Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 104 Perceraian


__ADS_3

Sementara itu, Maryati yang masih duduk di atas lantai, di bantu Nisa untuk berdiri dan duduk di atas kursi.”


“Ibu, nggak kenapa-napa kan?”


“Iya nak, Ibu baik-baik saja kok.”


“Dasar perempuan bodoh! gara-gara mu, aku di ceraikan oleh suami ku, hidupmu bukan hanya menyusahkan aku, tapi membuat keluarga ku berantakan!” teriak Ria dengan suara lantang.


Maryati hanya diam saja, dia benar-benar tak tahu mesti berbuat apa, karena semua tuduhan itu tak pernah dia lakukan sama sekali, apalagi untuk menghasut orang lain agar membenci menantunya sendiri.


Setelah Ria pergi, Andi kembali menghampiri Ibunya dan memeluk Maryati seraya menangis, Andi merasa bersalah karena tak bisa mengajari istrinya hal yang baik.


“Maafkan aku Bu, aku ini suami yang tak berguna, karena tak mampu mendidik istrinya dengan baik.”


“Itu bukan salah mu nak, semua terjadi begitu saja tanpa kita konsep terlebih dahulu.”


“Tapi Ria udah keterlaluan, Bu. Ternyata dia sudah lama menaruh dendam pada Ibu.”


“Ria mengira Ibu yang selama ini telah menghasut orang untuk membencinya, padahal Ibu tak melakukan semua itu nak.”


“Aku tahu Bu, Ibu nggak seperti itu, sekarang Ibu tenang aja, karena Ria telah mendapat ganjaran yang setimpal dengan perlakuannya.”


“Tapi nak, gara-gara Ibu, kau kehilangan istrimu.”


“Nggak apa-apa Bu, biarlah aku kehilangan istri asalkan aku nggak kehilangan Ibu. Kalau istri dapat ku cari lagi gantinya, tapi kalau Ibu kemana aku harus mencarinya.”


Maryati merasa senang dengan ucapan Andi, karena hanya kedua anak itu yang masih tersisa dan selalu berbakti pada kedua orang tuanya.


Sementara itu Nisa dan Adit masih terpana dengan kejadian yang baru saja terjadi, bagai sebuah mimpi, tanpa di sadari sama sekali, tiba-tiba saja Andi bercerai dengan istrinya.


Belum hilang rasa kaget itu dari diri mereka semua, tiba-tiba saja Ria kembali datang ke rumah Maryati, dia datang hanya untuk sekedar mendorong Maryati dan menarik rambut perempuan tua itu serta mencakar wajah Maryati dengan kukunya yang panjang.


Anisa yang berusaha untuk menarik tubuh Ria, merasa tak mampu, karena Ria begitu kuat sekali seperti orang yang sedang kerasukan syetan.


Saat itu Andi langsung muncul dia juga menampar Ria serta mendorong tubuh Ria hingga terpental kebelakang.


“Kau ini, suami yang tak berguna Andi!”


“Kalau kau udah tahu, segeralah pergi atau kau menunggu aku membunuhmu!” teriak Andi seraya bergegas mencari pisau ke dapur Ibunya.


Tak ingin menjadi celaka, Ria langsung berlari keluar rumah bersama kedua anaknya. Ria benar-benar merasa kesal saat itu, sehingga dia harus melampiaskan kekesalannya itu pada orang yang telah membuatnya kesal.


“Ya Allah, Ibu nggak apa-apa?” tanya Andi sembari mengangkat tubuh Ibunya dan meletakkannya di atas kursi.


“Wajah Ibu berdarah-darah, sini aku bersihkan lukanya Bu, nanti bisa infeksi, karena ini bekas cakaran kuku sundel bolong itu.”


“Terimakasih sayang.”

__ADS_1


“Istrimu itu sudah keterlaluan Andi,” ujar Tomi.


“Dia bukan istri ku lagi saat ini Yah, karena aku telah menceraikannya.”


“Bagus itu, perempuan seperti itu tak baik untuk menjadi istrimu.”


Sedangkan Ria yang telah meninggalkan rumahnya, dia belum meninggalkan Desa itu, dia masih berada dekat dengan rumah Andi, seorang Ibu kebetulan menawarkan Ria untuk mampir ke rumahnya.


“Kau mau kemana Ria?” tanya Bu Marni ingin tahu.


“Perempuan tua itu telah mengusirku dari rumahnya.”


“Bu Yati maksudmu?”


“Iya, gara-gara kelakuannya aku di ceraikan Bang Andi.”


“Jadi, kau udah bercerai dengan Andi?”


“Iya, dia telah menceraikan aku, saat ini aku telah diusirnya.”


“Kenapa bisa bercerai? apa masalahnya?”


“Semua masalah itu, ada pada Yati yang selalu ikut campur urusan anak-anaknya.”


“Tapi aku nggak percaya, kalau Bu Yati seperti itu, karena kami sudah lama saling kenal.”


“Ya sudah, kalau sekarang kau mau pergi, silahkan, kebetulan saat ini Ibu lagi banyak pekerjaan.”


“O iya Bu. Boleh nggak untuk malam ini aku numpang tidur di rumah Ibu.”


“Boleh, tapi hanya untuk malam ini aja, karena ibu segan pada Bu Yati.”


“Kenapa mesti segan?"


"Karena Bu Yati itu, telah mengusir mu dari rumahnya, nanti kalau dia tahu Ibu yang menampung mu, tentu dia marah pada Ibu.”


“Kenapa dia mesti marah? bukan kah dia sendiri yang telah mengusir aku.”


“Begini saja, kalau kau ingin menginap semalam ini saja, akan Ibu izinkan. Tapi kalau lebih dari itu, Ibu nggak bisa.”


“Baiklah, hanya satu malam ini saja.”


Di rumah Bu Marni, Ria bersama kedua orang anaknya bermalam, mereka bertiga duduk diam menunggu kedatangan malam di pelataran rumah perempuan itu.


Tak berapa lama kemudian Wilda datang untuk mengunjugi rumah Ibunya, kebetulan saat itu Marni sedang membuat kue kukus untuk mereka santap di malam itu.


“Ibu lagi buat apa?” tanya Wilda pada Ibunya.

__ADS_1


“Ibu lagi bikin kue kukus, untuk di makan malam ini.”


“Kenapa begitu banyak?”


“Ada Ria dan kedua anaknya di dalam.”


“Ria? kenapa dia ada disini?”


“Dia bercerai dengan Andi dan Bu Yati mengusirnya dari rumah.”


“Kok Bu Yati setega itu ya? mengusir menantu dan cucunya sendiri.”


“Hus! kamu nggak boleh menyalahkan orang sembarangan, kita kan belum tahu, siapa yang salah di antara mereka itu.”


“Iya juga ya, tapi aku yakin, Bu Yati nggak sejahat itu, pasti telah terjadi sesuatu di antara mereka."


Saat roti kukus buatan Marni telah siap untuk di makan, lalu Wilda menyajikan roti basah itu ke hadapan Ria dan kedua anaknya.


“Ini Kak, rotinya di makan.”


“Eh ada Wilda, kapan kau datang?”


“Barusan. Kakak kenapa ada disini?”


“Kakak bercerai dengan Bang Andi, Wil.”


“Bercerai? kok bisa, padahal Bang Andi itu kan baik orangnya.”


“Dia memang baik Wil, tapi perempuan tua yang jelek dan bodoh itu yang nggak baik.”


“Widih, segitu marahnya Kakak pada Bu Yati.”


“Lebih marah lagi dari itu, karena gara-gara dia , Kakak di ceraikan Bang Andi dan di usir dari rumah. Nggak di kasih uang lagi untuk ongkos, gimana mau pulang coba.”


“Jadi Bang Andi nggak ngasih Kakak ongkos untuk pulang ke Padang?”


“Nggak Wil, kalau dia ngasih ongkos, nggak mungkin kan, Kakak bermalam di rumah mu ini?”


“Baiklah, besok pagi akan ku coba meminta uang pada Bang Andi, siapa tahu di mau memberi sedikit uang untuk kalian bertiga.”


“Makasih Wil, kau telah berbaik hati pada Kakak dan anak-anak.”


“Iya sama-sama, silahkan Kakak makan rotinya, mumpung masih hangat.”


“Iya, baiklah,” jawab Ria seraya mengambil satu buah roti yang terletak di dalam piring.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2