”


“Nggak bisa nak, Ibu nggak punya uang untuk pulang ke sana.”

__ADS_1


“Aku mau mencari Ayah, Bu.”


“Jangan nak, nanti kalau kau pergi, mereka akan menyiksa Ibu nak.”


“Baiklah, aku janji aku nggak bakalan meninggalkan Ibu sendirian di rumah ini.”


Tak berapa lama kemudian, Mayar pun datang lagi, dia tampak begitu marah karena Maryati belum membersihkan meja bekas makan mereka.


“Hei, kenapa kau nggak membersihkan meja,” ujar Mayar sembari menarik telinga Maryati.


Tak mau Ibunya di perlakukan kasar oleh Bibinya, Bima pun menendang tubuh Mayar hingga perempuan itu terpental, hingga tubuhnya mengenai meja makan.


“Kurang ajar! kau mau cari masalah dengan ku!” teriak Mayar seraya menarik baju Bima dan menyeretnya ke luar rumah.


“Ampun Bi, ampun, ampun!”


“Masih kurang ajar lagi sama aku hah!”


“Ampun Bi, ampun. Nggak Bi.”


“Dasar anak nggak berguna, masih syukur aku mau menampung kalian dirumah ini, kalau nggak, kalian semua pasti udah jadi gembel di jalanan sana!”


Melihat anaknya di perlakukan kasar oleh Mayar, Maryati berusaha untuk menolong Bima dan menarik tangannya, namun Mayar memijak tangan Maryati, hingga Maryati pun kesakitan.


Malam itu, Tomi pun pulang ke rumah, dia melihat Maryati menangis sedih di atas tikar pandan yang kotor dan rusak.


“Apakah kalian udah makan?” tanya Tomi pada Bima.


“Belum Yah, kami semua kelaparan, Ayah kemana saja, kenapa nggak datang-datang, Ibu mereka siksa Yah.”


“Benarkah?”


“Kalau begini izinkan kami kembali ke Jakarta, disini pun nggak ada gunanya kan, hanya menambah penderitaan Ibu saja.”


“Nggak perlu ke Jakarta, di sini saja. Bukankah rumah kita di sana sudah tak ada.”


“Tapi kami bisa tinggal di rumah Kakek.”


“Nggak, Ayah nggak akan mengizinkan kalian, kembali ke Jakarta."


Maryati yang melihat Bima berdebat dengan Ayahnya, dia hanya diam saja, tapi air matanya yang bening tak henti-hentinya mengalir.

__ADS_1


“Yati, apakah kau lapar sayang?” tanya Tomi pada istrinya.


Maryati diam saja, karena semenjak dia datang kerumah itu, Maryati enggan bicara dengan mereka semua, termasuk Tomi, yang di anggapnya lebih bodoh dari dirinya sendiri.


“Ayah nggak perlu bertanya pada Ibu, percuma saja, karena Ibu nggak mau lagi bicara pada Ayah dan keluarga Ayah.”


“Kenapa?”


“Ayah masih tanya kenapa, apakah Ayah nggak lihat bagai mana penderitaan Ibu selama di sini, mereka semua memperlakukan Ibu ku persis seperti sampah.”


“Kau jangan mengada-ngada Bima, nggak baik menjelek-jelekkan Bibi mu seperti itu.”


“Terserah Ayah, suatu saat nanti, Ayah pasti menyesal telah membawa kami ke rumah ini,” jawab Bima sembari tidur di sebelah Tia.


Tomi yang melihat istri dan ketiga anaknya terdiam, dia pun langsung membuka tudung nasi, ternyata tak sedikit pun nasi yang mereka sisakan di dalamnya.


“Kurang ajar, mereka semua benar-benar sudah keterlaluan,” gerutu Tomi seraya bergegas menuju kamar Bundanya.


Dari luar pintu kamar Leli di gedor dengan kuat oleh Tomi, Leli yang saat itu hendak tidur mencoba bangkit dan bergegas membukakan pintunya.


“Ada apa Yung, apakah kau nggak tahu, kalau saat ini sudah larut malam.”


“Bunda tahu, kalau hari ini sudah larut malam?”


“Emangnya Bunda mu ini bodoh apa, nggak tahu membedakan mana siang dan mana malam.”


“Ternyata Bunda masih sehat, akal dan pikiran.”


“Apa maksud mu itu Yung?”


“Kalau bunda tahu dan Bunda punya rasa, kenapa Bunda nggak memberi anak-anak ku makan, apa salah mereka pada kalian! sampai kalian begitu tega nggak menyisakan sedikit pun makanan untuk mereka.”


“Siapa bilang kami nggak menyisakan makanan untuk mereka Yung, istri mu itu sudah berbohong pada mu.”


“Bunda yang bohong! Bunda tahu, sejak dia datang dan menginjakan kakinya di rumah ini, istri ku bahkan nggak pernah bicara sepatah pun. Bunda tahu kenapa? karena kalian telah menyiksa batinnya.”


“Siapa yang menyiksa batin istri mu! nggak ada yang menyiksanya, kalau pun dia diam itu bukan karena dia itu tertekan, tapi dia itu memang bisu dan


tuli.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2