Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 22 Sadar dari koma


__ADS_3

“Kenapa berhenti Kak?” tanya Heru ingin tahu.


“Sepertinya Kakak begitu lelah Her.”


“Benarkah, tapi aku nggak percaya, karena selama ini Kakak orang yang paling kuat dan tak pernah mengalami kelelahan.”


“Tapi kali ini sangat berbeda sekali Dek.”


“Baiklah, kalau begitu kita semua akan beristirahat di sini.”


Mereka berempat pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Heru yang tak tahu apapun tentang kejadian itu, memandang wajah Danu dengan seribu pertanyaan.


“Kenapa kau menatap ku seperti itu?” tanya Danu pada Heru.


“Nggak ada,” jawab Heru seraya menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan kita.”


“Baik.”


“Tapi ingat, jangan kalian beri tahu Ibu tentang Maryati yang ada di Desa Cempaka.”


“Emangnya kenapa kak?”


“Karena Ibu akan sedih dengan kejadian yang menimpa Yati.”


“Bukankah selama ini kita dan Ibu, sama-sama suka menyiksa Yati. Lalu kenapa sekarang Ibu malah sedih, semestinya senang dong, karena parasit yang ada di rumah kita telah pergi.”


“Diam kau Heru, mulutmu ternyata lebih tajam dari yang ku kira.”


“Apa aku salah bicara, Kak.”


“Kau nggak salah bicara, tapi mulut mu itu, kau nggak sanggup menjaganya.”


“Baik kalau itu yang Kakak inginkan aku akan diam saja dan nggak mau bicara lagi,” ujar Heru seraya berlari meninggalkan Danu dan kedua kakaknya yang lain.


“Heru! kau mau kemana, tunggu kami!” seru Danu seraya mengejar Heru yang terus saja berlari meninggalkan mereka semua.


Beberapa jam kemudian, tibalah mereka berempat di sawah miliknya, namun setibanya di sawah, Roro telah menunggu mereka berempat. Roro menatap wajah-wajah mereka dengan rasa amarah yang meluap-luap.


“Ibu?”


“Ya, Ibu sudah menunggu kalian sekitar lima jam yang lalu, Ibu marah jika jawaban kalian nggak sesuai dengan keinginan Ibu, tapi kalau kalian dapat bicara sesuai dengan keinginan Ibu, maka kalian semua terhindar dari hukuman.”


“Baiklah, kalau Ibu ingin aku berkata jujur, maka aku akan bicara apa yang barusan kami lakukan.”


“Baik. Bicaralah apa yang telah kalian lakukan.”


“Seperti yang Ibu inginkan, aku bersama ketiga adik sedang mencari keberadaan Maryati, namun hingga saat ini kami belum menemukannya.”


“Kakak bohong!” jawab Heru dengan suara lantang.


Mendengar jawab dari Heru yang tiba-tiba, Danu menjadi terkejut, namun matanya berusaha mengedip Heru, hingga anak itu tak bisa melanjutkan ucapannya.


“Ada apa Heru? apa yang ingin kau katakan pada Ibu nak?”

__ADS_1


Saat melihat mata Kakaknya, Danu jadi berubah pikiran, dia tak mau melanjutkan ucapannya. Hal itu membuat Roro menjadi heran dan menatap mata Danu dengan penuh tanda tanya.


“Kau menakuti adik mu Danu?”


“Nggak Bu.”


“Lalu, kenapa Heru nggak jadi bicara, setelah menatap wajah mu?”


“Aku hanya melarangnya bicara sembarangan Bu, karena hal itu dapat membuat Ibu merasa syok dan sedih.”


Mendengar jawaban Danu yang masuk akal, Roro tak langsung memarahi mereka berempat, dia mencoba memahami apa yang sedang di perbuat oleh putranya itu.”


“Baiklah, untuk kali ini, Ibu sangat memahami kalian semua, tapi ingat sekali lagi kalian membuat kesalahan dan meninggalkan semua kerbau ini bersama adik-adik mu, maka kau akan mendapatkan hukuman yang berat dari Ibu.”


“Baik Bu,” jawab Keempat anak Roro dengan suara pelan.


Selesai memarahi keempat anaknya, Roro kemudian pergi meninggalkan mereka semua. Danu yang paling besar di antara mereka mencoba membujuk adik-adiknya agar mereka semua tetap kompak dan saling membantu satu sama lainnya.


“Heru, kau adik Kakak yang paling Kakak sayangi, lain kali kau jangan bicara lagi di depan Ibu kita ya, karena jika Ibu tahu tentang keberadaan Maryati dia pasti akan menyakitinya lagi. Biarkan Maryati pergi dari rumah kita untuk selama-lamanya, agar tak ada lagi orang yang akan mengganggu hidupnya.”


“Baik Kak.”


“Bagus, ingat kita semua harus kompak dan saling membantu.”


Mendengar ajakan Danu yang diucapkannya dengan suara lembut dan pelan, kesembilan adik-adiknya mengikuti apa saja yang di ucapkan Kakaknya itu, mereka semua patuh dan tak ada yang membantahnya.


Sementara Itu, Maryati yang saat itu masih tak sadarkan diri, tampak mulai menggerakkan jemari tangannya. Nora, perawat puskesmas yang melihatnya langsung berteriak girang.


Nora pun berlari keluar ruangan sembari memanggil polisi yang saat itu sedang bertugas. Mendengar ucapan Nora polisi itupun bergegas masuk kedalam ruangan rawat Maryati.


Setibanya di dalam kamar, Polisi itu mendengarkan Maryati memanggil-manggil Ibunya, polisi itu berusaha untuk membangunkan Maryati dengan pelan.


Namun tak ada jawaban dari Maryati, karena saat itu gadis kecil itu belum sepenuhnya sadar dari koma yang dia alami.


“Gimana Pak, apakah dia sudah sadar?” tanya Nora ingin tahu.


“Sepertinya belum, mungkin itu hanya bagian dari alam bawah sadarnya.”


“Jadi, dia belum sadar ya?”


“Belum, tapi kamu tetap pantau terus perkembangannya, jika terjadi sesuatu, maka cepat laporkan pada kami.”


“Baik Pak,” jawab Nora pelan.


Setelah polisi keluar dari kamar Maryati, gadis kecil itu pun kembali menggerakkan jemari tangannya.


“Dek, apakah kau sudah sadar?” tanya Nora dengan suara lembut.


Lalu Maryati mencoba untuk membuka kedua matanya dengan pelan, ketika kedua matanya terbuka, Maryati melihat wajah Nora yang tampak tersenyum.


“Aku ada dimana?”


“Kau sedang berada di rumah sakit dek.”


“Rumah sakit?”

__ADS_1


“Iya.”


“Siapa yang telah membawaku kerumah sakit?”


“Kebetulan tadi ada para pemburu yang kebetulan melintas di tempat kau akan di bunuh.”


“Apa? aku akan di bunuh?”


“Kata polisi, memang begitu dek, apakah kau masih ingat siapa yang telah melakukan semua itu?”


Mendengar pertanyaan perawat itu, Maryati hanya diam saja, dia bingung mesti menjawab apa saat itu, haruskah dia berkata jujur atau berbohong.


“Tunggu sebentar ya Dek, Kakak akan memanggil polisi yang saat ini sedang berjaga di luar.”


“Polisi? kenapa ada polisi Kak?”


“Kakak nggak tahu, biar polisi aja yang akan menjelaskannya nanti pada mu.”


“Baik lah.”


Lalu perawat itu pun keluar untuk menemui polisi yang saat itu masih berjaga di luar kamar Maryati.


“Ada apa, Sus?”


“Sepertinya gadis itu sudah sadar Pak.”


“Benarkah?”


“Iya.”


“Baiklah, biar kami memeriksanya dulu.”


“Baik Pak,” jawab Nora sembari mengikuti langkah polisi itu dari belakang.


“Selamat siang Dek,” sapa polisi itu dengan suara lembut.


“Selamat siang.”


“Gimana keadaan mu saat ini, apakah kamu sudah mulai stabil?”


“Sudah Pak.”


“Kenapa begitu banyak polisi di rumah sakit ini?”


“Kami sengaja menjaga keamanan mu.”


“Menjaga keamanan ku? kenapa?”


“Beberapa hari yang lalu telah terjadi percobaan pembunuhan pada mu.”


“Percobaan pembunuhan pada ku?”


“Iya, apakah kau masih ingat dengan kejadian itu?”


Mendengar pertanyaan yang di ajukan polisi padanya Maryati tak langsung menjawabnya, dia bingung mesti berkata bagai mana.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2