
Maryati langsung syok, tubuhnya yang kuat tiaba-tiba melemah dan tak berdaya. Maryati pun tersandar didinding rumahnya.
“Apakah Abang telah mencari keberadaan mereka berdua?” tanya Maryati dengan suara pelan.
“Udah hampir satu jam Abang mencari mereka.”
“Apakah Abang nggak melihat tanda-tanda kemana mereka pergi?”
“Nggak sayang.”
“Oh, ya Allah.”
Meresa tak tenang, lalu Maryati bersama Tomi mencari keberadaan mereka berdua, siang hari Bima dan kedua adiknya pun kembali kerumah, merka pun akhirnya mencari Tedi dan Nisa yang menghilang.
Semua tempat sudah mereka cari, bahkan seluruh sudut ruanganpun mereka sudah periksa, sementara Maryati tak henti-hentinya menangis.
“Hari sudah malam, kemana kedua anak kita perginya Bang?”
“Aku nggak tahu.”
Tiba-tiba saja, Tedi keluar dari arah kamar, melihat kehadiran Tedi yang datang secara tiba-tiba seisi rumah menatapnya dengan penuh tanda tanya dan kaget.
“Tedi…? kau kah itu sayang?” tanya Tomi seraya menghampiri Tedi yang tampak tercengang heran.
Tedi pun diam saja, ketika tubuhnya di pegang dan di peluk oleh kakak-kakaknya. Bahkan dia terlihat kebingungan sendiri.
“Kamu dari mana saja nak? mana adik mu Nisa?”
“Dia ada didalam kamar Yah,” jawab Tedi pelan.
“Di dalam kamar?”
“Iya Yah.”
“Coba beritahu Ayah, di mana adik mu bersembunyi?”
Lalu Tedi menarik tangan ayahnya ke dalam kamar, ternyata mereka berdua bersembunyi di dalam gulungan tikar yang terletak di samping kasur.
Saat gulungan tikar itu di buka, ternyata ada Nisa yang masih tertidur dengan lelap di dalamnya. Maryati pun langsung menggendong tubuh Nisa yang tampak begitu lemah karena kekurangan cairan.
“Kenapa bersembunyi di sana nak?” tanya Tomi ingin tahu.
__ADS_1
“Ada suara hantu, Ayah?”
“Suara hantu?”
“Iya.”
“Di mana kalian dengar suara hantunya?” tanya Tomi ingin tahu.
“Di sana Yah, di dalam hutan.”
“Barang kali Tedi mendengar suara binatang hutan barang kali Yah,” timpal Bima dengan suara lembut.
“Iya, Ayah pun berpendapat begitu.”
Sedangkan Nisa yang tampak sangat lemah, di beri minum dan makan oleh Maryati, mesti gadis kecil itu tak mau memakannya, namun Maryati terus saja memaksanya sedikit demi sedikit.
Merasa mulai tak aman dengan keselamatan anak-anaknya, Maryati tak mau meninggalkan mereka berdua di rumah, setiap Tomi pergi, Maryati selalu tinggal di rumah.
Tinggal bersama Maryati kedua anak-anak itu memang merasa aman, tapi kalau Maryati tak bisa berdagang sayur, lalu apa lagi tambahan untuk kebutuhan keseharian mereka di rumah. Untuk itu Maryati selalu membawa kedua anak-anaknya ke pasar.
Setelah beberapa kali membawa keduanya kepasar, Maryati merasa kewalahan, karena keduanya sering menghilang di tengah keramaian pasar, hal itu membuat Maryati kesulitan untuk berjualan. Maryati kembali tak bisa berjualan sayur, karena kedua anaknya yang mulai nakal.
Malam itu saat melaksanakan sholat tarawih di musholla yang letaknya sangat jauh dari rumah, Maryati menuruni perbukitan yang sangat menyeramkan itu sendirian, di kegelapan malam, Maryati sering melihat sosok makhluk halus yang mencoba menampakkan diri padanya.
Akan tetapi, lama kelamaan hal itu membuat Tomi merasa kawatir dengan keselamatan keluarganya. Mesti saat itu ada seekor anjing yang selalu mengantar jemput tuannya, kapan pun di butuhkan. Namun hal itu tetap membuat Tomi merasa tak tenang.
Malam itu Maryati duduk sendiri di depan rumahnya, suasana pemandangan yang begitu indah terlihat jelas dari sana, pelabuhan kapal laut yang terletak di sebelah kanan rumahnya tampak bercahaya terang, menimbulkan nuansa pemandangan yang sangat menyejukkan mata.
Dari sisi sebelah kiri Maryati melihat pemandangan yang tak kalah menyenangkan hati, kapal laut yang datang dan keluar dari galangan kapal membuat suasana laut menjadi indah sekali.
Pemandangan seperti itu sangat sulit jika di lihat pada malam hari di tempat lain, hanya di depan rumah Maryati pemandangan seperti itu tampak jelas.
Namun malam itu, sepertinya malam terakhir untuk Maryati menyaksikan semua keindahannya, karena di malam itu pula Tomi mengungkapkan niatnya untuk segera pindah dari rumah yang menyenangkan itu.
“Kita mau pindah kemana sih Bang?” tanya Maryati ingin tahu.
“Kebawah, kepinggir jalan hitam, ada rumah kosong disana, kata orang yang berada di sebelahnya, rumah itu udah lama nggak di tempati, karena pemiliknya pergi merantau.”
“Nanti kalau pemiliknya kembali, lalu kita mesti tinggal di mana Bang.”
“Kita cari tempat yang lain.”
__ADS_1
“Tapi aku merasa keberatan pindah dari rumah ini, Bang.”
“Kenapa keberatan?”
“Tinggal disini, aku merasa aman, tak ada lagi yang menggangu keluarga kita, rumah tangga kita pun berjalan dengan damai.”
“Tapi di sini sudah tak aman buat anak-anak kita Yati.”
“Nggak aman gimana maksud Abang?”
“Seperti waktu itu, Tedi dan Nisa di ganggu oleh penghuni hutan ini.”
“Sebenarnya kita yang salah Bang.”
“Salah gimana maksud mu?”
“Karena merasa aman selama ini, kita lupa kalau mereka itu masih anak-anak, kita hanya meninggalkan mereka berdua di tengah hutan ini. Tapi selama aku ada bersama mereka, mereka baik-baik saja kok.”
“Kalau sudah tinggal di bawah, aku akan mencoba mencari pekerjaan.”
“Pekerjaan apa yang akan Abang cari.”
“Aku belum tahu, tapi kalau kita udah pindah ke bawah, aku pasti dengan mudah mendapatkan pekerjaan, jadi kau nggak perlu lagi berjualan sayur ke pasar.”
Awal mulanya Maryati merasa berat untuk pindah dari rumahnya, sebab dia takut kalau-kalau keluarga Tomi akan datang lagi untuk mengganggu mereka semua. Namun karena Tomi berjanji akan mencari pekerjaan, akhirnya Maryati menyetujuinya.
Beberapa hari setelah rencana itu di setujui Maryati, mereka pun akhirnya pindah kebawah, tinggal di sebuah rumah kosong yang sudah lama tak ada pemiliknya.
Seperti janji Tomi pada istrinya, dia pun mencari pekerjaan, saat itu Tomi bekerja di bagian pekerjaan umum atau PU. Tomi bertugas sebagai pembersih jalan serta memperbaiki jalan yang rusak.
Pekerjaan itu sangat membantu sekali untuk kebutuhan keluarga Maryati, apa lagi anak-anak mereka telah tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan sehat.
Di tempat yang barunya itu, Maryati pun melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat. Anak itu di beri nama Andi.
Semenjak kelahiran Andi, perekonomian keluarga Maryati tampak sedikit berubah, Tomi yang telah menjadi karyawan tetap dia bisa menghasilkan gaji setiap bulannya, sehingga kehidupan Maryati berjalan lancar dan aman.
Hingga akhirnya Maryati pun melahirkan seorang bayinya yang ke dua belas. Seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat telah lahir dengan selamat.
Bayi mungil itu di bawa pulang kerumah setelah empat hari di rumah sakit, hati Maryati sangat senang dan bahagia, begitu juga dengan Tomi.
Ketika bayi itu berusia satu bulan, lalu Mayar pun datang bersama dengan suaminya.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*