
Tak terasa, waktu pun terus berjalan, berlalu seiring dengan hari yang telah di lewati. Begitu juga dengan kedua putri Arya dan Kenanga, mereka berdua tumbuh sehat dan cerdas.
Tepat di saat Maryati berusia tiga bulan, Kenanga, ibu tercinta mereka berdua telah berpulang ke rahmatullah, Kenanga pergi dengan meninggalkan dua orang putri yang masih kecil-kecil, waktu itu Sulastri masih berusia tiga tahun lebih.
Kepergian Kenanga membuat hati Arya menjadi tergoncang, karena saat itu Kenanga pergi tanpa ada mengeluh rasa sakit sama sekali.
Arya menangis siang dan malam tiada henti, air matanya tercurah membasahi bumi. Begitu juga dengan karyawan dan keluarga Kenanga yang lainnya, mereka semua juga merasa kehilangan.
Lain halnya dengan Roro kedasih, mesti kabar berita itu telah terdengar di telinganya, namun perempuan muda itu tak pernah memperdulikannya, dia bahkan tak datang sama sekali untuk melayat kerumah duka.
Tujuh hari masa berkabung telah usai, di rumah mewah itu hanya tinggal Arya beserta kedua putrinya, Tini istri Mang Burhan selalu setia merawat dan menjaga kedua putri Kenanga dengan seluruh jiwa dan raganya.
Dengan bantuan Tini, kedua putri Kenanga tumbuh sehat dan cerdas. Melihat kedua putrinya tumbuh sehat, Arya pun mulai bangkit dari keterpurukannya, Arya tak ingin duka yang dia rasakan akan berimbas dengan mental kedua putrinya itu.
Suatu hari ketika Sulastri berusia lima tahun dan Maryati berusia dua tahun, Arya membawa keduanya mengunjungi Roro kedasih di Desa tempat tinggalnya.
Ketiganya datang dengan menaiki kereta kuda yang di kendarai oleh Mang Ujang. Setibanya mereka bertiga di depan rumah mewah milik Roro, beberapa orang anak langsung berlarian ke depan pintu besi dan menutup pintu itu dengan rapat sekali.
“Assalamu’alaikum,” sapa Arya dengan suara lembut.
“Wa’alaikumsalam, kalian siapa dan mau apa datang kesini?”
“Aku paman kalian, Arya Diningrat.”
“Arya Diningrat, siapa itu Arya Diningrat? Kami semua nggak ada yang tahu.”
“Apakah Ibu mu, nggak pernah menceritakan pada kalian kalau dia punya seorang Kakak?”
“Nggak.”
“Baiklah, kalau begitu tolong kalian panggilkan Ibu kalian, Paman ingin bertemu dengannya.”
“Enak aja, emangnya Bapak ini siapa? Berani-berani memerintahkan kami.”
“Bukankah tadi saya sudah katakan, kalau saya ini Paman kalian!” jawab Arya dengan suara sedikit keras.
“Dasar nggak punya etika!” jawab salah seorang anak Roro.
“Ayo sana! panggil Ibu kalian!”
Mendengar perintah Arya yang sedikit keras, salah seorang dari anak Roro langsung bergegas menuju rumahnya untuk memanggil Roro.
“Ibu, di luar sana ada orang yang datang mencari Ibu.”
“Siapa dia?”
__ADS_1
“Kagak tahu, tapi dia itu ngaku-ngaku sebagai Paman ku.”
“Paman mu?”
“Iya Bu.”
“Kau tahu siapa namanya?”
“Namanya Arya, Arya, Arya siapa ya, aku kagak ingat lagi.”
“Dia itu Arya Diningrat.”
“Iya, Ibu benar, pria itu bernama Arya Diningrat.”
“Baiklah, suruh dia masuk.”
“Baik Bu.”
Setelah mendapat izin dari Ibunya, Anak itu pun langsung berlari menemui Arya dan kedua putrinya.
“Kau di izinkan masuk oleh Ibu ku, tapi ingat jangan macam-macam.”
“Astaghfirullah! punya anak kok judes semua, kalau aku mah, ogah mendekat kerumah mewah itu, lebih baik disini saja,” jawab Mang Ujang seraya duduk di kereta kuda.
Sedangkan Arya bersama kedua putrinya langsung masuk kedalam dengan tenang dan santai.
“Wa’alaikum salam,” jawab Roro dengan suara kasar.
Setelah Arya masuk, dia pun langsung menyuruh kedua putrinya untuk menyalami Roro yang berdiri tegak di depan pintu.
“Ayo sayang, kau salami Bibi mu dulu.”
Saat kedua tangan anak-anak Arya hendak menyalami Roro, perempuan itu langsung menghindar.
“Nggak perlu bertata krama, sekarang kau katakan saja apa mau mu datang menemui ku?”
“Sebenarnya tujuan ku datang kesini, untuk menitipkan kedua orang putri ku ini.”
“Apa! menitipkan kedua putrimu?”
“Benar Dek.”
“Apakah aku nggak salah dengar?”
“Kenapa kau bicara seperti itu?”
__ADS_1
“Bukankah selama ini kau kaya, kenapa nggak kau pelihara saja pembantu untuk mengurusi mereka berdua, atau menikah barang kali!”
“Aku sudah berjanji pada diri ku, setelah kepergian Kenanga, aku nggak akan mencari ganti lagi.”
“Ya sudah! kalau begitu, kau siap untuk merawat kedua putri mu itu.”
“Ya sudah, kalau kau nggak bersedia merawat mereka, ya…! nggak apa-apa.”
Emang begitu, aku nggak mau merawat anak-anak mu Kang Mas, kau kira aku ini pembantu apa!”
Mendengar jawaban dari Roro Kedasih, sebenarnya hati Arya begitu sakit sekali, namun dia tak dapat berbuat apa-apa.
“Ternyata kau nggak berubah Dek, dari dulu sampai sekarang, Kang Mas masih melihat sifat jahat mu itu masih kau pakai hingga saat ini.”
“Kalau iya emangnya kenapa? kau nggak suka! kalau nggak suka silahkan kau keluar dari rumah ku ini, karena kau tau sendiri kan Mas, rumah ku ini bukan panti asuhan. Sekarang bawa kedua putri mu itu keluar dari rumah ku ini.”
“Ayo nak, kita kembali saja kerumah,” ajak Arya pada kedua putrinya.
“Baik Ayah,” jawab Lastri dan Maryati dengan suara lembut.
Melihat mata bibinya yang melotot tajam kearah mereka berdua, Maryati dan Lastri tampak begitu takut. Dengan erat dipegangnya tangan Ayahnya yang siap untuk berangkat meninggalkan rumah mewah bak istana itu.
Tak berapa jauh dari rumah mewah itu, kemudian Arya menoleh ke belakang. Di pandanginya rumah Roro dalam-dalam, tak terasa menetes air matanya. Di dalam lubuk hati Arya yang paling dalam Arya pun berkata.
“Apa sebenarnya yang telah terjadi pada adik ku Roro kedasih ya Allah, kenapa dia begitu kasar dan bengis. Mana suaminya, kenapa aku nggak melihatnya di dalam rumah itu? aneh, apakah mereka telah bercerai?” tanya Arya pada dirinya sendiri.
Saat keluar dari pekarangan rumah Roro, Arya melihat ada sebuah warung kopi, ke sanalah dia mengajak kedua putrinya, untuk mencari makanan ringan sekaligus mencari informasi tentang keluarga Roro.
“Ayah, emangnya perempuan itu siapa?” tanya Lastri ingin tahu.
“Dia itu Bibi mu, nak.”
“Kenapa dia terlihat begitu kejam dan jahat?"
“Karena itu adalah sifat Bibi mu.”
“Hiii…! aku ogah, jika tinggal bersama Bibi, lebih baik jadi gelandangan dari pada tinggal bersama orang jahat,” ucap Lastri seraya mengangkat kedua bahunya.
“Ssst…! nggak baik bicara seperti itu nak.”
“Kan emang benar, Bibi itu terlihat seperti orang yang sedang kehausan darah.”
“Udah, udah. Nggak perlu di bahas lagi, kalau Lastri dan Maryati nggak mau tinggal bersama Bibi, ya nggak apa-apa, Ayah nggak maksa kok,” jawab Arya pelan.
Mendengar percakapan Arya bersama kedua putrinya, Mang Ujang berusaha menangkap apa yang sedang mereka perbincangkan.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*