Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 110 Hukuman untuk Bima


__ADS_3

“Ibu udah nggak bisa lagi berfikir sekarang, kau katakanlah, Ibu pasti akan membayarnya,” ujar Maryati dengan suara lembut.


“Udah Bang, Ibu itu benar, kalau mereka itu mau membayar semua biaya tinggal mereka disini, cepat katakan berapa biaya Ibu dan Andi selama nginap dan makan dirumah ini!” Timpal Dira dengan senangnya.


“Ibu harus membayar biaya air, listrik dan biaya makan.”


“Baiklah, cukup segini?” tanya Maryati yang langsung meletakkan satu gelang emas di hadapan Bima dan Dira.


Dengan cepat Dira langsung mengambil emas itu. “Alhamdulillah, nah gitu dong, jadi orang tua itu jangan hanya nyusahin doang, begini kan bagus!” ujar Dira senang.


“Sekarang Ibu dan Ayah akan kembali pulang, kalian hati-hatilah hidup di kota yang padat ini, jangan sekali-kali, kalian menipu orang lain, karena buruk akibatnya untuk diri kalian sendiri.”


Dengan perasaan sedih, Maryati, Tomi dan Andi langsung meninggalkan rumah Bima, mereka bertiga pergi dengan sejuta penderitaan. Anak yang selama ini sangat menyayangi Maryati, hari ini dia telah jauh meninggalkan Ibunya.


Sepanjang jalan menuju rumah, Maryati terus saja menangis tiada henti, nasibnya yang telah terpuruk saat itu, semakin hancur oleh ulah anak-anaknya sendiri.


“Ibu. Udahlah, nggak perlu Ibu tangisi lagi Bang Bima, semua ini pasti atas kehendak Allah, kita semua hanya menjalaninya saja, Bu.”


“Yang Ibu sesali itu, kenapa dia bisa setega itu pada Ayah dan Ibunya, bukankah selama ini, Ibu nggak pernah meminta apapun padanya.”


“Iya, aku tahu itu Bu.”


Maryati sungguh tak kuasa membendung air matanya, dia begitu sedih karena dia selalu saja menerima akibat buruk yang di lakukan oleh anak dan menantunya sendiri.


Sementara itu, Bima yang telah ditinggal oleh Ibu dan Ayahnya, dia tampak menangis sedih di dalam kamar, Dira yang melihat suaminya menangis datang untuk menghampirinya.


“Abang kenapa? apakah Abang menyesal karena telah meminta sedikit uang pada mereka berdua?”


“Bukan itu masalahnya Dira.”


“Lalu apa lagi masalahnya? sehingga membuat Abang menangis dan menyesali semuanya?”


“Saat ini Ibu pasti marah sekali pada ku.”


“Itu kan wajar Bang, namanya saja kita salah, ya pasti dimarahi lah!”


“Kau nggak akan pernah mengerti Dira.”


“Nggak pernah mengerti gimana maksud Abang?”

__ADS_1


“Karena kau nggak pernah berbuat jahat pada Papa dan Mama mu.”


“Itu salah Abang sendiri, kenapa Abang melakukan semua itu pada mereka. Padahal Abang tahu kan kalau mereka itu orang tua Abang.”


“Dasar istri nggak berguna, bukankah kau sendiri yang menghasut ku, untuk melakukan ini semua?”


“Iya, masalah ini memang aku yang melakukannya, aku telah membujuk dan menghasut Abang untuk melakukan kejahatan, tapi Abang kan bisa berfikir, kalau mereka itu orang tua Abang, aku nggak pernah memaksa kan?”


“Kurang ajar kau Dira!”


“Sekarang kita telah mendapatkan emas, lalu apa lagi! dengan emas ini, kita bisa bayar listrik dan air, kan sedikit meringankan beban kita Bang.”


Apa pun alasan Dira saat itu, Bima benar-benar merasa bersalah, dia duduk termenung di dalam kamarnya sendirian, air matanya mengalir tak terasa.


Malam hari di saat semua orang sedang tertidur nyenyak, Bima masih saja terbangun, matanya begitu sulit untuk di pejamkan, dari arah pintu Bima melihat seseorang masuk kedalam kamarnya, pria itu mengenakan baju berwarna hitam dan menggunakan penutup kepala.


Saat itu Bima hanya melihat kedua matanya saja, dari kedua matanya, Bima melihat ada api yang menyala. Bima begitu takut sekali, tapi pria itu tetap menghampirinya. Saat itu Bima telah menjerit sekuat-kuatnya, namun Dira tak mau bangun dari tidurnya.


“Tolong! tolong! tolong!” teriak Bima seraya menarik apa saja yang ada di sekitarnya.


Mesti berteriak sekuat apa pun, pria itu tetap saja menghampiri Bima dan memukul tubuh Bima dengan kuat. Saat itu pria itu berkata “Remuk lah kau seluruh tulang belulang.”


Hingga pagi datang Bima masih belum sadarkan diri. Dira yang sudah bangun duluan mencoba membangunkan Bima yang menurutnya masih tertidur pulas semalaman.


Namun setelah Bima terbangun dari tidurnya, Bima mendapatkan tubuhnya tak bisa di gerakkan.


“Oh sakit!” jerit Bima seraya berteriak kesakitan.


“Sakit, sakit apanya Bang?” tanya Dira tak mengerti.


“Tubuh ku terasa begitu sakit.”


“Coba aku bantu untuk duduk, siapa tahu bisa,” ujar Dira seraya membantu Bima untuk duduk.


Akan tetapi alangkah terkejutnya Dira saat itu, karena Dira merasakan seluruh tulang Bima sepertinya berkumpul dalam suatu tempat.


“Astaga!” teriak Dira ketakutan.


“Ada apa Dira?” tanya Bima heran.

__ADS_1


“Apa yang Abang rasakan saat ini Bang?” tanya Dira ingin tahu.


“Rasanya seluruh tulang-tulang Abang remuk Dira.”


“Ya, itulah yang kulihat sebentar ini, sepertinya tulang-tulang Abang menyatu dan terlepas dari ruasnya.”


Saat itu Bima langsung teringat pada Maryati, Ibu yang telah dia sakiti. Namun sesal tak lagi berguna, azab yang di janjikan Allah telah datang kepada Bima.


“Oh, Ibu ampuni dosaku Bu, aku mengaku salah, aku benar-benar anak yang nggak berbakti pada Ayah dan Ibu, saat ini aku telah menerima semua ganjarannya, tolong Ibu maafkan aku, Bu,” rintih Bima sedih.


Di saat Bima merintih dengan air mata penyesalannya, Maryati langsung tersentak dari tidur nyenyak nya. “Ya Allah, apa yang telah terjadi pada Bima? kenapa hati ku selalu saja terpaut padanya?”


Rintihan hati Bima ternyata telah membuat Maryati menjadi gundah, perasaannya tak tenang malam itu, mesti matanya di pejamkan tapi hatinya berusaha untuk menolak.


“Ada apa ini ya Allah?”


Maryati terus saja bicara sendiri pada dirinya, dia tak mengetahui apa yang telah terjadi, tapi batinnya selalu saja gelisah tak menentu. Tomi yang melihat Maryati terbangun dari tidurnya, mencoba untuk bertanya.


“Ada apa Yati? kenapa kau bangun?” tanya Tomi ingin tahu.


“Entahlah Bang, aku nggak tahu apa yang telah terjadi, tapi rasanya terlalu dekat dengan diri ini, sehingga aku tak bisa untuk menghindarinya.


“Tidurlah, barang kali dengan tidur semua perasaan itu segera hilang.”


“Tapi aku sudah mencobanya Bang.”


“Kalau begitu kerjakanlah sholat, biasanya kau rajin mengerjakan sholat malam.”


“Baiklah, aku akan sholat, siapa tahu perasaan itu bisa sirna dari diriku.”


Seperti yang di anjurkan oleh suaminya, Maryati langsung mengerjakan sholat, malam itu, dia mencoba bermunajat pada Allah, atas segala kegundahan yang dia rasakan.


Setelah selesai sholat, Maryati berusaha kembali tidur, namun saat matanya hendak terpejam, Maryati melihat sosok makhluk berjubah hitam mencoba menghampirinya.


“Kau siapa?” tanya Maryati seraya menutup wajahnya dengan kain selimut.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2