
“Sesuai keinginan mu, Ayah punya sedikit uang untuk modal kau berjualan, ambilah nduk.”
“Tapi Yah.”
“Udah, Ibu mu udah pergi kok, ini bukan uang Ibu mu, tapi ini uang pensiun Ayah selama menjadi Kades.”
“Kalau begitu Aku mengambil separuhnya saja Yah, lagian uang ini bisa ayah manfaatkan untuk biaya hidup Ayah sehari-hari.”
“Tapi Ayah kan masih punya uang pensiun yang akan Ayah terima setiap bulannya nduk, ambilah, kau bisa memanfaatkannya untuk modal usahamu.”
“Baiklah, terimakasih Ayah, kalau bukan karena kebaikan Ayah, aku nggak tahu mesti bagai mana lagi.”
“Satu pesan Ayah pada mu, mesti kau hidup senang, mau pun dalam kesulitan, tetaplah jenguk Ayah kesini, karena di dunia ini Ayah nggak punya siapa-siapa lagi selain kalian.”
“Baik Ayah, kalau begitu aku permisi dulu.”
“Iya nak, hati-hati di jalan, tolong jaga cucu Ayah baik-baik.”
“Iya, Ayah. Ayo nak salaman dengan Kakek kalian gih.”
“Baik Bu.”
“Anak-anak pintar,” ucap Darman seraya mengelus kepala cucunya satu persatu.
“Kalau begitu kami permisi dulu Yah.”
“Iya sayang, hati-hati di jalan.”
“Baik Ayah.”
Maryati merasa begitu lega saat itu karena telah mendapatkan modal dari Ayahnya. Rencana Maryati uang itu di bagi menjadi tiba bagian, agar ada uang simpanan, jika suatu saat dia membutuhkannya.
Bersama ketiga orang anaknya, Maryati mulai membuka usaha baru, karena modal yang lama sudah habis tak bersisa.
Mesti terasa sangat sulit mengurus ketiga orang anak sambil mencari nafkah, namun Maryati tetap menjalaninya dengan lapang dada dan hati yang ikhlas.
Sementara itu, Tomi yang telah meninggalkan kota Jakarta, tak pernah lagi berniat untuk kembali ke sana. Dia melepaskan Istri yang telah berkorban mati-matian untuk dirinya.
Tomi pergi meninggalkan kewajibannya sebagai seorang suami, mesti dia di hormati di kampung halamannya, namun dia tenggelam dengan rasa sedih yang berkepanjangan.
Setelah sarapan pagi bersama Ibu dan keluarga yang lain, tampak Tomi duduk diam di teras rumahnya.
Leli yang melihat putranya terdiam, dia pun langsung menghampirinya, Leli tak tahu apa yang ada di dalam pikiran putranya itu.
“Kau ini kenapa Tom, Bunda lihat kau semakin hari, semakin tak bersemangat saja?”
“Nggak ada Bun. Aku hanya merasa lelah saja.”
“Iya, Bunda tahu itu, nggak mungkinkan kau terlihat sedih sementara kau nggak memikirkan apapun.”
“Selama aku tinggal di Jakarta, aku telah menikah dengan seorang wanita asli Jawa, Bu.”
“Kau menikah dengan wanita Jawa?”
“Iya, bersamanya aku telah memiliki tujuh orang anak, empat diantaranya telah meninggal dunia, sementara tiga orang lagi saat ini masih hidup.”
__ADS_1
“Lalu kenapa kau nggak membawanya pulang ke Padang?”
“Aku ingin membawanya, tapi aku takut Bunda nggak menyetujuinya.”
“Sebenarnya Bunda nggak menyetujui kau menikah dengan orang Jawa, tapi kalau hal itu telah terjadi, nggak ada alasan Bunda untuk menolaknya.”
“Benarkah, Bunda mengizinkan aku membawanya ke Padang.”
“Boleh nak, silahkan kau bawa dia pulang kerumah ini.”
“Tapi aku nggak punya uang untuk kembali ke Jakarta, Bunda tahu sendirikan, kalau uang tabunganku sudah habis.”
“Kalau begitu kau bersabarlah dulu, nanti kalau Bunda punya uang, Bunda akan sisakan untuk mu, ke Jakarta.”
“Baiklah, makasih Bu.”
“Iya, sayang, sama-sama.”
Harapan yang di berikan Neli, membuat Tomi merasa senang, namun setelah berbulan-bulan janji itu tak juga terwujudkan. Tomi mencoba menagih janji itu pada Ibunya.
“Ada apa Tom, kok pagi-pagi begini kau udah menemui Bunda?” tanya Leli pada putranya.
“Aku ingin bertanya pada Bunda tentang janji Bunda waktu itu."
“Janji yang mana nak?” tanya Leli ingin tahu.
“Kata Bunda, aku akan bunda izinkan pergi ke Jakarta menjemput istri dan anak-anak ku.”
“Iya, waktu itu Bunda memang berjanji, lalu apa lagi?”
“Aku mau nanya, uang yang bunda janjikan pada ku waktu itu.”
“Iya, Bun.”
“Sepertinya uang itu belum ada nak, kalau kau mau bersabar, kita pasti punya jalan untuk mendapatkannya.”
Kekecewaan tampak jelas terlihat dari wajah Tomi, namun karena orang tuanya termasuk orang yang tak mampu, itu sebabnya Tomi tak mau menuntut banyak soal itu.
Sedangkan di stasiun kereta, Maryati berjuang dengan bersusah payah, demi mencari sesuap nasi untuk buah hatinya yang masih kecil-kecil. Bima yang waktu itu berusia lima belas tahun, selalu setia membantu Ibunya dalam mencari nafkah.
Semenjak kepergian Tomi, Bima tak lagi melanjutkan sekolahnya, dia lebih memilih membantu Ibunya yang terlihat begitu menderita.
Seperti anak-anak lainnya, Bima juga ikut mencari pekerjaan dengan menyemir sepatu, bahkan menjadi pengamen, asalkan mendapatkan uang yang halal.
“Kau nggak usah bekerja lagi nak, Ibu merasa tak tenang melepas mu mengikuti kereta itu.”
“Ibu nggak usah cemas, kami semua saling membantu kok,” jawab Bima pelan.
“Iya, Ibu tahu itu, tapi kalau terjadi sesuatu pada mu, gimana sayang?”
“Do’akan saja aku selamat, Bu. Ibu tahu nggak, kalau aku bekerja, aku bisa membantu Ibu membeli susu untuk Leni.”
“Tapi nak, resikonya itu yang Ibu sangat mengkhawatirkan mu.”
“Ibu tenang saja, aku akan jaga diri baik-baik.”
__ADS_1
“ya udah, kalau itu yang menjadi keputusanmu, Ibu nggak dapat berbuat apa-apa.”
Siang itu saat Maryati pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari, tiba-tiba di jalan Maryati bertemu dengan Yuni, orang paling terkaya disekitar stasiun kereta.
“Eh Yati,” sapa Yuni seraya memegang tangan Maryati erat-erat.
“Bu Yuni.”
“Nggak usah panggil Ibu, panggil saja Kakak, Kak Yuni, gitu loh.”
“O iya, Kak Yuni. Ada apa ya?” tanya Maryati tak mengerti.
“Boleh Kakak tanya sesuatu pada Yati?”
“Tanya apa Kak?"
“Kalau boleh Kakak tahu, sudah beberapa bulan ini Kakak nggak pernah lagi melihat suami mu di rumah, emangnya kemana dia?”
“Ooo, Bang Tomi, maksud Kakak.”
“Iya, Tomi. Kemana dia?”
“Dia udah pergi Kak.”
“Pergi? pergi kemana?”
“Dia pulang ke rumah orang tuanya di Sumatera, tepatnya di kota Padang.”
“Jadi suami mu itu orang Padang, ya?”
“Iya Kak. Kebetulan kami bertemu di sini.”
“Jadi, kalian udah bercerai?”
“Aku nggak tahu, tapi Bang Tomi pergi ke Padang untuk mencari nafkah.”
“Mencari nafkah? kenapa begitu jauh, bukankah di sini banyak pekerjaan untuknya.”
“Biarlah dia pergi Kak, kalau Bang Tomi di sini terus, bukan kebahagian yang aku dapat, justru kesengsaraan.”
“Kenapa begitu?”
“Karena selama berbulan-bulan dia tak pernah memberiku nafkah.”
“Emangnya dia pergi kemana? kok nggak pernah memberimu nafkah?”
“Dia sibuk bermain Judi di loteng rumah Mbak Tina.”
“O iya, Yati. Kalau kau mau, Kakak bisa mengajakmu ke suatu tempat.”
“Mengajak ke suatu tempat? kemana itu Kak?”
“Ke suatu tempat yang bisa membuat hidup mu senang dan kau memiliki begitu banyak harta yang berlimpah.”
“Kemana itu Kak?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*