
Setelah Tedi pergi membawa Ibunya, Ana tampak tersenyum manis dan bahagia. Sementara itu, Tedi bersama Ibunya kembali pulang dengan menaiki honda.
Karena marah dan emosi, Tedi mengendarai kendaran hondanya dengan kecepatan tinggi, sehingga Maryati merasa ketakutan berboncengan dengannya.
“Kau bisa lambat sedikit nggak nak,” ujar Maryati dengan suara pelan.
“Nggak, lebih cepat sampai itu lebih baik.”
“Tapi Ibu takut nak.”
“Kenapa takut, mati hanya sekali kan, lagian Ibu kan sudah tua, untuk apa takut jatuh, ntar juga bakalan mati.”
Mendengar jawaban Tedi, jantung Maryati terasa mendidih, demi membela istrinya yang salah, Tedi sampai tega bicara seperti itu pada Ibunya.
Setibanya di rumah, Maryati terlihat sangat pucat sekali, Nisa yang melihat perubahan pada wajah Ibunya diapun langsung menghampiri.
“Ibu kenapa? kok wajah Ibu kelihatan begitu pucat?”
“Kena angin barang kali,” jawab Tedi dengan santai.
Tak ingin membahasnya lebih panjang lagi, lalu Nisa pun membawa Ibunya masuk kedalam kamar, mesti saat itu Maryati diam saja, tapi Nisa melihat keanehan pada diri Ibunya.
“Ibu kenapa?” tanya Nisa yang masih penasaran dengan kondisi Ibunya itu.
“Tadi Tedi memarahi Ibu, nak.”
“Bang Tedi memarahi Ibu?”
“Iya.”
“Tapi, kenapa Bang Tedi memarahi Ibu? apakah Ibu ada berbuat salah padanya?”
“Nggak, Ibu nggak berbuat salah padanya, huhuhuhu…!”
Nisa heran, kenapa Ibunya sampai menangis sedih seperti itu, kalau hanya masalah yang di alaminya sepele dan biasa saja, tak mungkin Ibunya sampai sedih dan menangis.
“Sekarang Ibu ceritakan pada aku, apa masalahnya sehingga Bang Tedi memarahi Ibu?”
“Ibu ingin pulang nak, saat Ibu hendak mengemasi barang bawaan Ibu, lalu Ibu nggak menemukan pakaian Ibu, kemudian Ibu bertanya pada Ana, apakah dia menyimpannya atau bagai mana.”
“Terus.”
“Padahal saat Ibu bertanya, Ana menjawabnya dengan baik dan hormat, tapi ketika Ibu bertanya lagi, Ana justru mengira kalau Ibu telah menuduhnya mencuri pakaian itu. Padahal, Ibu nggak pernah menuduhnya sama sekali.”
“Ooo, sekarang aku udah tahu, kalau Kak Ana, telah mengadukan semuanya pada Bang Tedi, lalu Bang Tedi memarahi Ibu, begitu kan?”
“Iya nak.”
“Keterlaluan sekali mereka berdua, biar saja Bu, suatu saat nanti, mereka pasti mendapat azab dari Allah.”
“Kau jangan bicara seperti itu Nisa, mungkin saja mereka berdua itu sedang khilaf.”
“Udah jelas mereka berdua itu menyakiti hati Ibu, masih saja Ibu bilang khilaf, memang ya hati Ibu ini, terbuat dari berlian barang kali.”
__ADS_1
Ucapan Anisa yang disertai senyum, membuat hati Maryati menjadi senang, hilang semua amarah yang bergelayut di hatinya saat itu.
Bersama putri bungsunya yang begitu baik, Maryati menjalani hari-harinya dengan bahagia, mereka berdua saling membantu dan bekerja sama satu dengan yang lainnya. Sementara Tomi, dia sudah tampak lemah tak berdaya, usia tua telah membuatnya sering lupa dan lamban.
Suatu ketika, Anisa di serang penyakit yang aneh, dia selalu saja buang air terus menerus tiada henti, sehingga, tubuhnya kelihatan sangat kurus, awalnya memang tak menjadi masalah untuknya, namun lama kelamaan Nisa tak sanggup lagi berjalan.
Maryati begitu cemas dengan penyakit yang di alami oleh putrinya itu, dia bahkan berusaha kesana kemari untuk berobat.
“Apa yang mesti kita lakukan Bu?” tanya Andi yang terlihat begitu sedih.
“Entahlah nak, Ibu jadi semakin bingung, padahal Ibu udah bawa dia kerumah sakit, ke orang pintar, lalu Ibu mesti bawa dia kemana lagi nak?”
“Ibu, aku punya seorang kenalan, mungkin saja, cocok dengan Kak Nisa.”
“Pergilah nak, tanyakan padanya, siapa tahu dia bisa membantu pengobatan Kakak mu.”
“Baik Bu,” jawab Andi yang segera bergegas pergi meninggalkan Ibunya.
Di rumah orang yang di kenalnya itu, Andi menceritakan semua yang sedang di alami oleh Kakaknya, lalu dia pun bersedia mengobati penyakit yang di derita Nisa.
Karena pria itu sanggup membantu mengobati penyakit parah yang di derita Nisa, lalu mereka berdua pun membawa Anisa ke rumahnya.
Di hadapan keduanya, pria itu mencoba memeriksa penyakit yang di alami oleh Anisa selama ini.
“Semenjak kapan kau mengalami penyakit aneh ini Nisa?”
“Sudah lebih dua bulan Bang.”
“Sepertinya ada orang yang telah berbuat jahat pada mu.”
“Kau tahu siapa orangnya nak?”
“Tahu Bu.”
“Lalu kenapa kau diam saja, nggak memberitahu kan Ibu sebelumnya.”
“Aku mengira, kalau itu hanya sekedar gertaknya saja Bu.”
“Kenapa dia begitu tega padamu?”
“Dia menginginkan aku menikah dengannya Bu.”
“Siapa dia nak?”
“Dia orang Desa sebelah, tapi dia itu telah berkeluarga, aku nggak mau merusak rumah tangga orang, itu sebabnya di marah pada ku.”
“Sekarang begini saja, karena kita sudah tahu siapa yang melakukan semua ini, jadi kita serahkan semuanya pada Allah, tugas kita tinggal untuk mengobatinya, mudah-mudahan Allah memberi kita kelancaran.”
“Aamiin!”
Pengobatan Nisa berjalan dengan baik, ternyata pria itu telah mengirimkan penyakit ketubuh Anisa. Agar Anisa menderita dan meninggal secara menyedihkan.
Selain menjalani pengobatan yang rutin, Anisa juga di anjurkan meminum minuman yang sudah diraciknya sendiri, agar kondisi tubuh Nisa kembali membaik.
__ADS_1
Beberapa hari setelah itu tubuh Nisa pun kembali sembuh dari penyakit aneh yang di deritanya, dia tampak ceria dan bisa kembali tersenyum.
“Emangnya kenapa sih Kak, orang itu bisa berbuat jahat pada Kakak?”
“Kakak juga nggak tahu dek.”
“Nggak mungkin Kakak nggak tahu.”
“Kamu ini kayaknya maksa ya?”
“Sekarang aku tahu jawabannya.”
“Apa?”
“Dia itu ingin Kakak mati secara perlahan, menderita dan menyesal tak menerima permintaannya.”
“Benarkah seperti itu?”
“Dia pasti berfikir, Kakak nggak bakalan mampu mencari orang pintar yang hebat untuk menyembuhkan penyakit yang Kakak derita, lalu diapun menawarkan pengobatan pada Kakak, tapi dengan satu catatan, harus menikah dengannya.”
“Aah kamu Ini! udah kayak peramal tahu.”
“Aku bicara serius kak.”
“Modus tahu nggak.”
“Alah, kak! nggak tahu perubahan zaman kayaknya Kakak.”
“Ya udah, semua yang kau katakan tadi, itu emang benar, jadi seratus nilai untuk mu, Kakak berikan.”
“Nggak perlu, aku udah terlanjur sakit hati.”
“Marah nih, ayo! marah sama Kakak sendiri dosanya besar lho.”
“Habis, Kakak nggak mau percaya sama orang hidup.”
“Sekarang Kakak udah percaya kok, jadi kau nggak perlu marah lagi sama Kakak.”
“Siapa juga yang marah sama Kakak.”
“Tadi tuh.”
“Hee…! Kakak salah kali!”
“Ooo, jadi kamu sengaja ledek Kakak ya,” ujar Nisa seraya mengejar Andi yang telah berlari menjauhinya.
“Nisa, kamu jangan banyak gerak dulu, nanti kamu bisa sakit lagi.”
“Iya Bu.”
Kesembuhan Anisa, membuat hati Maryati senang saat itu, karena Nisa adalah putri yang baik dan sangat menyayangi Ibunya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*