
Mesti Maryati berusaha untuk merebutnya, namun Tomi begitu cepat membawa kalung itu keluar dari kamar dan memberikan pada Inah.
“Semuanya ada sepuluh emas, Kakak pakailah dulu, nanti kalau acara pestanya telah selesai, Kakak bisa mengembalikannya pada kami.”
“Baiklah, terimakasih Tomi, Kakak pasti mengembalikan emas ini secepatnya pada kalian."
Inah yang telah mendapatkan apa yang dia cari, lalu dia pun kembali ke kota bersama Panji suaminya. Satu minggu setelah dia mendapatkan uang itu, lalu pesta mewah pun di langsungkan dengan meriah.
Namun sayang, saat itu bahkan Inah tak mengundang Maryati untuk hadir di pesta keponakannya itu, Inah hanya mengundang Tomi saja sebagai Paman dari anaknya.
Sudah lebih dua bulan, emas Maryati di pinjam oleh Inah, namun dia belum juga mengembalikannya. Maryati telah berulang kali menyuruh Tomi untuk memintanya, namun Emas itu belum juga di kembalikan.
“Bukan kah Abang sendiri yang berjanji pada ku, untuk mengembalikan emas itu satu bulan setelah pesta Inah selesai.”
“Iya, tapi Inah belum punya uang untuk mengembalikannya.”
“Kalian sekeluarga memang jahat Bang, kalian selalu saja memanfaatkan kebodohan ku.”
Mendengar ucapan Maryati, Tomi hanya diam saja, karena saat itu dia merasa bersalah karena telah merampas emas istrinya, yang akhirnya tak bisa di kembalikan.
Bukan hanya satu bulan emas itu tak di kembalikan Inah, bahkan sudah lebih satu tahun emas itu masih saja mereka diamkan.
“Gimana Bang, sekarang sudah lebih dari satu tahun, seperti janji mu hari itu, kalau Abang akan memintanya langsung pada Inah, lalu kenapa belum juga di kembalikan Kak Inah?”
“Dia belum punya uang Yati, kau yang sabar dulu, nanti kalau Kak Inah udah punya uang, dia pasti mengembalikannya pada mu.”
“Kau bohong Bang, dari dulu hingga saat ini kalian semua memang suka membohongi aku.”
“Aku berkata benar Yati, untuk apa aku berbohong pada mu.”
“Nggak usah Abang berkilah lagi, Abang kira sepuluh emas itu sedikit? bahkan aku mendapatkannya dengan bersusah payah, tapi kau seenaknya saja memberikannya pada saudaramu yang jahat itu.”
“Sudah Yati, sudah! kau nggak usah mengungkit-ungkit itu lagi.”
“Mengungkit apa, saudaramu itu memang jahat kan?”
“Cukup Yati, cukup!"
“Kau benar-benar keterlaluan Bang!”
seraya marah, Maryati berlari memasuki kamarnya.
Dalam situasi seperti itu, Maryati berfikir untuk menjual semua emas miliknya, karena jika semua emas itu masih berada di tangannya, pasti keluarga Tomi tetap saja mengincarnya. Diam-diam, Maryati menyuruh Dipa menjualkan seluruh emas miliknya.
“Kenapa mesti di jual Bu?” tanya Dipa heran.
__ADS_1
“Kalau nggak Ibu jual, maka Ibu nggak mendapatkan apa-apa.”
“Emangnya ada orang yang mengambil emas Ibu?”
“Ada.”
“Siapa?”
“Ayahnya Bima dan di berikan pada saudaranya.”
“Berapa emas Bu?”
“Sepuluh emas. Hari itu dia berjanji akan mengembalikannya dalam waktu satu bulan, tapi hingga hari ini, dia bahkan nggak mau membayarnya sama sekali.”
“Kalau begitu baiklah, aku akan menjualkan emas Ibu.”
Secara diam-diam, Maryati sepakat dengan Dipa untuk membeli sebidang tanah, yang letaknya sangat jauh dari jalan.”
“Kenapa Ibu mesti mencari daerah yang sangat jauh dari jalan hitam?”
“Agar saudara Pak Tomi nggak datang lagi untuk mengganggu kami.”
“Ooo begitu.”
“Ibu, tanah yang Ibu minta telah ku belikan, saat ini posisi tanah itu ada di atas bukit, sekitar satu kilo setengah dari jalan hitam.”
“Terimakasih nak Dipa, nanti kalau kau punya waktu, tolong kau bawa Pak Tomi untuk melihat keadaan tanahnya itu.”
“Baik Bu.”
Sesuai permintaan Maryati, Tomi pun di ajak Dipa untuk melihat posisi tanah miliknya. Letaknya memang sedikit jauh dari jalan hitam, namun posisi tanah itu sangat strategis.
“Apakah Bapak suka dengan tanah ini?”
“Iya, Bapak sangat suka sekali.”
“Mulai sekarang tanah ini udah menjadi milik Bapak.”
“Maksudnya gimana ya, nak Dipa.”
“Tanah ini udah di beli Ibu seminggu yang lalu.”
“Ibu yang membeli tanah ini?”
“Iya Pak.”
__ADS_1
“Ibu dapat uang dari mana?”
“Ibu menjual semua emas nya yang ada, untuk membeli tanah ini.”
Tomi sangat senang sekali setelah dia tahu, kalau tanah itu miliknya. Maka semenjak hari itu, Tomi begitu rajin membersihkannya dan membuat sebuah pondok kecil di atas tanah tersebut.
Setelah rumah selesai berdiri, Tomi mengajak Maryati dan keempat orang anaknya pindah ke tanah mereka tersebut. Di atas tanah itu mereka mulai hidup dari awal kembali.
Mesti mereka semua sudah pindah dari rumah milik Dipa, namun Tomi tetap bekerja di kebun Dipa. Setiap pagi Tomi menuju kebun Dipa, setelah sore barulah dia kembali pulang ke kebun miliknya.
Sementara itu Maryati mencoba bercocok tanam di sekitar perumahan.
Suasana pemandangan yang sangat indah, membuat mereka sekeluarga betah menempati tanah itu. Setiap pagi Tomi selalu mengiringi anak-anaknya untuk pergi kesekolah.
Mesti menempuh perjalanan jauh setiap hari, tapi Tomi tak pernah mengeluh, semua itu dia nikmati untuk mengganti olah raga, agar tubuh tidak mudah di serang penyakit.
Satu tahun menempati tanah yang telah di beli Maryati, kebun milik Dipa pun akhirnya di jual ke orang lain, sehingga Tomi pun berhenti bekerja di sana.
Untuk menambah biaya hidup, Tomi memutuskan untuk menanam sayur di sekitar pekarangan rumahnya.
Hasil dari sayur jualan, mereka dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan ketiga orang anak-anaknya.
Di tanah yang mereka garap, Yati pun hamil anak yang ke sepuluh. Seorang putri cantik telah lahir ke dunia, dia di beri nama Anisa. Putri kecil itu terlihat tersenyum senang saat Maryati memandanginya dengan penuh kebahagiaan.
Setiap hari Nisa selalu bermain bersama dengan Tedi. Namun ketika Maryati meninggalkan mereka berdua di dalam rumah, Nisa dan Tedi di takutkan oleh suara binatang hutan yang menurut mereka sangat mengerikan sekali.
Tedi dan Nisa berlari kedalam rumah, mereka berdua bersembunyi di dalam kamar yang sangat gelap, seluruh pintu di kunci rapat dari dalam.
Ketika Tomi pulang dari mengantar Tia dan Leni kesekolah, Tomi mendapatkan kedua anaknya tak berada di luar rumah, Tomi melihat pintu tertutup rapat.
"Tedi…! Nisa…! dimana kalian! Tedi…! Nisa…! Ya Allah, kemana kalian nak?
”
Tomi berlari kesana dan kemari mencari keberadaan Tedi dan Nisa yang masih kecil, setelah sekian jam mencari namun Nisa dan Tedi tak juga di temukan.
Perasaan tak menentu terasa berkecamuk di dalam dada Tomi saat itu, dia seperti telah kehilangan separoh tubuhnya yang utuh.
“Ya Allah, kemana kalian nak?” tanya Tomi pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama kemudian, Maryati kembali dari pasar, belum sampai dia menginjakkan kakinya di depan pintu, Tomi langsung mengabarkan pada Maryati kalau Tedi dan Nisa telah menghilang.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1