
Bukan kepahitan itu saja yang di lihat Lini saat itu, dengan mata kepalanya sendiri, Lini juga menyaksikan kalau tubuh kedua putri Maryati kurus dan yang tampak hanya tulangnya saja.
“Kedua adikmu sedang sakit Bima?” tanya Lini ingin tahu.
“Nggak Bu, tapi mereka berdua tak pernah mendapatkan makanan di rumah ini, semua masakan yang di buat Ibu, mereka habiskan semua, kami hanya mendapat sisa nasi yang tertinggal di piring mereka saja.”
“Ya Allah, kejamnya mereka pada kalian semua.”
“Sambil memeriksa kondisi Maryati Lini tampak menangis pilu, di saat dia bisa makan dengan enak, ternyata ada empat orang manusia yang kesulitan untuk mendapat makanan.”
“Sekarang kau tungguin Ibu mu disini, biar Ibu ke rumah bidan dulu.”
“Tapi, Bu! kami nggak punya uang untuk membayar bidan.”
“Biayanya biar Ibu yang tanggung nantinya.”
“Baik Bu.”
Sambil menunggu bidan datang, Maryati terus saja merintih menahan rasa sakit, namun Bima dengan lembut memijat tubuh Ibunya yang tampak begitu lemah, selama memijat tubuh Ibunya, air mata Bima tak henti-hentinya mengalir.
“Kau menangis nak?” tanya Maryati seraya mengusap air mata putranya itu.”
“Aku sudah nggak kuat lagi Bu.”
“Ibu juga begitu nak, tapi apa daya kita, saat ini Ibu nggak bisa berbuat apa-apa.”
“Kita pergi saja dari sini Bu.”
“Pergi kemana nak, kita nggak kenal kota besar ini, takutnya kita bisa jadi gelandangan.”
Ketika mereka berdua sedang bicara, lalu Lini pun datang bersama bidan Desa yang akan menangani masa persalinan Maryati.
Saat itu Lini berusaha untuk membangunkan Leli yang sedang tidur nyenyak di kamarnya.”
“Ada apa sih, ribut-ribut?” tanya Leli dengan rasa heran.
“Mantu mu mau melahirkan Leli.”
“Mau melahirkan kok Nenek nggak di kasih tahu Bima,” ucap Leli dengan mulutnya yang manis.
Mesti pertanyaan Leli terdengar jelas di telinga mereka semua, namun mereka hanya diam saja. Bidan Rora yang bekerja dia pun tampak diam saja, tanpa bicara sepatah katapun. Hal itu membuat Leli menjadi heran.
“Kenapa kalian pada diam?” tanya Leli yang tak mengerti.
Lagi-lagi mereka semua tak bicara dan mengabaikan pertanyaan yang di ajukan Leli padanya. sementara itu Maryati yang hendak melahirkan anak ketujuhnya, tampak menahan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
“Sepertinya Bu Yati nggak punya tenaga untuk melahirkan bayi nya, bagai mana kalau dia kita rujuk ke rumah sakit, biar mendapatkan perawatan dari dokter.”
“Gimana Bu Leli, di beri izin atau nggak, kalau Yati menantu mu kita rujuk ke rumah sakit?”
“Di rujuk ke rumah sakit? oh nggak, itu nggak akan ku izinkan.”
“Kenapa Bu Leli, jika Ibu nggak mengizinkan Bu Yati melahirkan di rumah sakit, berarti Ibu akan menanggung semua resiko yang bakal terjadi nantinya.”
“Heh, kalian ini ya, siapa sih yang ngasih izin kalian datang kerumah ku! berani-beraninya kalian semua mengancam ku.”
“Kami nggak ada yang mengancam Ibu, semua itu terserah Bu Yati saja,” ucap bidan Rora.
“Gimana Yati, apakah kau sanggup melahirkan di sini?” tanya Lini dengan pelan.
Maryati tak mau menjawab, tapi dia menganggukkan kepalanya, pertanda dia menyetujui pertanyaan Bu Lini padanya.
“Kalian lihat sendirikan, dia bahkan nggak mau bicara sepatah katapun pada ku dirumah ini, dasar menantu nggak berguna, di kasih hati dia malah minta jantung.”
“Di kasih hati bagai mana maksud Bu Leli, kalau memang selama ini Maryati di kasih hati, pasti kondisinya nggak separah ini. Ibu lihat sendirikan, saat mereka datang dari Jakarta, tubuh mereka semua sehat, tapi sekarang mereka sudah kurus, hanya tinggal kulit pembalut tulang.”
“Maksud Bu Lini apa ya? Ibu menyalahkan kami yang nggak merawatnya?"
“Aku sudah tahu semuanya Bu, semua kelakuan kalian di rumah ini, sudah ku catat di dalam ingatan ku. kalian semua munafik!”
“Baik, tapi akan ku laporkan semua perlakuan mu ini pada Pak RT.”
“Kurang ajar kau Lini!”
Dengan kesal Lini pun keluar dari rumah itu. beberapa jam kemudian Maryati dapat melahirkan bayinya dengan selamat.
Seorang bayi laki-laki, dengan kondisi tubuh yang sangat lemah sekali, bidan Rora, bahkan tak berani mengangkat bayi itu karena fisiknya yang sangat lemah.
“Gimana ini Bu, kondisi bayi Ibu sangat lemah sekali, apa perlu kita bawa ke rumah sakit, biar kita rawat di sana.”
“Maaf Bu bidan, kami nggak punya uang untuk merawatnya.”
“Kalau kalian setuju, biar biaya perawatannya, aku yang menanggungnya nanti.”
“Nggak perlu! jangan terlalu di manja, nanti juga sehat sendiri kok, asalkan Ibunya bisa merawat bayi nya dengan baik dan benar.”
Karena penolakan itu, bidan Rora tak dapat berbuat apa-apa. Begitu juga dengan Maryati, kekejaman Bu Leli membuatnya tak dapat membantah sedikitpun.
Baru saja beberapa hari Maryati habis melahirkan, Mayar langsung memaksanya bekerja, mencuci, memasak dan menyapu serta mengepel lantai rumah yang begitu luas, sehingga perempuan muda itu pun mengalami pendarahan yang hebat.
Maryati bahkan sampai tak sadarkan diri, di rumahnya, Bima menangis histeris ketika melihat Ibunya tak henti-henti mengeluarkan darah.
__ADS_1
“Gimana Ini Bu, apa yang mesti kita lakukan?” tanya Bima pada Ibunya.
“Tolong panggil Bu Lini nak, siapa tahu dia bisa menolong Ibu.”
“Baik Bu,” dengan bergegas Bima langsung menuju rumah Lini yang letaknya berseberangan jalan dengan rumah Neneknya.
“Ibu, tolong Ibu ku.”
“Ada apa Bima?” tanya Lini ingin tahu.
“Ibu ku mengeluarkan darah yang begitu banyak sekali.”
“Ibu mu mengeluarkan darah?”
“Iya Bu.”
“Itu artinya, Ibu mu itu, mengalami pendarahan nak, jika tidak cepat di tolong, maka nyawa Ibu mu dalam bahaya.”
Mendengar ucapan Bu Lini, Bima semakin cemas sekali, dia bahkan menangis dan bersimpuh di kaki Bu Lini, agar perempuan itu bersedia menolong Ibunya.
Ketika mendapat laporan dari Bima, Lini langsung menemui Bidan Rora, Lini minta tolong agar Rora mau menemui Maryati yang sudah hampir sekarat.
Bersama seorang dokter, Rora pun datang ke rumah Leli, yang saat itu, Rora melihat Leli dan anak-anaknya sedang duduk santai di depan rumah mereka.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, ada apa ya? kok bidan datang kerumah ku?"
“Bu Leli benar-benar nggak tahu, tau pura-pura nggak tahu?”
“Heh Rora, apa maksud dari ucapan mu itu?”
“Ibu sudah keterlaluan! apa Ibu nggak melihat kalau saat ini Yati menantu Ibu sedang mengalami pendarahan?”
“Ah masa, kami semua nggak ada yang mengetahuinya.”
“Ibu, saat ini kondisi Yati, sudah dalam masa kritis, untuk itu izinkan kami untuk segera menolongnya.”
“Nggak bisa, apa hak kalian bisa keluar masuk rumah ku sesuka hati kalian!”
“Karena di dalam sana, ada seorang manusia yang sangat membutuhkan belas kasihan orang lain Bu, apakah hati Ibu terbuat dari batu, sehingga Ibu nggak punya hati Nurani sama sekali.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1