Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 71 Bebas dari penjara


__ADS_3

“Ingat Pa, aku bukan Dira yang dulu lagi, saat ini aku sudah menikah, jika Papa tidak mengeluarkan Bima dari penjara, maka aku akan laporkan Papa ke polisi karena telah menculik suamiku.”


“Heh, Dira! kau punya bukti apa?”


“Saat ini aku sedang mengandung anak Bima, itu sudah cukup untuk menjebloskan Papa kedalam penjara,” jawab Dira seraya berlalu meninggalkan mereka semua.


Bagi Anton ucapan Dira itu tak bisa di anggap remeh, karena Anton tak punya alasan yang tepat saat menjebloskan Bima kedalam penjara. Untuk itu, Anton merasa takut, jika Dira melapor kan dirinya ke polisi.


“Murni, kau yakin kalau Dira itu hamil?”


“Aku nggak tahu Pa.”


“Kalau begitu coba kau selidiki secara benar, apakah dia itu hamil atau tidak.”


“Iya, nanti akan Mama selidiki," jawab Murni dengan suara lembut. " Papa kenapa takut? bukankah hari itu Papa begitu yakin, kalau Bima akan di hukum. Tapi hingga hari ini, Mama nggak dengar tuh, kalau dia disidang.”


“Itu kan perlu proses Ma.”


“Atau jangan-jangan ini semua hanya akal-akalan Papa saja, biar Bima mendapat ganjaran dari perbuatannya.”


Anton hanya bisa terdiam ketika Murni membaca semua kesalahan suaminya, Murni yakin tak ada undang-undang yang menghukum orang menikah, apa lagi mereka menikah atas dasar suka sama suka.


Merasa tak senang dengan perbuatan suaminya, Murni langsung mendatangi kantor polisi dan meminta penjelasan pada pimpinan polisi tentang hukuman apa yang bakal mereka jatuhkan pada Bima karena telah menikah dengan putrinya.


“Bima? Bima siapa Bu?”


“Bima, pria yang telah masuk kedalam penjara ini lima bulan yang lewat.”


Laporan dari Murni langsung di periksa, setiap data yang ada di lihat dan periksa sejara detail, setelah sekian lama memeriksa, para sipir lapas itu tak menemukan penghuni lapas yang bernama Bima.


“Ibu yakin kalau Bima itu di tahan disini?”


“Yakin Pak, bahkan dia itu adalah suami putri saya.”


“Kenapa Ibu menjebloskannya ke dalam penjara, kalau dia itu adalah suami putri Ibu.”


“Itu, semua karena Pak Anton.”


“Pak Anton? jadi Ibu istrinya Pak Anton?”


“Iya, Pak.”


“Kalau nggak, begini saja Bu, mari kita lihat langsung ke dalam, apa benar tahanan yang bernama Bima ada didalam atau tidak.”


“Baiklah, mari.”


Kepala sipir dan Murni pun masuk kedalam, mereka berdua memeriksa sel tahanan itu satu persatu, lalu mereka melihat Bima ada diantara mereka.


“Itu dia Pak!” teriak Murni seraya menghampiri Bima.


“Jadi dia ini menantu Ibu?”


“Iya Pak.”


“Lalu kenapa Ibu menahannya?”


“Ceritanya panjang, saya malu untuk membahasnya dengan orang lain,” jawab Murni sembari tertunduk malu.

__ADS_1


“Baik, kau tahanan nomor berapa?” tanya kepala sipir pada Bima.


“Saya nggak tahu Pak.”


“Nggak tahu, emangnya sebelum kau masuk kedalam penjara ini, mereka tak memberimu nomor tahanan.”


“Nggak Pak.”


“Kau di tahan karena kasus apa?”


“Aku nggak tahu Pak.”


“Nggak tahu? lalu kenapa kau berada di dalam sel, kalau kau nggak bersalah?”


“Pak Anton yang menahan saya Pak.”


“Baiklah kalau begitu, nanti siang suruh Anton datang menghadap saya.”


“Siap!” jawab seorang prajurit.


“Begini saja Bu, sekarang Bima akan kami lepaskan, tapi kasus Bima akan kami selidiki lagi, mungkin Pak Anton terlibat dalam masalah ini.”


Mendengar suaminya terlibat dalam masalah penahanan Bima, Murni merasa cemas dengan pekerjaan suaminya itu.


“Kau dari mana Murni? Tanya Anton ketika Murni tiba di depan rumahnya.


“Dari kantor polisi.”


“Ngapain kau kesana?”


“Aku ingin memastikan, berapa lama lagi Bima di tahan.”


“Ternyata kau terlibat di dalamnya Pa.”


“Terlibat apa?”


“Tadi Mama langsung bertemu dengan pimpinan sipir lapas.”


“Pimpinan lapas?”


“Iya, ternyata Bima tak terdaftar dalam urutan nara pidana. Papa ternyata sengaja melakukan itu semua, hanya karena sakit hati bukan?”


“Apa maksud Mama bicara seperti itu?”


Ketika mereka berdua sedang membahas hal itu, tiba-tiba saja seorang prajurit datang menemui Anton.


“Lapor Pak! saya mendapat tugas untuk mengantarkan surat ini ke pada Bapak.


Dengan cepat Anton mengambil surat itu dari tangan prajurit tersebut dan diapun langsung membacanya. Terlihat raut wajah yang berbeda saat sepucuk surat itu di baca oleh Anton.


“Ada apa Pa?” tanya Murni ingin tahu.


“Surat panggilan.”


“Surat panggilan apa?”


“Surat panggilan dari pimpinan lapas. Ini semua gara-gara Mama, yang selalu ikut campur urusan papa.”

__ADS_1


“Lho, kok Mama yang Papa salahkan, udah jelas Papa yang bersalah.”


“Masih saja membantah!” bentak Anton seraya pergi meninggalkan rumah.


Murni yang melihat suaminya pergi dengan perasaan tak senang, dia pun tampak terpaku diam di depan pintu. Saat itu Dira pun muncul dari arah dapur menghampiri Murni yang masih terdiam.


“Ada apa sih Ma?” tanya Dira ingin tahu.


“Papa mu mendapat surat panggilan.”


“Surat panggilan? dari siapa?”


“Dari pimpinan lapas.”


“Emangnya Papa salah apa sih, Ma?”


“Dia telah memenjarakan Bima secara ilegal."


“Maksud Mama?”


“Bima tak ada dalam daftar para NAPI.”


“Papa benar-benar keterlaluan, dia tega melakukan semua itu pada putrinya sendiri.”


“Saat ini Bima sudah lepas, dan dia kembali pada orang tuanya, kalau kau ingin menemuinya pergilah,” ujar Murni dengan suara lembut.


“Mama serius?”


“Iya Nak, pergilah.”


“Terima kasih Ma.”


Dengan senang hati, Dira langsung berlari kedalam kamarnya, dia bersiap-siap untuk menemui suaminya yang telah bebas dari penjara. Dengan menaiki angkot, Dira pun menuju bukit suar.


Benar apa yang di katakan Mamanya, kalau Bima sudah keluar dari dalam penjara, Dira sangat senang sekali karena bisa berkumpul dengan suaminya.


“Maafkan kesalahan Papa ku, Bu,” ucap Dira pada Maryati.


“Udah, semuanya sudah terjadi, yang terpenting sekarang, kalian harus pergi dari sini, carilah rumah kontrakan yang aman untuk kalian berdua.”


“Baik Bu, nanti sore aku akan mencari rumah kontrakan itu,” jawab Bima dengan suara lembut.


Bersama Dira, Bima mulai menempuh hidup baru mereka, dia meninggalkan Maryati dan juga orang-orang yang dia sayangi.


Di rumah baru yang ditempatinya, Bima dan Dira mulai menjalani hidup dari awal. Beberapa tahun menikah, Bima pun di karuniai seorang putra yang tampan dan lincah, mesti saat itu Bima sudah mapan dan punya pekerjaan tetap, tapi sepertinya Bima lupa dengan Ibu yang dia cintai.


Hidup yang berkecukupan membuat Bima semakin jauh dari keluarga dan adik-adiknya, dia sibuk membenahi keluarga kecil yang baru saja dibinanya.


Sementara itu Maryati berjibaku, untuk mencari nafkah mencukupi keperluan keluarga, dia bekerja apa saja, asal anak-anaknya bisa bersekolah, sedangkan suaminya Tomi sudah lama tak bekerja, karena kontraktor yang menerimanya bekerja telah pergi.


“Rasanya aku udah nggak kuat lagi melakukan ini semua Bang, aku udah lelah.”


“Lalu kita mesti gimana lagi?”


“Cari pekerjaan apa saja, asalkan Abang dapat membantu perekonomian kita.”


“Tapi pekerjaan apa yang mesti Abang cari Yati?”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2