
Ketika salah seorang pemburu itu turun kebawah, alangkah terkejutnya dia ketika melihat air sawah itu berubah menjadi merah dan berbau amis.
“Hei teman-teman, coba kalian lihat, pantasan anjing kita tampak begitu gelisah, ternyata air ini berbau amis!”
seru seorang pemburu yang baru saja turun ke bawah.
Mendengar teriakan temannya, beberapa orang pemburu langsung turun kebawah, untuk melihat langsung apa yang di saksikan oleh temannya itu.
“Ya benar, pasti telah terjadi sesuatu di tempat kita lewat tadi.”
“Ya, mari kita telusuri aliran air ini.
Karena mereka begitu yakin telah terjadi sesuatu, makanya mereka semua pun kembali menyusuri aliran air itu ke atas, di tempat mereka semua melewatinya.
Benar saja, sekitar lima meter keatas, mereka semua menemukan Maryati tergeletak pingsan bersimbah darah.
Melihat anjing mereka pada menggonggong, para pemburu itu pun langsung turun kebawah, di sanalah mereka menemukan Maryati.
“Hei teman-teman, lihat sepertinya ada mayat di bawah sana!”
“Mayat? mayat siapa?”
“Aku nggak tahu, kalau begitu mari kita lihat ke bawah, siapa tahu kita masih bisa menolongnya.”
“Benar, mari kita turun.”
Dengan pelan para pemburu itu pun turun ke saluran air, mereka memeriksa nadi Maryati yang bergelimang dengan darah dan tanah persawahan.”
“Hei, ternyata gadis ini masih hidup, mari kita angkat dia ke atas sana.”
“Baik, tapi kita bersihkan dulu lumpur dan darah yang ada di tubuhnya.”
Lalu mereka pun membersihkan tubuh Maryati secara bersama-sama, setelah tubuh itu bersih Maryati langsung mereka angkat ke atas.
“Siapa yang tega melukai gadis kecil ini ya?”
"Nggak tahu, sepertinya kejadian ini tadi siang, sebab dia terlihat begitu pucat sekali.”
“Kalau begitu, cepat kita bawa dia kerumah kepala Desa.”
“Baik, ayo.”
Secara bersama-sama, tubuh Maryati pun mereka gotong menuju rumah kepala Desa, di sepanjang jalan semua warga menyaksikannya, ucapan sumpah serapah pun tak henti-hentinya mengalir dari mulut semua orang yang tega melakukan hal sekeji itu.
Setibanya mereka semua di depan rumah kepala Desa, tubuh Maryati langsung mereka taruh di depan rumah itu. Pak Kades yang melihat kejadian itu langsung terkejut.
“Ya Allah, anak gadis siapa ini?”
“Kami nggak tahu Pak, tadi kami semua menemukannya di tengah persawahan dan udah nggak sadarkan diri dengan luka di sekujur tubuhnya.
Mendengar ucapan salah seorang pemburu itu, Pak Kades langsung menghampiri Maryati dan membuka sebagian bajunya dengan pelan.
“Ya Allah, berarti telah terjadi percobaan pembunuhan pada gadis ini.”
“Iya Pak Kades, lihatlah luka sobekan senjata tajam hampir menyayat sekujur tubuhnya.”
“Ya, baiklah, kalau begitu kita bawa saja dia ke rumah sakit, seperti nya anak gadis ini mengalami penyiksaan yang hebat.
“Iya Pak Kades.”
__ADS_1
“Kalau begitu, untuk efek jeranya kita harus laporkan kejadian ini ke pihak berwajib.”
“Baik, kalau masalah itu, biar saya yang melapor Pak,” ujar salah seorang pemburu.
“Baik lah, berarti tugas ini kau yang memegang. “
“Baik Pak.”
Lalu salah seorang pemburu itu, pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang sedang menimpa Maryati.
“Dimana anak itu saat ini?”
“Ada Pak, sekarang dia ada di rumah Pak Kades kami.”
“Baik kalau begitu, mari kita lihat kondisi anak itu sekarang.”
“Baik Pak.”
Di kawal beberapa orang petugas polisi, mereka pun menuju rumah Kepala Desa Cempaka. Melihat kehadiran polisi kerumah Kepala Desa, beberapa orang penduduk sekitar datang berbondong-bondong untuk menyaksikan kejadian yang di alami Maryati.
“Ada apa sih jul?” tanya Neli ingin tahu.
“Katanya ada seorang gadis yang jadi korban pembunuhan.”
“Korban pembunuhan?”
“Iya, saat ini gadis itu sedang berada di Puskemas.”
“Jadi, polisi itu ngapain dia kesini?”
“Nggak tahu, mungkin ada keperluan kali sama Pak Kades.”
“Ooo, gitu.”
“Ayo Jul, kita ikuti mereka.” Ajak Neli.
“Emangnya mereka itu pada kemana?”
“Pasti ke Puskesmas.”
“Baik, mari kita kesana.”
Lalu Juli bersama Neli beserta para warga lainnya datang beramai-ramai menuju Puskesmas. Setibanya mereka di puskesmas, ternyata telah banyak warga yang berdatangan.
“Kayaknya kita terlambat lho, Jul. Lihat, semua warga sudah pada berdatangan ke Puskesmas.”
“Iya, Nel, semuanya pasti ingin melihat langsung kondisi anak itu.”
Dengan berdesak-desakan semua warga berusaha untuk bisa menerobos masuk kedalam Puskesmas, mereka semua ingin menyaksikan langsung kondisi Maryati yang tak sadarkan diri itu.
“Apakah kalian ada yang mengenali gadis ini?” tanya seorang pimpinan polisi pada warga yang hadir di puskesmas itu.
Satu persatu para warga di beri izin masuk kedalam untuk mengenali wajah Maryati. Setelah sekian banyak warga yang melihat wajah Maryati, tak seorang pun di antara mereka yang dapat mengenali wajah Maryati.
“Kami nggak mengenalinya Pak,” jawab Siti pelan.
“Benar kalian semua nggak ada yang mengenalinya?”
“Benar!”
__ADS_1
Karena semua warga tak ada yang mengenali Maryati, lalu salah seorang polisi mendatangi pemburu yang saat itu masih berada di depan Puskesmas.
“Bapak tadi yang melaporkan gadis itu pada kami kan?”
“Benar Pak.”
“Apakah Bapak masih ingat, di mana kalian menemukan gadis itu?”
“Masih Pak.”
“Apakah lokasinya jauh dari Desa ini?”
“Jauh Pak, ada sekitar lima kilo meter dari sini.”
“Menurut Bapak, Desa mana yang letaknya lebih dekat dari penemuan gadis ini?”
“Desa Sekar dan Desa punjung Pak.”
“Diantara kedua Desa itu, Desa mana yang lebih dekat dari penemuan gadis ini?”
“Sepertinya Desa punjung Pak.”
“Baik kalau begitu mari kita ke Desa punjung terlebih dahulu.”
“Lalu polisi dan beberapa orang anak buahnya langsung mendatangi Desa punjung seraya membawa foto wajah Maryati.
Sama dengan penduduk Desa Cempaka, Desa punjung juga tak mengenali Maryati, begitu juga dengan semua Desa yang mereka kunjungi, mereka semua tak ada yang mengenal Maryati.
Karena semua penduduk Desa tak ada yang mengenali Maryati, lalu Polisi menyebarkan selebaran foto Maryati dan di letakkan di pinggir jalan serta di semua pepohonan.
Saat sore telah tiba, ketika anak-anak Roro pulang kerumah, mereka melihat foto Maryati terpampang di setiap pohon dan tiang.”
“Ya ampun, Kak lihat, sepertinya itu wajah Maryati?” Teriak Dion dengan suara lantang.
“Iya benar, itu sepertinya wajah Maryati, tapi kok bisa di pampang disini ya?”
“Aku nggak tahu.”
“Tapi Kak, sepertinya dia sedang dirawat di rumah sakit.”
“Iya benar.”
“Lihat ada tulisannya juga.”
“Sayang kita semua nggak ada yang bisa baca tulis, jadi kita nggak tahu apa bacaannya.”
Di saat mereka semua sedang asik memperhatikan foto Maryati, lalu salah seorang warga melintas di tempat itu.
“Heh, Pak, sini sebentar.”
“Ada apa nak?”
“Bapak bisa baca?”
“Bisa, emangnya baca apa?”
“Bacakan tulisan ini untuk kami Pak.”
“Ooo, baiklah.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*