
“Tapi Papamu ini lain, Dira? dia nggak sama dengan orang tua Mama dulu.”
“Mama kan bisa bujuk Papa, agar dia mau merestui pernikahan kami, hanya itu saja kok, kenapa mesti susah sih.”
Perkataan Dira memang benar, Murni yang mendengarnya langsung menyadari betapa sakit sekali menikah dengan orang yang tidak di cintai. Namun dia tak dapat berbuat apa-apa.
Di saat Dira masih berada di dalam kurungan Anton, Bima selalu datang kerumah itu, untuk menanyakan keberadaan Dira. Kesal dengan kedatangan Bima yang terus menerus kerumahnya, Anton menyuruh beberapa orang ajudan untuk mengusir Bima.
“Jika dia datang lagi kerumah ini, maka kau usir dia, kapan perlu pukul sampai dia jera dan nggak mengganggu Dira lagi.”
“Siap, Pak!”
Sesuai perintah Anton, ketika Bima datang mencari keberadaan Dira yang sudah empat hari tak pernah terlihat, keempat orang ajudan itu langsung mengusir Bima keluar dari rumah dinas orang tuanya.
“Tolonglah Om, bantu saya untuk menemui Dira.”
“Dia saat ini sedang menjalani hukuman dari Papanya.”
“Kenapa mesti di hukum Om?”
“Karena kau telah lancang berhubungan dengan putrinya.”
“Kami hanya minta restu untuk menikah, kenapa mesti di persulit sih.”
“Udah diam, cepat kau pergi sebelum Papa Dira kembali dari kantor.”
“Aku nggak takut, aku mau menemui Dira!” teriak Bima dengan suara keras.
Bima memang keras hati, keinginannya ingin menikah dengan Dira tak dapat untuk di tahan lagi, Maryati telah bersusah payah untuk membujuknya, namun Bima tetap saja bersikeras ingin menikah dengan Dira.
Dua minggu setelah Dira menjalani hukuman, kedua orang tuanya membebaskannya. Namun setelah dia keluar dari hukuman yang telah di berikan, secara diam-diam Dira lari dari rumah dengan membawa beberapa lembar pakaian.
Dira datang menemui Bima di rumahnya, Maryati begitu terkejut ketika melihat Dira datang dengan membawa satu tas yang telah berisi pakaian di dalamnya.
“Kau mau kemana nak?” tanya Maryati pada Dira yang saat itu berdiri di luar rumah.
“Aku mau menemui Bang Bima Bu.”
__ADS_1
“Untuk apa? bukankah kedua orang tuamu nggak merestui pernikahan kalian?”
“Kami mau lari Bu.”
“Lari kemana Nak?”
“Ke Pesisir.”
“Emangnya siapa yang ada di pesisir nak?”
“Ada Paman ku di sana Bu, kami akan menikah di pesisir bersama Bang Bima.”
“Nanti kalau kedua orang tuamu marah gimana?”
“Aku nggak tahu, Bu.”
Saat mereka sedang bicara, tiba-tiba saja Bima datang. Bima begitu terkejut saat melihat ada Dira bersama dengan Ibunya.
“Ada apa Dira?” tanya Bima heran.
“Kita lari saja Bang.”
“Ke Pesisir, di sana ada Paman ku yang akan menikahkan kita nantinya.”
“Kalau Papa mu marah gimana?”
“Aku udah siap menghadapi resiko apa pun Bang.”
“Baiklah, kita akan kesana sekarang juga.”
Maryati yang tak melihat jalan lain selain itu, dia pun memberi bekal pada Bima berupa satu buah cincin mas seberat satu mas.
“Bawalah ini nak, karena Ibu nggak punya apa-apa lagi selain ini, kau mamfaatkanlah dengan baik, uangnya, nanti kalau situasinya udah aman maka kembalilah pulang kerumah.”
“Baik Bu.”
Sambil menangis sedih Maryati dan Tomi melepas kepergian putranya ke daerah Pesisir. Mereka berdua berencana akan melangsungkan pernikahan disana.
__ADS_1
Selama berada di pesisir, semuanya berjalan aman dan lancar, tak seorang pun pihak keluarga wanita yang datang ke rumah Maryati. Namun setelah satu bulan menikah, mereka pun berniat akan kembali ke Padang. Hal itu di restui oleh paman Dira.
Siang itu ketika Bima baru menginjakkan kakinya di rumah, tiba-tiba saja dua buah mobil berhenti di halaman rumah Maryati. Mereka semua terkejut melihat kehadiran dua mobil itu.
Tak berapa lama kemudian, dari dalam mobil keluar beberapa orang, setelah di perhatikan oleh Dira ternyata yang datang saat itu adalah Papa dan Mamanya beserta beberapa orang keluarga dekat lainnya.
“Papa, Mama!” sapa Dira seraya menghampiri mereka semua.
Bukannya di sambut dengan senyum manis, Dira justru di tampar dan diseret kedalam mobil, begitu juga dengan Bima, dia juga mendapat perlakuan buruk dari keluarga Dira. Bahkan mereka semua menghina kemiskinan Maryati.
Mereka semua menuding Maryati yang telah menghasud Bima untuk membawa kabur Dira. Bima yang tak sabar, kerena mereka telah menghina Ibu yang paling disayangi, maka Bima pun mengamuk, dia menghajar semua yang telah menyakiti keluarganya.
Beberapa orang berusaha untuk melawan, namun Bima terlihat begitu kuat saat itu, kedua orang tua Dira kelihatan begitu takut sekali.
“Kalian benar-benar sombong, kalian kira dengan harta kalian itu kalian bisa berbuat sesuka hati kalian. Saat ini aku dan Dira telah menikah, kalau kalian ingin memisahkan kami, silahkan saja kalian pisahkan, aku nggak keberatan kok.”
“Kurang ajar! kau kira putri ku itu barang dagangan yang seenak perutmu mencampakkannya begitu saja! karena kau telah membawa lari putriku, maka kami akan melaporkan mu ke polisi.”
“Silahkan lapor! kalian kira aku takut, berapa tahun mau kalian kurung aku, satu tahun, lima tahun atau sepuluh tahun, terserah!” jawab Bima dengan suara lantang.
“Kau benar-benar tak tau diri ya! sudah miskin berlagak pula, aku tahu niatmu yang ingin menikahi putri ku, kau ingin menguras semua harta kami kan?”
“Sudah, cukup! sekarang keluar kalian semua dari rumah ku, cepat!” bentak Bima seraya mengacung-acungkan telunjuknya, sehingga semua tamu itu berlarian keluar dari rumah Bima.
Satu minggu setelah itu, beberapa orang polisi datang kerumah Maryati, mereka membawa surat penangkapan untuk Bima yang di tuduh telah melarikan Dira.
Maryati pun menangis histeris, karena Bima mereka bawa dengan kedua tangan di borgol kebelakang. Tomi berusaha menenangkan istrinya yang tampak syok melihat polisi membawa Bima.
Di dalam sel, Dira selalu datang kesana menjenguk suaminya yang di tahan oleh Papanya. Anton telah melarang Dira untuk menjenguk Bima kedalam penjara, namun Dira tetap saja membantahnya.
Pagi itu saat sarapan, Anton menegur Dira agar dia tak lagi mengunjungi Bima di dalam sel tahanan.
“Kau ini nggak ada jeranya Dira, apa perlu kau Papa hantarkan keluar negri, agar kau jauh dari pria miskin itu?”
“Cukup, Pa! cukup! selama ini aku selalu diam, itu bukan berarti Papa bisa memperlakukan aku seenak Papa, saat ini aku sudah menikah dan orang yang Papa jebloskan kedalam penjara saat ini adalah suami ku yang sah. Aku bisa saja melaporkan balik Papa karena telah merampas Bima dari ku.”
“Ooo, jadi saat ini kau sudah merasa pintar dari Papa, hah!”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*