
Mulai dari kalung yang berlapis-lapis, gelang tangan yang tak terhitung banyaknya, cincin yang telah mengisi kesepuluh jemari tangannya, bahkan gelang kaki yang di pakai Yana, juga begitu banyak.
Mesti demikian, Yana masih saja merasa kurang, harta yang begitu banyak ternyata tak membuat hidupnya bahagia, dua puluh tahun membina rumah tangga bersama Tomi telah membuat hidupnya begitu sepi.
Karena tak ada tangis seorang bayi di rumah itu, tak ada gelak dan tawa seorang anak di antara mereka berdua. Lama-kelamaan ternyata hal itu membuat mereka berdua menjadi jenuh dan bosan.
Tomi yang saat itu baru pulang dari bertugas, di panggil oleh Yana, untuk membahas masalah yang sudah lama mereka hadapi.
“Rasanya aku sudah nggak kuat menghadapi semua cobaan ini Bang.”
“Apa maksud mu sayang?”
“Rasanya sudah dua puluh tahun aku menanggung beban yang tak pernah ada jawabannya, hari ini kita berdua mesti memutuskan apakah rumah tangga kita ini terus berlanjut atau kah akan kita akhiri sampai disini saja.”
Tomi sangat terkejut mendengar perkataan Yana, sungguh di luar dugaannya selama ini, kalau Yana begitu cepat mengambil keputusan yang sudah lama tak ingin mereka bahas.
“Semuanya terserah kamu saja.”
“Maksud Abang?”
“Abang udah ikhlas apa pun yang akan menjadi keputusan mu saat ini.”
“Kalau keputusan ku yang Abang tanya saat ini, aku ingin kita pisah saja Bang.”
“Apakah semua itu telah kau pikirkan sayang?”
“Udah Bang, aku bahkan udah memikirkan hal ini begitu lama sekali.”
“Baiklah, karena kau telah memutuskannya, Abang juga akan memutuskan jalan yang terbaik untuk kita berdua, tapi Abang butuh waktu untuk itu.”
“Abang butuh waktu berapa lama untuk berfikir?”
“Satu malam saja.”
“Baiklah, akan ku izinkan Abang berfikir dalam satu malam ini.”
Untuk mengambil keputusan yang begitu berat, Tomi mencoba merenungkan diri malam itu, sungguh dia tak punya alasan untuk menolak permintaan Yana. Mesti terasa begitu sulit berpisah dari orang yang sangat dia cintai, namun itu sudah menjadi takdir mereka.
Pagi-pagi sekali, Yana sudah menghampiri Tomi, untuk meminta jawaban dari keputusan yang dia pikirkan semalaman.
“Gimana Bang? apakah Abang udah mendapat jawabannya?”
“Belum sayang.”
“Kenapa begitu lama sekali? bukankah Abang meminta waktu satu malam untuk membuat keputusan?”
“Apakah secepat itu, Abang harus memberi jawaban untuk mu?”
“Iya, Bang.”
“Apakah nggak ada perasaan sedikit pun dihati mu pada Abang?”
“Perasaan tentu ada, namun untuk saat ini perasaan itu sudah ku kunci rapat untuk pernikahan kita ini.
“Benarkah.”
“Abang nggak perlu cemas, seluruh harta yang kita miliki akan kita bagi dua secara rata, lagian aku nggak merasa keberatan kok, jika Abang harus menikah lagi dengan wanita lain.”
“Secepat itukah kau mengambil keputusan untuk hal seberat ini?”
“Itu kan menurut Abang, bagi ku ini
hanya masalah pertukaran Bang.”
__ADS_1
“Maksud mu masalah pertukaran, gimana?”
“Abang menikah lagi dengan wanita lain, aku juga akan menikah lagi dengan pria lain. Impas kan?”
Sungguh begitu gamblang sekali Yana bicara waktu itu, tak sedikitpun rasa sedih tampak di raut wajahnya yang cantik dan putih, Tomi yang mendengar keputusan itu tak dapat menolaknya sama sekali.
“Baiklah, kalau begitu mulai besok Abang akan keluar dari rumah ini, soal harta kita berdua, Abang serahkan pada Yana yang membaginya, nanti kalau semuanya telah beres, maka Abang akan datang lagi kesini untuk menagihnya.”
“Baik Bang.”
Dengan menggunakan seragam lengkap, Tomi pun turun dari rumah mewah itu, tak satupun harta yang dia bawa selain seragam yang di kenakan nya.
Dalam kesatuan, Tomi yang di kenal suka humor dan terbuka itu, tiba-tiba saja menjadi pendiam dan tak banyak bicara. Kesedihan hati semakin hari semakin tersirat dari raut wajahnya.
“Ada apa Tom?” tanya Dodo yang melihat Tomi tak bersemangat dalam bertugas.
“Aku pisah sama Yana, Do.”
“Pisah? apakah kalian punya masalah?”
“Nggak.”
“Lalu kenapa pisah?”
“Masalahnya satu Do, tapi sangat besar pengaruhnya dalam rumah tanggaku bersama Yana.”
“Apa itu?”
“Anak.”
Dodo yang mendengar Tomi berkata seperti itu, dia tampak diam saja, karena itu semua merupakan masalah dalam rumah tangga sahabatnya itu, yang orang lain tak bisa ikut campur di dalamnya.
“Kalau itu sih, aku nggak bisa ikut campur Tom.”
“Aku tahu, itu sebabnya aku diam saja.”
‘Udah jalan selama satu minggu Do.”
“Kalau gitu, rumah makan kalian nggak jalan lagi dong?”
“Nggak tahu, sejak aku keluar dari rumah itu, aku belum pernah kembali kesana.”
“Lalu bagai mana dengan hartamu yang sebanyak itu?”
“Kami sepakat akan membagi dua sama banyak Do.”
“Ooo, begitu.”
Ikhlas tak ikhlas, Tomi mesti melepaskan Yana, karena Tomi tak punya alasan yang bisa dia pertahankan untuk tetap bersama orang yang dia cintai.
Dua bulan telah berlalu, Tomi yang awalnya tampak sedih karena berpisah dari Yana, saat itu telah berangsur-angsur membaik.
Dia tak lagi sibuk memikirkan orang yang telah berpisah dengannya. Suatu hari Tomi bersama Yoga pergi bermain ke stasiun senen, sambil menikmati segelas kopi panas, Tomi terus saja memperhatikan Maryati yang sibuk melayani para pembeli.
“Sabar sayang, Ibu masih mengambilkan pelanggan kita minum, nak.”
Mesti Maryati terus berkata seperti itu, Bima tak mau tahu tentang pesan yang di katakan Ibunya, bayi mungil itu terus saja menangis tiada henti.
“Kenapa anaknya terus menangis?”
tanya Tomi pada Maryati.
“Haus barang kali,” jawab Maryati singkat.
__ADS_1
“Emangnya udah berusia berapa tahun anaknya?”
“Baru enam bulan, Bang.”
“Ooo, masih bayi ternyata.”
“Iya, Bang.”
“Bapaknya pergi kemana?”
“Lagi kerja.”
“Kerja di mana dia?” tanya Tomi ingin tahu.
“Narik becak.”
“Ooo,” jawab Tomi pelan.
“Ayo Tom, kita kembali!” ajak Yoga saat itu.
“Baiklah, berapa semuanya?”
“Ngambil apa tadi Bang?”
“Dua gelas kopi dan lima goreng pisang.”
“Lima rupiah aja Bang.”
Tomi pun mengeluarkan uang lima rupiah dari kantong celananya dan di berikan pada Maryati. Lalu dia pun pergi meninggalkan stasiun senen.
Selama menuju Jakarta, ingatan Tomi tak lepas dari bayangan Maryati, saat itu Tomi merasa yakin kalau Maryati itu akan berjodoh dengannya.
“Hoi, lagi ngelamun apa?”
“Wanita penjual kopi tadi.”
“Wanita penjual kopi?”
“Iya!”
“Yang di stasiun Senen tadi?”
“Ya,” jawab Tomi dengan santainya.
“Ada apa dengan wanita itu?” tanya Yoga dengan dahi berkerut.”
“Aku terkesima dengan raut wajahnya.”
“Ya ampun, kau ini, apa kau nggak dengar apa yang dia katakana tadi.”
“Emangnya dia berkata apa?”
“Dia bilang, kalau suaminya sedang bekerja menarik becak, kau mau merusak rumah tangga orang?”
“Nggak sih.”
“Lalu kenapa kau mengkhayalkan wanita yang sudah menjadi istri orang lain.”
“Aku nggak pernah mengkhayalkan nya.”
“Lalu apa lagi, kalau bukan menghayal namanya.”
“Tadi aku nggak bilang apa-apa kan?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*