Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 93 Kekesalan


__ADS_3

“Gimana dek, kamu setuju dengan niat Abang?”


“Nggak, aku nggak mau Bang.”


“Dasar bodoh, kenapa nggak mau? kau kira dengan hidup sederhana dapat membahagiakan keluarga mu?”


“Biarlah seperti ini saja Bang.”


“Huuh, dasar bodoh! lihat saja nanti, Abang bisa membuatmu lebih susah lagi dari saat ini,” ancam Bima kesal.


Andi tak menyangka sama sekali, kalau Bima yang selama ini begitu baik bahkan telah menjadi orang kepercayaan Ahong, tega berbuat jahat dan mengkhianati bosnya sendiri.


Sementara itu, Bima yang tak terima karena Andi menolak untuk bekerja sama dengannya, dia pun mencari cara agar Andi bisa di keluarkan dari tempat kerjanya.


Tak di sangka sama sekali, dua hari setelah peristiwa itu, Andi di panggil Ahong ke ruangannya, semua pekerja menatap Andi dengan pandangan yang berbeda.


Andi sendiri tak mengetahui kenapa dia di panggil Ahong, pada hal dia tak pernah melakukan kesalahan sama sekali di toko itu.


“Salam Bos,” sapa Andi ketika dia memasuki ruangan Ahong.


“Salam, silahkan duduk.”


“Baik Bos.”


“Andi, kau tahu kenapa saya memanggil mu?”


“Nggak Bos, emangnya kenapa ya, aku di panggil?”


“Sebenarnya saya nggak percaya sih, kalau kau itu tega berbuat seperti itu pada saya, tapi untuk kali ini, saya beri kau kesempatan untuk tetap bekerja disini.”


“Maksud Bos, apa ya? aku nggak ngerti.”


“Kau kan, orangnya yang telah menukar barang asli dengan yang palsu pada pelanggan?”


“Ya Allah, siapa sih Bos, yang telah membuat tuduhan seperti itu?”


“Kau nggak perlu tahu, tapi kau akan tahu sendiri nanti, kalau kau mau bekerja sama dengan saya untuk menangkap pelaku aslinya.”


Ucapan dari Ahong membuat jantung Andi bergetar kuat, karena saat itu Andi di beri tawaran untuk menangkap pelaku yang sebenarnya, yaitu Abangnya sendiri.”


“Gimana, apakah kau setuju?” desak Ahong pada Andi.


“Kenapa nggak orang lain saja yang Bos suruh?”


“Di toko ini, hanya dua orang yang saya percaya, yaitu kau dan Bima. Jika kau nggak setuju, saya terpaksa menyuruh Bima untuk melakukannya.”


“Maaf Bos, apakah mata Bos nggak salah lihat?”


“Maksud mu apa?”


“Selain aku, apakah Bos nggak mencurigai Bima?”

__ADS_1


“Mencurigai Bima?”


“Karena Bima lah orang yang selama ini, menjual barang-barang itu pada pelanggan, kami semua hanya hanya suruhan Bima, mengambilkan barang yang dia minta.”


“Begini saja, mulai besok kau cek semua barang kita yang ada di gudang, pastikan keasliannya, jangan sampai ada yang terlewatkan satu pun.”


“Agar Bima tak mencurigai ku, aku minta beberapa orang ikut bersama ku memeriksa semua barang itu Bos.”


“Baik, besok satu container akan datang dari jepang membawa sparepart honda yang asli, setelah barang itu turun, tolong kau pastikan barang itu langsung di masukan ke gudang lalu kuncinya berikan pada saya.”


“Baik Bos.”


“Nanti kalau ada yang bertanya, katakan saja, kalau ini adalah perintah dari saya.”


“Baik Bos.”


Andi sangat senang kalau dia di beri kepercayaan untuk menyelidiki kasus penipuan itu, tapi yang membuat Andi merasa kesulitan adalah, Andi tahu kalau yang melakukan penipuan itu adalah Abangnya sendiri.


Malam itu, saat Andi duduk di teras rumahnya bersama Ria, Andi menceritakan semua kejadian itu pada istrinya.


“Lalu apa yang mesti kita lakukan Bang?”


“Itu masalahnya Ria, Abang sendiri nggak tahu harus bagai mana, karena Abang tahu sendiri, kalau yang melakukan itu adalah Bang Bima.”


“Kenapa Bang Bima bisa sejahat itu ya?”


“Barang kali, karena desakan ekonomi.”


“Iya juga sih, kehidupan mereka jauh lebih baik dari kita, tapi orang yang serba berkecukupan seperti Bang Bima itulah, yang selalu merasa kekurangan.”


“Kalau seandainya nanti ketahuan, bagai mana cara Abang memberi tahu Pak Ahong.”


“Sampai saat ini, Ahong belum tahu kalau aku adalah adik kandung Bima. Mesti demikian, aku bingung dengan semua ini.”


Mesti berfikir sekeras apapun, Andi tetap tak menemukan jalan penyelesaian nya.


Pagi hari setelah Andi bersiap-siap hendak pergi ke toko, tiba-tiba saja dia di hadang oleh Bima dari depan.


Bima menarik kerah baju Andi dan memukul adiknya dua kali. Andi tak membalasnya, karena dia sendiri tak tahu kenapa Bima memukulnya saat itu.


“Apa-apaan ini Bang, kenapa Abang memukul ku?”


“Itu balasannya untuk orang yang terlalu banyak ikut campur urusan orang lain.”


“Maksud Abang apa? aku nggak mengerti?”


“Kau tanya sendiri pada dirimu!” bentak Bima seraya meninggalkan Andi yang terduduk di pinggir jalan.


Dengan wajah memar di bawah matanya, Andi pun bangkit dan melanjutkan perjalanannya menuju toko.


“Wajah mu kenapa Andi?” tanya Yusa heran.

__ADS_1


“Di pukul Bang Bima.”


“Kenapa Bang Bima memukul mu?”


“Aku sendiri nggak tahu, apa kesalahan yang telah ku perbuat, tiba-tiba saja dia menghadang ku dan memukul ku.”


“Kapan kejadiannya?”


“Barusan, saat aku turun dari rumah.”


“Kenapa ya, Bima melakukan hal itu pada Andi?”


“Atau jangan-jangan?”


“Jangan-jangan apa, Rul?”


“Jangan-jangan yang telah melakukan penipuan itu Bima.”


“Jangan souzon dulu,” bantah Andi pada kedua temannya.


“Hei bro! coba kalian pikir pakai otak, Bima itu kan selama ini menjadi kepercayaan bos, sehingga seluruh kunci dia yang pegang. Bisa saja kan, disaat semua orang sedang tertidur di rumahnya, Bima datang ke toko ini dan menukar semua barang yang asli dengan barang yang palsu.”


“Iya juga ya,” timpal Asrul sembari mengangguk kan kepalanya.


Disaat mereka bertiga sedang asik membahas masalah Bima, tiba-tiba saja di depan ketiganya sebuah truk container berhenti, saat bersamaan Ahong langsung keluar dari ruangannya.


Biasanya yang mengurus kedatangan barang di percayakan Ahong pada Bima, tapi untuk saat itu, Ahong sendiri yang turun tangan dan memerintahkan Andi dan kedua temannya untuk menurunkan barang, serta memeriksa keaslian barang itu, di depan Bima.


“Andi, langsung kau perhatikan merek dan labelnya, apakah cocok dengan pesanan kita atau nggak.”


“Baik Bos,” jawab Andi singkat.


Hati Bima terasa begitu sakit sekali, karena saat itu, Andi yang di percaya untuk mengatur barang yang datang serta memeriksa kecocokannya.


“Awas kau Andi, kau tunggu kemarahan ku!” gerutu Bima seraya mengepal tinjunya dengan kuat sekali.


Bukan hanya di toko Bima merasa kesal, kekesalannya itu di bawa Bima pulang kerumah. Dira yang melihat ada kemarahan di wajah suaminya, mencoba untuk mencari tahu.


“Kamu kenapa sih Bang? kok dari tadi ku perhatikan, wajah Abang nggak ada manisnya?”


“Buat apa berwajah manis, kalau hati lagi sakit,” jawab Bima ketus.


“Sakit kenapa? emangnya ada orang yang berani menyakiti hati Abang?”


“Buktinya hari ini, dia telah terus terang melakukannya di depan mata ku.”


“Siapa dia?”


“Siapa lagi kalau bukan, Andi. Dasar adik nggak tahu diri, udah syukur di carikan pekerjaan, bukannya berterima kasih, eh malah aku yang di fitnahnya.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2