
Leni yang tak mengerti apa-apa, hanya mengangguk kan kepalanya saja, sementara itu tampak Dira tersenyum sinis pada Leni yang telah membelakangi dirinya.
Mesti demikian Leni tetap menyangka, kalau ramuan yang di dalam botol itu adalah obat subur untuk Dira, agar dia segera mendapat momongan baru.
Setelah urusan Leni benar-benar telah selesai, mereka pun memutuskan untuk kembali pulang, karena ada dua orang anaknya yang tinggal bersama Maryati di rumah. Walau saat itu kedua anak Leni tidak rewel, Leni tetap memutuskan untuk segera kembali pulang.
Setibanya di rumah, Leni menceritakan ke pada Ibunya tentang penyakit yang di derita Bima, sewaktu mereka berdua pergi ke Padang.
“Bima batuk darah?”
“Iya Bu.”
“Udah berapa lama, Len?”
“Kata Kak Dira, udah hampir satu bulan.”
“Kenapa Kakak mu nggak membawanya ke dokter.”
“Percuma saja, karena dokter nggak akan mampu mengobati penyakit akibat guna-guna, Bu.”
“Apakah Kakak mu benar-benar yakin kalau itu penyakit karena di sebabkan oleh guna-guna?”
“Katanya begitu Bu. Kata Kak Dira beberapa bulan sebelumnya, Bang Bima juga mengalami penyakit aneh, seluruh tulangnya terasa remuk. Namun setelah mereka berobat kampung, penyakit Bang Bima bisa membaik.”
“Semestinya Kakak mu itu harus membawa Abang mu ke rumah sakit, setidaknya penyakit Abang mu itu harus di rontgen dulu, agar kita tahu apa penyebabnya.”
“Sebenarnya emang begitu Bu, tapi kata Kak Dira lebih baik berobat ke dukun kampung saja.”
Maryati yang merasa tak senang mendengar kabar itu, dia pun memutuskan untuk pergi ke Padang.
“Apakah sudah kau pikirkan Yati?” tanya Tomi yang merasa khawatir dengan niat istrinya itu.
“Udah Bang, aku harus pergi ke Padang untuk menjemput Bima, kalau nggak aku pasti terlambat untuk menyelamatkannya.”
“Ya sudah, berhati-hatilah selama di sana.”
“Baik Bang.”
Tekad Maryati memang sudah bulat, untuk pergi ke Padang menjemput Bima, Maryati ingin merawat anaknya sendiri, mesti dia tahu, Bima telah berbuat jahat padanya dan bahkan telah mendzolimi ke dua orang tuanya.
“Setibanya Maryati di kota Padang, dia langsung menuju rumah Dira, tanpa berpikir panjang Maryati pun masuk kerumah Dira.
Kedatangan Maryati yang tiba-tiba itu membuat Dira terkejut. Dira tak menyangka kalau Maryati bisa datang secepat itu ke Padang.
“Ibu?”
“Iya.”
__ADS_1
“Kapan Ibu datang?” tanya Dira ingin tahu.
“Barusan,” jawab Maryati singkat.
Lalu Dira pun membuatkan Maryati minum, mesti saat itu Maryati merasa kesal dengan Dira, tapi dia tak mau memperlihatkan kekecewaannya pada menantunya itu.
“Minumlah dulu Bu.”
“Iya, makasih.”
Merasa kehilangan bahan, Dira tak tahu harus memulai kata dari mana, seperti terasa kaku dan sulit untuk di ucapkan.
“O iya Dira, kedatangan Ibu kesini untuk menjemput Bima.”
“Menjemput Bang Bima? apa maksud Ibu, aku nggak mengerti?” tanya Dira heran.
“Hari ini Ibu datang untuk menjemput suami mu, Bima, biar Ibu yang mengobatinya di kampung.”
“Kenapa harus Ibu yang mengobatinya, bukankah Ibu tahu sendiri kalau Bima itu udah berkeluarga, nggak bisa gitu dong, main jemput aja.”
“Heh Dira, kau itu istri nggak berguna ya? sudah jelas suami mu itu mengidap penyakit batuk darah, masih saja kau nggak mau membawanya ke rumah sakit, apa maksudmu itu?”
“Aku bukannya nggak mau membawanya ke rumah sakit Bu, tapi aku nggak percaya kalau Bang Bima itu mengidap penyakit paru-paru.”
“Kok kau tahu kalau Bima nggak menderita sakit paru-paru?”
“Sudah tiga minggu lebih dia sakit, apa kah kau udah membawanya ke rumah sakit?”
“Belum.”
“Ke dukun kampung atau orang pintar?”
“Juga belum.”
“Sebenarnya kau ini mau nungguin apa sih, nunggu Bima meninggal dulu, baru kau senang!”
“Ibu jangan ngomong gitu kenapa sih.”
“Kalau kau nggak suka ibu bicara, sekarang juga kau siapkan pakaian Bima, Ibu akan membawanya pulang ke rumah.”
Mesti Dira merasa berat hati, namun dia tak punya hak untuk melarang Maryati membawa Bima bersamanya pulang kerumah mereka di Desa.
“Lalu kami bagai mana Bu?” tanya Dira ingin tahu.
“Kau tetaplah disini bersama anak-anak, nanti kalau Bima telah sembuh, maka dia akan Ibu izinkan kembali pulang kerumah ini.”
Tanpa berpikir panjang lagi Maryati langsung membawa Bima pulang bersamanya, semua tetangga hanya bisa menyaksikan mereka berdua berjalan pelan di halaman rumah.
__ADS_1
“Ibu mau kemana?” tanya Tuti tetangga Dira.
“Mau membawa Bima berobat di kampung.”
Saat Maryati menjawab pertanyaan yang di ajukan Tuti padanya, dari kejauhan Dira pun berseru dengan suara lantang.
“Ibu! jangan jawab semua pertanyaan yang mereka ajukan pada Ibu!” teriak Dira dengan suara lantang.
“Kenapa! kau takut kalau rahasia keluarga mu di ketahui oleh orang banyak!” teriak Tuti.
“Dasar resek, kalian semua,” gerutu Dira seraya mengepalkan kedua tangannya dan memukulkan ke dinding rumahnya.
Sambil terus berjalan, Maryati selalu menggandeng tangan putranya dengan lembut, Maryati tak perduli apa kata tetangga padanya.
Setelah menaiki mobil, Maryati dan Bima saling diam, mereka merasa enggan untuk buka mulut. Setibanya mereka berdua di rumah, Tomi langsung menyuguhi mereka berdua minuman hangat.
“Berbaringlah nak, kau pasti lelah selama di mobil,” ujar Tomi sembari tersenyum manis pada Bima.
Ketika Tomi hendak melangkah pergi meninggalkannya, lalu Bima memegang tangan Tomi dengan pelan. “Ayah Maafkan aku, karena aku telah bersikap kurang ajar pada Ayah dan Ibu.”
“Udah, Ayah udah memaafkan semua kesalahan mu, sekarang kau fokus saja untuk berobat, agar kau segera sembuh dari sakit mu.”
“Iya Ayah.”
Di Desa itu, bukan hanya ke rumah sakit saja berobat, Maryati juga membawa Bima ke pada seorang pria yang sudah biasa mengobati penyakit dalam. Pria itu juga yang dulunya pernah mengobati Nisa.
Di atas sebuah dipan yang terbuat dari kayu, tubuh Bima pun direbahkan di sana, lalu pria itu memeriksa kondisi Bima dengan teliti.
“Gimana nak Dedi, apa kah penyakit Bima serius?”
“Maaf Bu, sepertinya putra Ibu termakan ramuan.”
“Termakan ramuan gimana nak?”
“Seseorang telah memberi ramuan kotor, setiap hari padanya, mesti ramuan itu di berikan sebanyak tiga tetes, tapi ramuan itu sangat berbahaya sekali untuk kesehatan putra Ibu.”
“Jadi, apakah Bima bisa sembuh kalau di obati.”
“Kalau Bisa, bawalah lima butir telur ayam kampung ke sini.”
“Baiklah,” jawab Maryati seraya bergegas mencari telur ayam kampung seperti yang di perintahkan pria itu kepadanya.
Setelah telur di dapat, Maryati langsung memberikannya pada Dedi.
Telur itu pun di gunakan Dedi pada Bima, disaksikan Maryati dan Andi, dalam sebuah telur itu ada terdapat begitu banyak belatung, air yang ada di dalam telur itu pun sangat busuk sekali, sehingga Bima sendiri sampai muntah dibuatnya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*