Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 15 Hukuman untuk Maryati


__ADS_3

Bagaikan seorang pembantu di rumah Bibinya sendiri, begitulah nasib Maryati, mesti masih berusia empat tahun, namun dia telah di ajarkan bekerja.


Padahal untuk anak-anak seusia Maryati, semestinya mendapatkan kasih sayang yang berlebih dari orang-orang yang memeliharanya, tapi tidak dengan Maryati, dia justru hidup sengsara dan menderita.


Tubuh yang dulu bersih terjaga dan terawat dengan baik, sekarang telah berbalut luka menganga dan bahkan ada yang dihinggapi belatung. Mesti demikian, Roro tetap saja mengabaikannya.


Setelah Maryati berusia lima tahun, pekerjaan gadis kecil itu malah bertambah menjadi lebih berat lagi. Setiap pagi setelah dia bangun dari tidurnya, dia pun harus menumbuk padi, untuk di jadikan beras.


Hal yang berat yang tak semestinya dia lakukan, justru dikerjakannya di usia dini, tangannya yang halus telah berubah menjadi kasar. Saat butiran padi itu telah berubah menjadi Beras, lalu beras itu pun di masak oleh Maryati.


Bukan hanya sampai disitu pekerjaan, gadis kecil ini, dia juga harus mengantarkan semua nasi itu ke sawah, untuk di makan oleh ke sepuluh anak Roro yang kasar dan jahat itu.


Bahkan mereka tak mau menyisakan sedikit pun untuk Maryati. Sementara gadis malang itu, hanya mendapatkan kerak nasi yang tersisa di wadahnya.


Setelah seluruh nasi habis tak bersisa, Maryati pun di suruh segera pulang kerumah, karena di rumah masih ada pekerjaan yang sedang menunggunya.


Dengan cepat dan lincah, kaki mungil itu pun melangkah di tengah pematang sawah yang sempit dan kecil. Setibanya di rumah Maryati harus mengemasi rumah yang sangat besar, menyapu dan mengepel lantai hingga bersih dan mengkilat.


Bukan hanya itu saja, sehabis bersih-bersih, Maryati harus menyapu halaman rumah yang super luas. Namun semua itu di jalani Maryati dengan semangat dan senang hati.


Siang itu, saat Maryati sedang menyapu halaman belakang, tiba-tiba saja dia mendengar suara anak-anak tertawa di luar tembok yang tinggi itu.


“Hm..! ada apa ya, di luar sana? kenapa begitu ramai sekali?” tanya Maryati pada dirinya sendiri.


Tak ingin menjadi beban dalam pikirannya, Maryati pun mencoba mengintip keluar tembok, lewat celah yang sempit.


Saat di lihat keluar, Maryati melihat begitu banyak anak-anak sebayanya sedang berlari dan bermain bersama, mereka semua mengenakan pakaian yang bagus dan bersih.


Dari dalam sebuah rumah yang di kelilingi kaca yang bening, seorang pria tampak berdiri seraya memegang sebilah rotan yang panjang.


“Lagi ngapain pria itu, kenapa dia memegangi rotan?” tanya Maryati sembari terus mengintip keluar tembok.


“Anak-anak, semuanya segera masuk kedalam!” perintah pria itu dari dalam rumah kaca yang di lihat oleh Maryati.


Lalu semua anak-anak yang sedang bermain itu pun berlarian masuk kedalam, di dalam rumah kaca itu tampak anak-anak belajar sesuatu. Pria tua itu seperti sedang menulis sesuatu di papan tulis.


“Apakah kalian tahu huruf apa ini?” tanya pria tua itu.


“Alif!” jawab anak-anak serentak.


“Kalau kita beri baris di atasnya, lalu di baca apa?”

__ADS_1


“A.”


“Jika kita memberi baris di bawahnya, menjadi apa?”


“I.”


“Kalau barisnya di depan, dia sebut?”


“U.”


“Jadi kalau di sambung menjadi?”


“A, I, U.”


“Ya benar,” ucap pria itu seraya tersenyum lebar.


“Ooo, kalau berdiri seperti lidi, disebut Alif, rupanya. Dan jika di sambung menjadi A, I, U.”


“Maryati…! lagi ngapain kau disitu, mau Bibi jewer telingamu.”


Kedatangan Roro yang tiba-tiba, membuat jantung Maryati berhenti berdetak seketika.


“Nggak Bi,” jawab Maryati dengan suara pelan.


“Nggak ada apa-apa kok, Bi.”


“Bohong, kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari Bibi.”


“Nggak Bi, aku nggak menyembunyikan apa pun dari Bibi.”


“Awas kalau kau bohong, Bibi akan gunting lidah mu sampai putus.”


Mendengar ancaman dari Bibinya, Maryati hanya diam saja, namun keesokan harinya Maryati melakukan hal yang sama lagi, lagi dan lagi, hingga akhirnya dia hafal seluruh huruf hijaiyah dengan sendirinya.


Saat Maryati mencoba menulis huruf itu satu persatu, tanpa sengaja Roro pun melihatnya, dia begitu terkejut sekali karena tanpa sepengetahuannya Maryati bisa menulis huruf hijaiyah.


“Kurang ajar! kau dapat di mana tulisan ini, hah?”


“Aku mendapatkannya sendiri Bibi.”


“Bohong! kau pasti telah mempelajarinya dari seseorang!”

__ADS_1


“Nggak Bi, aku mendapatkannya sendiri,” jawab Maryati berbohong.


“Baik, kalau kau tetap saja berbohong, Bibi akan memukul kaki mu sampai berdarah,” ujar Roro sembari melibas kaki Maryati hingga berdarah-darah.


Roro memang kejam, bahkan dia tak merasa berbelas kasihan sedikit pun pada Maryati, seorang anak yatim piatu. Setelah Roro selesai mencambuk keponakannya itu hingga tak berdaya, lalu dia pun mengurung Maryati di kamarnya tanpa di beri makan selama dua hari.


Selama Roro tak memberinya makan, selama itu pula Maryati menangis siang dan malam karena kelaparan.


“Ampun kan aku Bi, kasih aku makan, sedikit saja.”


“Nggak, itu hukuman bagi orang yang telah menipu Bibi,” jawab Roro sembari mengunci pintu kamar Maryati dari luar.


Setelah pintu kamar itu di pastikan terkunci dari luar, lalu Roro pun pergi meninggalkan Maryati sendiri di dalam rumah. Lalu tiba-tiba saja kejadian aneh terjadi di saat Maryati memohon sesuatu.


“Ibu, aku lapar, beri aku makan dari surga,” rintih Maryati pelan.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar Maryati pun terbuka dengan sendirinya, padahal tak seorang pun yang berada di dalam rumah itu.


“Hah, siapa yang telah membukakan pintunya?” tanya Maryati pada dirinya sendiri.


Lalu dengan pelan, gadis kecil itu pun mencoba melangkah keluar, kaki dan tubuhnya yang penuh dengan luka cambuk tampak berbau amis dan busuk, luka itu bahkan mengeluarkan nanah, karena basah dan kotor.


Mesti terasa begitu sakit, namun Maryati tak lagi memperdulikannya, dia terus saja melangkah menuju meja makan, ketika tudung saji itu di bukanya, tak sedikit pun nasi dan sambal yang tersisa di sana.


“Oh Bibi, kau begitu jahat dan kejam sekali pada ku,” gumam Maryati dengan suara pelan.


Kemudian Maryati pun pergi ke dapur, untuk melihat sisa nasi yang masih ada, sama seperti di meja makan, di dapur pun Maryati tak menemukan apa-apa.


Seraya berjalan pelan dengan tertatih-tatih, Maryati pun pergi ke sawah yang letaknya agak sedikit jauh dari kebun Bibinya. Tak kuat untuk melangkah, Maryati pun duduk di bawah pohon mengkudu yang tumbuh di pinggir sawah.


“Oh, apa yang mesti aku lakukan, aku sangat lapar sekali, beri aku makanan surga mu Ibu, aku begitu lapar sekali, sudah dua hari Bibi nggak memberi ku makan,” rintih Maryati dengan deraian air mata.


Tak berapa lama kemudian, sebuah mengkudu jatuh menimpa tangannya yang gemetar.


“Oh, buah apakah ini, apakah ini buah yang di kirim Ibu dari surga?” tanya Maryati sembari mengigit buah mengkudu itu dengan pelan.


“Aah, ternyata rasanya asam, tapi tak apalah, yang terpenting perut ku bisa kenyang dan nggak lapar lagi.”


Setelah mengenyam sebuah mengkudu, lalu Maryati mencoba untuk mengambilnya satu lagi, hingga empat buah mengkudu pun habis di makannya.


Sungguh di luar dugaan, dengan memakan empat buah mengkudu, Maryati bisa berdiri dengan tegap, hilang seketika rasa lemah di tubuhnya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2