Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 87 Teluh


__ADS_3

“Kenapa mesti kesana, bukankah rumah orang tuanya di sini?”


“Aku nggak tahu Ayah, tapi sepertinya mereka memang tak ingin mampir kesini.”


Hati Maryati dan Tomi merasa sedih sakali saat itu, karena perubahan Tia dan suaminya terlihat jelas di mata mereka.


Bukan hanya sekali mereka lakukan, bahkan hal itu terjadi berulang-ulang kali. Tak tahan dengan perbuatan kedua putrinya, Maryati datang menegur Leni.


“Kenapa aku yang mesti Ibu salahkan? marahkan aja Kak Tia, bukankah dia sendiri yang ingin ke rumah ku.”


“Ibu yakin pasti kau dan suami mu yang telah menghasutnya.”


“Kok Ibu bicara seperti itu.”


“Sebelumnya Tia dan suaminya tak seperti itu, tapi akhir-akhir ini, Ibu merasakan keanehan pada mereka.”


“Keanehan gimana maksud Ibu?”


“Mereka berdua bahkan nggak mau menemui kedua orang tuanya jika pulang ke sini.”


“Tapi aku nggak menghasut mereka Bu.”


“Mungkin kau nggak tapi suami mu?”


“Bang Rijal!” gerutu Leni pelan.


Leni memang tak tahu sama sekali, kalau kehadiran Tia dan suaminya, itu semua karena hasutan Rijal. Setibanya Leni di rumah dia pun menghampiri suaminya yang saat itu sedang makan.


“Kenapa cemberut?” tanya Rijal heran.


“Katakan pada ku, apa yang telah Abang lakukan pada Kak Tia dan suaminya.”


“Maksud mu apa? aku nggak mengerti?”


“Aku heran, sebelumnya Kak Tia dan suaminya datang, dia nggak pernah ke rumah ini. Tapi akhir-akhir ini, setiap datang, mereka selalu ke rumah ini.”


“Jadi kau menuduh aku yang menghasut Kakak mu itu?”


“Heh Bang, aku tahu betul siapa Bang Novri itu, dia itu orang baik, bukan seperti Abang.”


“Apa maksud mu, Leni?”


“Aku yakin Abang yang telah menghasut Bang Novri, sehingga dia jauh berubah.”


“Terserah mu, kau selalu saja menyalahkan aku.”


“Emang benar seperti itu kan?”


“Terserah!” jawab Rijal emosi.

__ADS_1


“Kau emang laki-laki jahat Bang, semua orang kau pengaruhi untuk membenci keluarga ku,” gerutu Leni sendirian.


Leni benar-benar kesal melihat suaminya itu, setiap hari ada saja yang di sampaikannya pada orang tentang keburukan keluarganya, terutama sekali Maryati yang di anggap sangat berbahaya.


Lalu secara diam-diam, Rijal pergi menemui seorang dukun untuk mengirim teluh pada Maryati. Rijal benar-benar menginginkan Maryati itu bisa bungkam untuk selamanya.


“Bukankah dia itu Ibu mertua mu?”


“Benar Pak, tapi aku begitu kesal padanya.”


“Kesal? kesal kenapa?”


“Karena dia itu selalu saja ikut campur urusan rumah tangga ku dan anaknya.”


“Lalu apa yang kau inginkan?”


“Buat dia menyesali semua ucapan yang pernah dia katakan pada ku.”


“Baik, untuk itu kau harus membayar lebih pada ku.”


“Nggak masalah, berapa pun yang Bapak minta nantinya, maka aku akan mengeluarkan uangnya.”


“Baik tunggulah sebentar.”


Seraya menunggu dukun itu menjampi sesuatu, Rijal tampak duduk dengan resah di ruang tunggu. Dia berjalan hilir mudik tak tahu arah, seraya mengepal tinjunya.


Beberapa saat menunggu di ruang yang telah di tentukan, lalu Dukun itu pun keluar dari dalam ruangannya. Di tangan dukun itu ada segenggam daun dan duri yang begitu banyak di dalam sebuah wadah.


Rijal yang menunggu begitu lama, terlihat sangat senang saat dukun itu datang mengahampirinya, seraya menyerahkan semua yang ada di genggaman tangannya.


“Kau kuburkan ini di depan pintu masuk rumahnya, tapi saat kau menanamnya, kau harus membayangkan wajah Ibu mertuamu itu, agar teluh yang kau tanam tak mengenai yang lainnya.”


“Baik Pak,” jawab Rijal seraya menganggukkan kepalanya.


Dengan senang hati Rijal pun membawa obat itu pulang kerumahnya. Saat tengah malam, ketika semua orang sedang tertidur pulas, Rijal terjaga dan langsung mengambil obat itu, serta membawanya ke depan rumah mertuanya.


Dia berjalan mengendap-endap, seperti seorang maling yang hendak mencuri sesuatu, sambil membayangkan wajah Ibu mertuanya, lalu Rijal menanam obat itu tepat di depan rumah Maryati.


Hati Rijal begitu puas saat itu, karena obat yang dia dapatkan telah berhasil di tanam di depan rumah Maryati, setelah selesai lalu dia bergegas pulang kerumahnya dan kembali tidur. Ketika dia hendak tidur, tiba-tiba saja Leni melihatnya.


“Kau dari mana Bang?” tanya Leni ingin tahu.


“Dari luar.”


“Ngapain malam-malam begini keluar?”


“Cari angin, gerah sekali di dalam.”


Leni yang tak tahu apa-apa, dia tak menaruh curiga sedikit pun terhadap suaminya, dengan santai dia pun kembali tidur bersama putranya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Maryati yang telah mondar mandir keluar masuk rumah, tak menyadari sama sekali kalau Rijal telah menaruh sesuatu di depan pintu rumahnya.


Sesuai dengan rencana dukun yang mengirimkan teluh itu, tepat pada waktu tengah hari maka seluruh bagian leher Maryati terasa begitu panas dan gatal, Maryati yang tak tahu kalau itu adalah teluh hasil perbuatan menantunya sendiri.


“Ibu kenapa?” tanya Nisa yang melihat Ibunya tak henti-hentinya menggaruk di bagian leher.


“Kau lihat leher Ibu nak?”


“Iya, leher Ibu terlihat merah sekali.”


“Gatal sekali rasanya, Ibu bahkan sudah mengolesinya dengan obat gosok, namun tetap saja terasa gatal dan panas.”


“Kalau begitu Ibu mandilah dulu, siapa tahu, Ibu terkena miang tanaman.”


“Baiklah, Ibu akan mandi dulu,” jawab Maryati seraya bergegas menuju kamar mandi.


Setelah dia selesai mandi, rasa gatal itu bukannya berkurang, justru semakin panas dan terlihat merah. Maryati terus saja menggaruknya, hingga berdarah.


“Gimana ini nak, Ibu rasanya udah nggak tahan dengan gatalnya?”


“Apa yang mesti kita lakukan, aku juga nggak tahu Bu.”


Bukan hanya sedikit, bahkan gatal itu memenuhi seluruh leher Maryati, sehingga terlihat merah dan luka.”


“Ayah, lihat lah leher Ibu, gatal dan merah,” ujar Nisa pada Ayahnya.


“Alah...! paling, kena gigit ulat.”


“Tapi gatalnya nggak hilang-hilang Ayah.”


“Kasih obat gosok, nanti juga sembuh sendiri.”


“Ayah, bukannya ngasih solusi, Ayah bahkan nggak percaya sama sekali,” gumam Nisa kesal.


“Emangnya sejak kapan Ibu mu mengalami penyakit gatal itu Nisa?”


“Semenjak tadi siang Ayah.”


“Baru tadi siang, kok sudah heboh satu kampung.”


“Bukan heboh satu kampung Ayah, tapi kelihatannya sakit Ibu ini serius.


Karena suaminya tak percaya dengan apa yang di derita istrinya, Maryati terpaksa menanggungnya sendirian. Bukan hanya satu hari itu Maryati menderita, namun penyakit gatal itu bahkan telah menggerogoti leher Maryati selama satu bulan.


Tak hanya sekedar gatal saja, bahkan leher itu sudah mulai membusuk dan menanah karena di garuk. Mesti menderita seperti itu, Maryati tetap saja berserah diri pada Allah, dia tak mau berburuk sangka pada orang lain, siapapun orangnya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2