Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 9 Niat yang terkendala


__ADS_3

“Maaf Den, boleh kagak, Mamang nanya sesuatu pada Aden?”


“Mau nanya apa Mang?”


“Emangnya apa sih tujuan Aden datang kerumah non Roro?”


“Entahlah Mang, sepertinya semakin hari, hati ku semakin tak tenang Mang.”


“Maksud Aden, nggak tenang gimana?”


“Itulah, Mang, aku nggak bisa menjelaskannya pada Mamang, tapi rasanya …ah, aku nggak bisa menjelaskannya Mang, suatu hari nanti, pasti Mamang akan tahu sendiri tentang kegelisahan ku ini.”


Mendengar jawaban dari majikannya, Ujang seperti merasakan sesuatu yang lain pada diri pria yang selalu tersenyum ini.


Mesti demikian, Ujang tak bisa berbuat banyak. Karena kegelisahan itu hanya Arya sendiri yang tahu.


“O iya, Mang. Kita mampir dulu di warung itu, mungkin anak-anak butuh makanan ringan di dalam kereta nanti.”


“Baik Den,” jawab Mang Ujang sembari memperlambat laju kereta kudanya.


Setelah kereta berhenti dengan pelan Arya pun berjalan menuju warung itu, tampak seorang perempuan tua duduk di sebelah sudut warungnya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Arya dengan suara lembut.


“Wa’alaikum salam,” jawab perempuan tua itu.


Lalu, tangan Arya yang terasa sedikit dingin diulurkan nya untuk menyalami perempuan tua itu.


“Bu, saya mau numpang nanya?”


“Iya, mau tanya apa nak?”


“Apakah Ibu kenal dengan wanita pemilik rumah besar itu?”


“Ya tentu, wanita pemilik rumah itu, dulunya orang miskin dan tak mampu, semua orang Desa ini selalu mengejeknya, karena dia selalu bicara sombong dan angkuh.”


“Benarkah itu?”


“Iya nak, tapi sekarang dia telah menjadi orang paling terkaya di Desa ini, sekaligus orang yang paling kikir dan pelit.”


“Benarkah?”


“Iya nak, kalau boleh Ibu tahu, apa sih urusan mu dengan wanita itu?”


“Wanita itu adalah adik ku, Ibu.”


“Ya ampun, kalau begitu maafkan atas ucapan Ibu ya nak?”


“Iya Bu. Aku tahu, apa yang Ibu katakan itu, benar adanya, karena aku sangat kenal sekali dengan adik ku itu, dia memang seperti itu dari dulunya.”


“Tapi Ibu berkata benar Nak, nggak ada unsur menghina dan melecehkan adik mu sedikit pun.”


“Iya Bu. Aku sangat mengerti sekali. O iya, emangnya suaminya kemana sih Bu? kenapa aku nggak melihatnya tadi?”


“Ooo, suaminya kan udah lama meninggal nak, sudah hampir dua tahun. Apakah kalian nggak di beri kabar?”


“Nggak, Bu,” jawab Arya seakan tak percaya.


“Kenapa dia nggak mengabari saudaranya sendiri ya?”


“Entahlah Bu. ya udah, kalau begitu kami pamit dulu Bu, terimakasih atas semua informasinya. Saya permisi dulu, ini uang bayaran makanan anak-anak,

__ADS_1


Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab wanita tua itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tanpa berfikir panjang lagi, Arya pun membawa kedua putrinya kembali pulang kerumah. Seakan tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya, tampak Arya duduk termenung di samping kedua putrinya.


“Kenapa ya, Aku nggak di kabari ketika Ilham meninggal dunia, ada apa dengan mu Dek, lama kelamaan, Kang Mas semakin tak mengerti dengan jalan pikiranmu,” gumam Arya pelan.


Sedang asik melamun, lalu Arya di kejutkan oleh putri sulungnya Sulastri yang tiba-tiba saja menarik tangannya.


“Ayah, Ayah! kenapa Ayah diam saja? Ayah lagi mikirin Bibi ya?”


“Sayang, Ayah nggak lagi mikirin siapa-siapa kok.”


“Benar Ayah nggak mikirin siapa-siapa?”


“Benar sayang.”


“Tapi Lastri lihat Ayah sedang memandangi jalan dengan tatapan mata yang nanar.”


“Maafkan Ayah sayang.”


“Ayah, kenapa ya, Bibi Roro itu jahat sekali sama Ayah, emangnya Ayah punya salah apa sih padanya? bukankah kata Ayah Bibi Roro itu saudara Ayah satu-satunya.”


“Ayah nggak punya salah apa-apa sama Bibi mu sayang.”


“Lastri sangat takut sekali melihat wajah Bi Roro itu Ayah, sepertinya dia itu perempuan galak sekali. Apalagi, saat melihat anak-anaknya yang kasar itu, rasanya Lastri melihat harimau saja.”


“Lastri yang sabar ya nak, mungkin Bi Roro lagi ada masalah. Jadi dia agak sedikit terganggu saat kedatangan kita kerumahnya.”


“Ooo, iya Ayah, kayaknya Bi Roro itu punya banyak anak ya, Yah.”


“Ada, kalau nggak salah, ada sepuluh orang Ayah.”


“Sepuluh orang?”


“ya Ayah.”


“Wow, ternyata Bi Roro memiliki banyak keturunan rupanya.”


“Iya Ayah."


“Semoga saja kehidupan Bibi mu, aman dan sejahtera selalu.”


“Aamiin..!”


Di saat mereka berbincang-bincang, Mang Ujang pun memacu kereta kuda miliknya dengan cepat. Agar mereka semua segera tiba dirumah, karena Ujang tak ingin kesedihan yang di rasakan oleh majikannya semakin mendalam.


Setelah mereka semua tiba di rumahnya, Arya langsung mengajak kedua putrinya untuk masuk kedalam, sementara Ujang, dia pergi ke dapur untuk menemui Tini.


“Tin, mana Burhan?” tanya Ujang pada Tini.


“Sedang pergi, Jang. Ada perlu apa?”


“Aku ingin bicara sebentar dengannya.”


“Sebentar lagi, dia juga akan kembali kok.”


“Ya udah, nanti aku akan datang lagi kesini.”


“Emangnya kau mau membahas apa sih Jang?”

__ADS_1


“Sebenarnya, aku nggak ingin membahas masalah ini, tapi aku sendiri jadi sedih, jika nggak membaginya langsung dengan orang lain.”


“Emangnya apa sih Jang, cerita dong?”


“Baik, aku akan ceritakan hal ini pada mu Tin, tapi ingat, cukup ini hanya jadi rahasia kita berdua.”


“Iya.”


“Begini, tadi aku baru saja kembali dari rumah non Roro kedasih.”


“Non Roro kedasih?”


“Iya Tin.”


“Ngapain Den Arya kesana?”


“Aku dengar dari percakapan mereka di atas kereta, sepertinya Den Arya hendak menitipkan kedua putrinya pada Roro, Tin.”


“Ya Allah, kenapa Den Arya hendak menitipkan Lastri dan Maryati pada Roro, bukankah perempuan itu sangat kejam dan jahat.”


“Itu benar sekali. Kau tahu nggak Tin.”


“Apa itu?”


“Ketika kami berempat tiba di depan rumah non Roro, kami langsung di sambut oleh para bodyguard Roro.”


“Maksud mu non Roro kedasih punya bodyguard?”


“Bukan.”


“Lalu apa?”


“Ada sepuluh orang anak laki-laki berdiri menghalangi kami masuk ke rumahnya yang mewah itu.”


“Jadi anak non Roro, ada sepuluh orang?”


“Sepertinya begitu Tin, kesepuluh anaknya terlihat begitu bengis dan kasar.”


“Jadi, kalian semua nggak di izinkan masuk?”


“Awalnya sih, nggak, tapi setelah salah seorang melaporkannya pada Roro, akhirnya Den Arya dan kedua putrinya di izinkan masuk kedalam rumah besar itu.”


“Kau kenapa nggak ikut kedalam Jang?”


“Aku dihalangi oleh para jagoan Roro itu.”


“Jadi, cuma Den Arya yang hanya masuk kedalam?”


“Iya.”


“Emangnya, kenapa ya, Den Arya menitipkan kedua putrinya pada Roro?”


“Entahlah Tin, aku nggak tahu.”


“Aduh, kasihan sekali kalau mereka berdua harus tinggal dirumah non Roro.”


“Iya Tin.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2