Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 82 Kelakuan Arman


__ADS_3

“Kenapa kau nggak memakannya, kalau kau memang kepingin?”


“Aku nggak mau buah hasil curian.”


“Siapa yang mencuri, buah itu aku beli kok, di toko buah.”


“Tapi aku udah nggak percaya dengan ucapan Abang, yang sedari dulu paling suka berbohong.”


“Kalau kau nggak mau memakannya, ya nggak apa-apa, nggak usah di makan, tapi jangan disimpan. Letakan saja di luar.”


“Nggak akan.”


“Kau ini kenapa sih Tia? selalu saja menaruh curiga pada suami sendiri.”


“Gimana aku nggak curiga coba, kalau hampir tiap hari, tak satu ucapan mu yang bisa ku percaya.”


Arman hanya diam saja saat Tia bicara seperti itu, bukan hanya Tia yang tak mempercayainya, hampir semua orang yang tinggal di Desa itu merasakan hal yang sama.


Beberapa minggu setelah itu, Tia mendapatkan suaminya kembali pulang dengan membawa selembar triplek. Triplek itu sengaja di ambil Arman dari sebuah rumah yang sedang di bangun. Arman berniat untuk mengganti dinding kamarnya yang sudah lapuk dan rusak.


“Kau dapatkan benda itu dari mana Bang?” tanya Tia pada suaminya.


“Ku beli di toko bangunan.”


“Benar kau beli?”


“Kenapa sih kau nggak percaya sekali dengan apa yang aku lakukan Tia.”


“Bukannya aku nggak percaya, tapi aku takut setelah benda itu kau pasang, lalu aku mendengar ada orang yang kehilangan triplek miliknya.”


“Alah, kalau hanya untuk sebuah bangunan yang besar, aku yakin nggak akan ada yang merasa kehilangan.”


“Jadi benar Abang telah mencurinya?”


“Kau ini kenapa sih Tia! itu ke itu saja yang di bahas setiap saat.”


“Karena aku takut, dengan apa yang kau lakukan itu Bang.”


“Sudahlah Tia, capek bicara dengan mu!” ujar Arman dengan suara ketus.


Setelah kejadian hari itu, Arman bukannya mendengarkan ucapan Tia, dia justru membawa satu karung buah mangga yang masak. Setibanya di rumah buah hasil curian itu langsung di masukkan Arman kedalam kamarnya.


“Benda apa lagi yang kau curi Bang?” tanya Tia, yang tak pernah bosan-bosannya bertanya pada suaminya.


“Kau ini ya, lama kelamaan aku jadi marah juga padamu! masak sana, jangan terus menerus mengurusi aku.”

__ADS_1


“Kalau kau nggak mau aku urusin, maka pergilah dari hidupku, nggak usah datang lagi untuk selamanya.”


“Ooo, itu mau mu! baik, lihat saja nanti!” ancam Arman pada Tia.


“Kau nggak perlu mengancam ku, aku lebih tahu semua yang ada di otakmu itu.”


“Huuh..! dasar istri tak berguna!” ujar Arman seraya meninggalkan Tia sendirian di dalam rumah.


“Kau yang suami nggak berguna, kelakuan mu lebih buruk dari penjahat.”


Ketika suaminya pergi, Tia membuka karung yang di sembunyikan Arman di balik pintu kamarnya. Akan tetapi, betapa terkejutnya Tia, ketika isi karung itu adalah buah mangga yang begitu banyak.


“Ya Allah, buah mangga siapa yang kau curi Bang? kenapa semakin hari, kau nggak pernah menyesali perbuatan mu!” gerutu Tia pada dirinya sendiri.


Merasa tak tenang, lalu Tia memberitahukan buah mangga itu pada Ruslan. Ruslan yang mendengar cerita Tia, dia langsung memeriksa isi karung yang di sembunyikan Arman di balik pintu kamarnya.


“Ya Allah, buah mangga siapa yang telah di curi oleh suami mu ini Tia?”


“Aku nggak tahu Bang.”


“Apakah kau nggak tanya, dia mendapatkan semua ini dari mana?”


“Jika aku bertanya terus, dia pasti marah pada ku Bang.”


“Satu minggu yang lalu, dia pulang kerja seraya membawa satu lembar seng, esoknya satu keranjang buah, besoknya lagi, satu kantong daging, kemudian satu lembar triplek dan hari ini satu karung mangga. Aku takut kalau aku masih bertanya, maka dia akan memarahi ku.”


“Kurang ajar kau Arman, kau ingin mempermalukan aku pada semua orang ternyata,” gerutu Ruslan kesal.


Sambil menunggu kepulangan Arman, Ruslan tampak duduk sangat gelisah sekali, sementara Tia merasa ketakutan saat itu. Mungkin karena tegang akhirnya perut Tia merasa sakit.


Tia menjerit histeris di hadapan semua anggota keluarga Ruslan, melihat adiknya kesakitan, Ruslan menjadi panik, dia bahkan memerintahkan seisi rumah untuk mengangkat tubuh Tia dan membawanya ke rumah sakit.


Saat di periksa, ternyata Tia hendak melahirkan, Ruslan beserta istrinya tampak sedang duduk di kursi tunggu. Mesti diam, namun Ruslan terlihat begitu cemas sekali, karena dia telah berjanji pada Ayahnya, untuk menjaga adiknya selama di Padang.


Tak berapa lama kemudian, mereka semua mendengar tangisan seorang bayi, saat itu hati Ruslan menjadi tenang, karena Tia telah melahirkan bayinya dengan selamat.


Dua hari berada di rumah sakit, Arman pun muncul di sana, tapi dia tak masuk kedalam. Arman hanya berdiri di luar saja, bahkan dia tak sempat melihat wajah putra yang baru dilahirkan Tia.


Sementara itu beberapa orang pria datang menemui keluarga Ruslan di rumahnya. Inel putri Ruslan menyambutnya dengan baik. Akan tetapi, mereka datang hanya ingin meminta ganti rugi atas barang dan buah-buahan yang telah di curi Arman.


“Sudah beberapa hari ini Pak Arman nggak pernah datang lagi kerumah ini.”


“Kenapa nak?”


“Aku nggak tahu, Pak. Tapi saat ini istrinya sedang melahirkan di rumah sakit.”

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu kami akan kesana sekarang.”


“Iya Pak.”


Karena tak menemui Arman di rumah Ruslan, beberapa orang pria itu langsung menuju rumah sakit untuk menemui Ruslan.


Para pria itu menceritakan semua barang mereka yang hilang setelah di curi Arman. Ruslan hanya bisa geleng-geleng kepala di buatnya.


“Jadi kau kehilangan seng?” iya Pak.


“Kalau kau?”


“Aku selembar triplek.”


“Kalau kalian semua?” tanya Ruslan dengan suara yang lantang.


“Aku yakin pasti Arman juga yang telah mencuri mangga milik ku?”


“Jadi kalian yang datang ini, semuanya melaporkan barang kalian yang hilang?”


“Iya Pak. Kalau bukan karena menghormati Bapak, aku pasti sudah melaporkan kejadian ini ke kantor polisi.”


“Baiklah, karena adik ku baru saja melahirkan, jadi aku minta tenggang waktu selama dua hari ini. Nanti aku sendiri yang akan datang ke sana.”


“Aku setuju sekali.”


Ketika para pria itu kembali pulang, meninggalkan rumah sakit, Ruslan menjadi semakin pusing dengan kelakuan Arman yang telah merusak nama baiknya.


“Kau benar-benar keterlaluan Arman, kalau aku tahu sifat jahat mu nggak bisa berubah, aku nggak bakalan menerima mu waktu itu, tapi semuanya telah terjadi.”


“Lalu apa yang mesti kita lakukan saat ini Bang?” tanya Tina ingin tahu.


“Entahlah aku sendiri nggak tahu, Arman benar-benar keterlaluan.”


“Aku juga jadi malu di buatnya, Bang.”


“Sudahlah, nanti saja kita bahas di rumah, setelah Tia pulih dan di izinkan pulang.”


“Baik Bang.”


Satu Minggu di rawat di rumah sakit, Tia pun di izinkan kembali pulang kerumah, sama seperti di rumah sakit, di rumah Tia juga tak menemukan Arman.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2