
“Lalu kita mesti bagai mana Bu?” tanya Tia pada Ibunya.
“Ibu juga nggak tahu mesti bagai mana nak, Ibu bingung harus bagai mana,” jawab Maryati dengan deraian air mata.
Belum selesai mereka berdua membahas masalah Arman yang telah melarikan diri dari Maryati, tiba-tiba beberapa orang warga Desa seberang yang telah merasa di rugikan oleh Arman datang menyambangi mereka berdua.
“Gimana Bu, apakah uangnya sudah di dapat?” tanya seorang pria pada Maryati.
“Belum Pak, kami semua kehilangan Arman, begitu juga dengan kedua orang tuanya,” jawab Maryati berbohong.
“Praak…!”
Karena tak terima, pria itu langsung menampar dinding rumah Maryati, seisi rumah merasa terkejut dan berhamburan lari keluar.
“Ada apa ini?” tanya Tomi heran.
“Kami datang kesini dengan cara baik-baik, tapi istri Bapak telah berbohong dan tak mau membayar ganti rugi semua yang kami alami!”
“Kalian kira semudah itu mengeluarkan uang sepuluh juta, bukan kalian saja yang merasa di rugikan, kami sekeluarga juga merasa pusing dengan kejadian ini.”
“Itu bukan urusan kami Pak, saat ini yang kami butuhkan hanya uang ganti rugi yang telah kita sepakati.”
“Itu memang telah kita sepakati, tapi Arman itu sendiri tak dapat kami temukan, bukan berarti kami nggak mau mengeluarkan uang kalian, tapi kalian mesti bersabar terlebih dahulu.”
“Tapi bersabar sampai kapan Pak?”
“Kami juga nggak tahu, tapi kami pasti membayarnya.”
“Kami tahu kalau Bapak sekeluarga akan membayarnya, tapi beri kami penjelasan sampai kapan keluarga ini akan membayarnya.”
“Kami belum bisa menjawabnya.”
“Nggak bisa gitu dong Pak, hari ini juga kalian harus katakan pada kami sampai kapan hari terakhir kalian bisa membayar hutang itu, atau menantu Bapak itu kami jebloskan kedalam penjara.”
“Baiklah, kalau kalian bersikeras, ingin menjebloskan Arman kedalam penjara, silahkan saja. Kapan perlu akan ku buatkan surat penyerahan Arman pada kalian semua.”
Saat Tomi bicara seperti itu, salah seorang di antara mereka lalu menghampiri temannya dan membisikkan sesuatu padanya.
“Baiklah, begini saja Pak, kami semua akan menantikan keputusan dari Bapak.”
“Kenapa? kalian nggak jadi menangkap Arman?”
“Nggak usah, kalau keluarga Bapak sanggup menanggung biaya kerugian kami, kenapa kami mesti harus mencari keberadaan Arman yang tak jelas.”
__ADS_1
“Itu makanya, jangan sok jago, begini ini, saya juga bekas pensiunan ABRI, tahu nggak!”
“Iya, Pak. kalau begitu saya permisi dulu.”
“Silahkan,” jawab Tomi dengan kasar.
Kepergian beberapa orang itu, membuat Maryati dan Tia bisa bernafas lega. Namun, itu hanya untuk sementara, sedangkan hutang yang menumpuk harus mereka pikirkan cara membayarnya.
Hingga larut malam pun, Maryati masih belum bisa tidur, dia hanya bisa menangis sedih, memikirkan uang ganti rugi yang di bebankan di pundaknya.
Jika di bebankan ke pada Tia, tentu Maryati tak tega sama sekali, karena saat itu, kehidupan putrinya jauh lebih menderita dari dirinya.
Tengah malam saat Maryati sedang melaksanakan sholat tahajjut, tiba-tiba saja Maryati teringat dengan dua ekor sapi yang dia miliki, saat itu tampak Maryati tersenyum lega.
Pagi hari, ketika semua orang sudah bangun dari peristirahatan mereka, lalu Tia datang lagi pada Ibunya, Tia tampak begitu gelisah, karena uang yang sudah di janjikan itu belum juga ada.
“Gimana Bu, apakah Ibu menemukan jalan keluarnya?”
“Sudah sayang, kau nggak usah khawatir.”
“Ibu serius?”
“Iya sayang?”
“Apa jalan keluarnya Bu?”
“Hah…! kita menjual sapi?”
“Kenapa? apakah kau nggak setuju?”
“Bukan itu masalahnya Bu, bukan kah hanya itu ternak kita yang masih tersisa?”
“Kalau Ibu nggak menjualnya, lalu dari mana kita mendapatkan uang untuk membayar semuanya nak.”
“Terserah Ibu sajalah, yang terpenting, kita nggak pusing lagi memikirkan cara dari mana dapat uangnya.”
Siang itu, Maryati langsung menyampaikan niatnya pada Tomi, untuk menjual sapi miliknya.
“Menjual sapi?”
“Iya Bang. Kita jual saja sapi itu satu ekor, nanti uangnya baru kita bayarkan ke hutang Arman.”
“Baiklah, aku setuju saja dengan rencana mu.”
__ADS_1
Di batas akhir perjanjian yang di sepakati Maryati dengan pemilik kolam ikan, mereka semua datang lagi kerumah Maryati sore itu.
“Hari ini sudah jatuh tempo perjanjian kita Bu, sesuai dengan kesepakatan, Ibu harus mengganti rugi sepuluh juta.”
“Uang sepuluh juta, kami nggak punya sama sekali, sementara Arman yang telah meracuni kolam ikan Bapak, hingga hari ini dia tak pernah ketemu. Jadi, kami hanya punya ternak ini untuk mengganti rugi semuanya.”
Sapi itu pun di keluarkan Tomi dari dalam kandangnya, sapi yang gemuk dan sehat itu, hanya mereka bandrol seharga tujuh juta rupiah.
“Karena sapi Ibu ini sehat dan gemuk, kami hanya sanggup memberi harga tujuh juta.”
“O maaf, kalau soal harga kami ngak tahu tentang urusan itu. tapi setelah sapi ini kalian terima, kami nggak punya urusan lagi sama kalian.”
“Nggak bisa gitu dong Bu, hutang kalian kan senilai sepuluh juta, sementara sapi ini hanya tujuh juta, berarti Ibu masih punya hutang tiga juta lagi pada kami.”
“Bukankah tadi sudah Ibu katakan, kalau Ibu nggak punya apa-apa lagi untuk membayar hutang kalian, lagian ini kan bukan tanggung jawab Ibu untuk membayarnya, kalau kalian ingin meminta tambahannya, kalian langsung saja datangi keluarga Arman, nanti akan Ibu beri alamatnya.”
Mendengar jawaban Maryati, beberapa orang di antara mereka bermusyawarah untuk mencari jalan yang terbaik.
“Kalau nggak, begini saja.”
“Apa itu Bu?”
“Kalau kalian nggak mau sapi ini, ya nggak apa-apa, sapi ini akan Ibu tarik kembali aja, nanti kalian cari saja Arman, dan minta ganti rugi padanya, kalau dia nggak mau bayar, maka jebloskan saja dia kedalam penjara.”
“Oh baik, baik Bu, sapi ini saja cukup untuk melunasi semua hutang-hutang Arman.”
Lalu salah seorang di antara mereka menarik sapi itu dari tangan Tomi. Sapi itu di bawa mereka pergi menuju kampung seberang.
Maryati sedikit tenang saat itu, karena semua hutang-hutang mereka sudah lunas. Yang ada di pikirannya, hanya bagai mana cara menyediakan biaya untuk persalinan Tia yang sebentar lagi akan melahirkan.
Satu minggu telah berlalu, dari arah sudut jalan Anisa melihat beberapa orang pria paro baya berjalan menuju ke arah rumahnya.
Nisa hanya diam saja, ketika para pria itu melewati rumahnya. Begitu juga dengan Tia dan yang lainnya, namun setelah pria itu menjauh, pria itu bertemu dengan Jupri, tetangga dekat dengan Maryati.
“Pak numpang tanya?”
“Iya silahkan.”
“Bapak kenal dengan Tomi.”
“Pak Tomi?”
“Iya Pak.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*