
“Om, maukah Om membantu kami dalam mencari Ayah?”
“Tapi kita mau cari kemana?”
“Terserah Om saja, asalkan kami bisa ketemu dengan Ayah, ke ujung dunia pun kami akan Ikut bersama Om, mencari Ayah.”
“Tapi Om ada keperluan lain hari Ini.”
“Keperluan apa Om?”
“Mengantar makanan pada pekerja yang saat ini sedang bekerja di kebun Om.”
“Kalau begitu, biar saya bantu Om, dalam mengantar makanannya, tapi sesudah itu, Om harus bantu kami mencari Ayah kami.”
“Baiklah,” jawab pria itu.
Dengan senang hati, Maryati dan ketiga orang anak-anaknya mengikuti pria itu dalam mencari keberadaan Tomi, yang bekerja entah di mana.
Setelah berkeliling hingga begitu jauh, mereka tak menemukan siapa yang mereka cari, Maryati pun sudah merasa putus asa.
“Kalau memang Abang nggak menemukan Ayah anak-anak ini, sebaiknya Abang hantarkan saja kami ke kota Padang.”
“Ke kota Padang, di tempat siapa Bu?”
“Entahlah, kami nggak tahu harus kemana, tapi yang pasti kalau di kota, anak-anak ini akan mendapatkan makanan, mesti harus mengemis dan jadi gelandangan.”
Ucapan Maryati yang terdengar polos, membuat pria tampan itu berusaha memutar otaknya.
“Baiklah, untuk sementara waktu, kita kembali saja ke kota bersama saya, di rumah ada sebuah kamar kosong yang bisa kalian tempati.”
“Apakah keluarga Abang nggak marah nantinya?”
“Saya hanya sendiri Bu, saya belum berkeluarga.”
“Kedua orang tua Abang di mana?”
“Mereka berdua sudah lama meninggal dunia.”
“Ooo, begitu.”
“Gimana? apakah kalian setuju.”
“Baik Om, kami setuju, jawab Bima memotong pembicaraan Ibunya.
Karena mereka semua telah sepakat, lalu Maryati bersama anak-anaknya di bawa pria itu kerumahnya.
Tinggal bersama pria itu membuat Maryati dan Bima menjadi tenang, karena pria itu begitu baik, dia bahkan mencukupi semua kebutuhan Maryati dan ketiga anak-anaknya. Bima yang sudah remaja, dia begitu cekatan dalam membantu pria tersebut.
Sedangkan Maryati dia cepat kaki ringan tangan, dia bekerja apa saja, yang membuat pekerjaan pria itu menjadi ringan.
__ADS_1
Malam itu, ketika Maryati sedang menidurkan Leni dan Tia, pria itu masuk kedalam kamar Maryati, dia duduk di atas kursi yang terletak di samping tempat tidur.
“Ibu, apakah Ibu sudah tidur?” tanya pria itu pada Maryati.
Melihat pria itu sudah duduk di dekat tempat tidurnya, Maryati jadi ketakutan, dia pun mencoba sedikit menjauh dari pria itu.
“Ada apa Bang?” tanya Maryati ingin tahu.
“Begini, tapi Ibu jangan sampai tersinggung dulu.”
“Iya, aku akan mendengarkannya.”
“Dari pada Ibu dan anak-anak hidup tak menentu di kota Padang ini, gimana kalau Ibu bekerja saja bersama ku. Bekerja menjadi orang yang mengurus semua kebutuhan ku. Memasak dan membersihkan seluruh rumah ini, nanti Ibu akan aku bayar.”
“Oh, benarkan Bang?”
“Iya Bu, semua itu sudah aku pertimbangkan, agar anak-anak Ibu tak lagi menderita.”
Ucapan pria itu, bagaikan air yang mengalir sejuk di hati Maryati, tak di sangka sama sekali, kalau pria itu punya niat baik pada keluarganya.
“Nanti kalau aku pergi ke bukit suar lagi, aku akan mengajak Bima, untuk mencari keberadaan Ayahnya di sana. Kalau udah ketemu nantinya, Ibu bersama anak-anak boleh kok, meninggalkan rumah ini.”
“Baiklah, Ibu setuju sekali.”
Tinggal bersama pria itu, Tia dan Leni tampak sehat dan lincah, pria itu mencukupi semua keperluan anak-anak Maryati, selain memenuhi kebutuhan mereka berempat, pria itu juga memeriksakan kesehatan Tia dan Leni kerumah sakit.
Pria itu juga membelikan susu, untuk mencukupi kebutuhan gizi mereka semua. Begitu juga dengan Leni, pria itu bahkan mengajak Leni pergi kerumah dukun pijat, untuk mengembalikan kesehatan Leni yang tak bisa berjalan.
Barang-barang itu, berupa bahan pokok dan pakaian serta alat-alat kerja yang di butuhkan selama di sana. Dengan senang hati Bima pun mengikuti pria itu.
Di perjalanan mereka berdua tampak bersenda gurau, Bima yang selama ini selalu dirundung rasa sedih, saat itu terlihat mulai tersenyum. Mesti demikian, mereka masih menyimpan semua kepahitan itu di dalam hati mereka masing-masing.
“Nah kita udah sampai Bima.”
“Lho, ini kan daerah kami yang kemaren Om?”
“Iya, di bawah sana ada kebun Om.”
“Kebun apa?”
“Kebun cengkeh.”
“Pohon cengkeh itu, gimana sih Om?”
“Nanti kamu pasti tahu sendiri, gimana bentuk pohon cengkeh itu.”
“Baiklah, aku akan turun kebawah untuk melihat pohon cengkeh.”
“Kalau begitu kamu bantu Om, membawakan barang yang ringan saja, biar yang beratnya Om yang bawa.”
__ADS_1
“Kenapa mesti yang ringan sih Om, yang berat pun aku sanggup kok."
“Masalahnya, jalan menuju kebun Om, itu sangat terjal dan curam, kalau salah melangkah, nanti kita bisa jatuh kedalam laut.”
“Ah masa, Om serius?”
“Iya sayang. Ayo kita kebawah.”
“Baiklah.”
Bima mengikuti saja apa yang di katakan Dipa padanya, dengan hati-hati sekali, Bima berjalan mengikuti pria itu dari belakang.
Sekitar satu kilo meter menuruni lereng perbukitan, maka tibalah Bima dan Dipa di kebun cengkeh yang di maksud.
Ternyata di daerah perkebunan itu telah tersedia rumah yang terbuat dari papan. Rumah itu menghadap ke laut, Bima sangat senang sekali menikmati pemandangan laut dari atas rumah tersebut.
Sambil menunggu kedatangan Dipa, Bima mencoba beristirahat sejenak, angin laut yang berhembus sejuk membuat mata Bima tak kuasa untuk tetap terbuka. Perlahan mata itu pun tertutup dan Bima pun tertidur dengan lelap sekali.
Beberapa saat kemudian, Dipa kembali bersama Tomi yang saat itu sedang menyandang kep semprot.
“Kalau begitu aku pamit dulu Pak, semua bahan dan keperluan Bapak sudah ada di dalam rumah.”
“Iya, baiklah.”
Melihat Bima tertidur pulas, Dipa mencoba menghampirinya, dia tampak tersenyum ketika melihat Bima tidur mendengkur.
“Nak Dipa nggak sendirian?” tanya Tomi ingin tahu.
“Nggak Pak, aku datang bersama keponakan.”
“Ooo, kalau begitu Bapak lanjut kerja dulu, nak Dipa."
“Baik Pak, sebentar lagi kami juga mau berangkat.”
“Iya silahkan.”
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Bima, Tomi langsung saja pergi, melanjut pekerjaannya yang terbengkalai. Setelah Tomi menjauh, Dipa langsung mengajak Bima kembali pulang kerumahnya.
Baik Tomi maupun Bima, mereka berdua tidak saling bertatapan pandang, sehingga pertemuan mereka hari itu tak membuahkan hasil sama sekali.
“Om, emangnya Bapak yang bekerja di tempat om itu orang mana sih?”
“Orang Padang juga, emangnya kenapa?”
“Ayah ku juga orang Padang kok Om.”
“O ya?”
“Iya.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*