Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 47 Datang ke Sumatera


__ADS_3

“Maryati.”


“Kang Ramli.”


“Mana Kakak ku?” tanya Ramli pada Maryati.


Lalu Ani pun keluar dari dalam gerbong yang kosong dan berbau pengap, Ani pun tersenyum bahagia, karena adiknya Ramli datang menjemputnya ke Jakarta.


“Siapa yang mengabari kejadian ini Ramli?” tanya Ani pada adiknya.


“Ada orang yang baru pulang dari Jakarta dua hari yang lalu, merekalah yang mengabarinya Kak.”


“Oh, syukurlah kau datang menjemput Kakak, kalau tidak, apa jadinya kami disini.”


“Yati, Bang Tomi juga menitipkan uang ongkos untuk mu pulang ke Padang.”


“Bang Tomi menyuruh ku pulang ke Padang?”


“Iya, Yati. Pulanglah bersama kami ke Padang, saat ini Bang Tomi pasti udah menantikan mu di pelabuhan teluk bayur.”


“Tapi Kang, aku nggak pernah ke Sumatra, apa jadinya nanti, kalau keluarga Bang Tomi nggak mau menerima kehadiran ku.”


“Tenang saja, keluarga Bang Tomi telah mengizinkan mu, pulang ke Padang.”


“Aku nggak berani Kang, apa lagi aku punya tiga orang anak, nanti Bang Tomi berulah lagi di sana, lalu bagai mana dengan nasib kami semua.”


Yati benar-benar trauma dengan perbuatan Tomi yang tak pernah jelas. Bahkan Tomi tega meninggalkan mereka selama bertahun, sampai-sampai Maryati hampir saja terjerumus ke lembah hitam dan berbuat syirik.


“Begini saja Kang, kau beri tahu saja Bang Tomi, kalau aku menolak untuk pulang ke Padang.”


“Pikirkanlah Yati, ingat kau punya tiga orang anak yang mesti kau besarkan, apakah kau sanggup mencarikan nafkah untuk mereka?”


Karena selalu di bujuk oleh Ramli dengan berbagai macam cara, akhirnya Yati pun ikut bersama Ani dan Ramli ke kota Padang.


Sesampainya mereka semua di pelabuhan Teluk bayur, Tomi telah menyambut mereka di sana dengan senang hati.


Dari kejauhan Tomi melihat Bima turun dari kapal seraya menggendong Leni dan memegang Tia di tangan kanannya. Tak terlihat olehnya Yati turun dari kapal. Setelah Bima mendekati Ayahnya, barulah Tomi melihat Yati turun dari kapal bersama dengan Ani dan Ramli.


“Oh syukurlah,” perasaan khawatir Tomi berubah seketika menjadi senang.

__ADS_1


Tomi kemudian bergegas menghampiri Bima dan mengambil Leni dari gendongan Bima. Namun sayang Leni mengelak saat Tomi mencoba untuk menggendongnya.


“Maafkan Abang Yati,” ucap Tomi pada Maryati yang saat itu sudah berada di hadapannya.


Ucapan maaf Tomi tak langsung di jawab oleh Maryati, karena saat itu hatinya masih terasa begitu sakit, karena Yati tak langsung menjawabnya, makanya Tomi mencoba mengalihkan pembicaraan dan mengajak Maryati menaiki angkot yang sudah parkir di pelabuhan itu.


Dengan pelan, Maryati bersama Bima dan yang lainnya menaiki angkot itu. di atas angkot Maryati hanya diam saja, tak sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya.


Setiba di rumah Tomi, Maryati pun di sambut biasa saja oleh keluarga Tomi, mereka tak menampakan sedikitpun rasa hormat ke pada Maryati, bahkan Kakak Tomi menganggap sepele kehadiran Maryati di rumahnya.


Setelah lebih tiga jam duduk diam di luar rumah, tak seorang pun keluarga Tomi yang mengajak mereka masuk kedalam, sementara itu Leni yang lelah terus saja menangis karena rewel.


“Gimana ini Ayah, apakah selamanya kami berada di luar?” tanya Bima pada Ayahnya.


“Tunggu sebentar, biar Ayah bicara sama Nenek mu dulu.”


Belum sempat Tomi masuk kedalam, Bunda Tomi telah nongol duluan di depan pintu.


“Ada apa?” tanya Leli dengan suara datar.


“Apakah ada kamar untuk kami Bu?” tanya Tomi dengan suara pelan.


“Iya, karena Yati dan anak-anak ku mau beristirahat.”


“Di rumah ini semua kamar sudah penuh, kalau kalian mau tinggal disini, maka tidurlah di luar, karena hanya itu tempat yang masih tersisa.”


“Bunda gimana sih, masa Bunda nggak ngizinin istri ku tidur di kamar, bukankah ada tiga kamar lagi yang kosong di belakang sana!”


“Kamar itu untuk adik mu.”


“Adik yang mana Bu?”


“Gani dan Hendra, siapa tahu dia sekali-kali ingin tidur di rumah ini.”


“Bunda tega ya, membiarkan ketiga anak ku tidur kedinginan di luar.”


“Habis gimana lagi, siapa suruh kau mengajak Istri dan ketiga anak mu tinggal di rumah ini.”


“Bunda, bukan kah sejak awal, Bunda udah menyetujui kalau aku membawa istri dan ketiga anak ku kesini?”

__ADS_1


“Itu memang Bunda setujui, tapi kalau nginap dirumah ini, mana ada Bunda setujui.”


“Kalau nggak di rumah ini, lalu kami mesti tidur dimana Bu?”


“Cari tempat yang lain, ngontrak kek, atau cari rumah yang kosong kek, itu bisa aja kan.”


“Bunda keterlaluan!” bentak Tomi dengan suara lantang.


Di saat Tomi dan Bundanya saling bertengkar, tepat ketika itu pula, Leni menangis minta air minum. Bukannya memberi sedikit air minum, justru Bunda Tomi langsung membentak Leni dengan suara yang kuat.


“Nggak ada air minum, itu makanya, kalau berkunjung ke rumah orang, lain kali bawa air minum sendiri!”


Mendengar suara Leli yang keras dengan mata yang melotot tajam, Leni malah bertambah ketakutan, di hadapan Neneknya dia pun menangis histeris.


“Ya Allah, Ibu. Kenapa begitu kejam pada anak ku,” ujar Tomi seraya mengusap wajah Leni yang menangis tersedu- sedu.


Sementara itu, Maryati yang tak pandai berbahasa minang, hanya tampak terdiam dan tak bicara, sepatah pun.


Hanya karena inisiatif Tomi sendiri, lalu Maryati dan ketiga orang anaknya di bawa masuk kedalam.


Ketika Tomi hendak membawa mereka semua ke dalam sebuah kamar kosong, Leli langsung marah dan menghalangi mereka semua.


“Bukankah tadi aku sudah katakan, kalau di rumah ini nggak ada lagi kamar, semua kamar telah ada penghuninya.”


Karena di halangi masuk kedalam kamar, Tomi terpaksa membawa Maryati duduk di ruang tamu. Bima yang melihat perlakuan kasar mereka pada Ibunya, sangat sakit sekali. Karena kehadiran Maryati di rumah itu hanya mereka anggap sebagai sampah yang tak ada artinya.


Bukan hanya sampai disitu saja penderitaan yang Maryati alami, masih banyak lagi penderitaan yang tak kalah kejamnya yang akan mereka terima sesudah itu.


Ketika Maryati mencoba meletakkan tubuh Leni di atas Kasur yang telah terbentang di ruang tamu. Lalu tiba-tiba saja Jihan datang dan menggulung Kasur itu.


“Kenapa di gulung Jihan, bukankah Leni hendak tidur di atasnya?” tanya Tomi heran.


“Jangan biasakan tidur di atas kasur, karena orang yang tidur di atas kasur itu adalah orang yang pemalas,” jawab Jihan dengan suara lantang.


Karena Jihan mengambil kasur yang hendak di tidurkan Leni, makanya Maryati segera mengangkat tubuh Leni dengan cepat, dan kemudian menaruhnya di atas tikar yang lusuh dan kotor.


Mesti di perlakukan seperti itu oleh saudara Tomi, Maryati masih saja diam, dia tak bersuara sedikit pun saat itu, bibirnya yang selalu tersenyum ramah pada setiap orang, saat itu seperti telah terkunci rapat.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2