Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 102 Keburukan hati Mutia


__ADS_3

Sore itu, Maryati memang tak punya uang untuk membeli beras, sementara nasi sisa semalam sudah habis di makan oleh Ravi putra Tia sendiri. jadi Maryati mencoba meminta sedikit uang pada Tia untuk membeli beras, agar malam itu mereka semua bisa makan.


“Aku nggak punya uang Bu,” jawab Tia pelan.


“Kalau kau nggak punya uang, gimana kita bisa membeli beras untuk malam ini.”


“Kenapa sih Bu, kalau aku pulang ke rumah ini Ibu selalu minta uang?”


“Ibu nggak pernah minta sebelumnya kan? rasanya baru kali ini Ibu memintanya, itu pun karena kalian datang ke rumah ini.”


“Tapi saat ini aku nggak punya uang.”


“Kalau kau nggak punya uang, berarti kita nggak makan malam ini.”


“Agar Ibu tahu, itu sebabnya aku malas pulang ke rumah ini, karena setiap kali aku pulang, Ibu selalu datang mengemis dan meminta uang pada ku. Padahal, kalau aku nggak ada, Ibu bisa berusaha sendiri mencari beras kemana-mana, mesti itu atas nama hutang!” bentak Tia dengan kasarnya.


Kata-kata Tia yang pedas dan tajam itu, telah menusuk jantung Maryati dan bahkan merobeknya hingga berdarah. Terasa berhenti nadi Maryati berdenyut, Maryati sampai tersandar kedinding rumah karena tak kuat Manahan perasaannya.


Karena tak tahan mendengar ucapan putrinya, Maryati langsung berlari kedalam kamar, air matanya tak henti-hentinya mengalir.


Sementara itu, Tia yang telah menggores luka di hati Ibunya hingga berdarah dan menganga, dia sendiri tak tahu, bahkan Tia masih sempat bertanya pada Ibunya kenapa Ibunya menangis.


Dari pertanyaan yang di lemparkan Mutia pada Ibunya, Maryati tak kuasa untuk menjawabnya, namun air matanya telah membuktikan kalau hatinya telah terluka saat itu.


Karena tak mendapat jawaban dari Ibunya, Tia pun bergegas keluar dari rumah itu dan berjalan menuju rumah Leni. Karena takut di marahi Ibunya, Tia memutuskan untuk tidur dirumah Leni malam itu dan dia tak berani kembali pulang ke rumah.


“Apakah Tia sudah kembali Yati?”


“Aku nggak tahu Bang.”


Mendengar jawaban dari istrinya sedikit tertekan, Tomi langsung bertanya pada Maryati kenapa dia menangis. Awalnya Maryati tak mau menjawabnya, tapi karena Tomi terus memaksa, akhirnya Maryati menjawab pertanyaan yang di ajukan Tomi kepadanya.


“Tia telah bicara kasar pada ku.”


“Mana dia?”


“Aku nggak tahu, tapi aku yakin dia pasti di rumah Leni saat ini.”


“Tunggu di sini sebentar.”


“Abang mau kemana?”


“Memberi pelajaran pada putrimu.”


“Nggak perlu, lama kelamaan dia pasti mengerti dengan sendirinya, kalau ucapannya itu salah.”


“Untuk zaman sekarang, jangan pernah berharap putrimu akan tahu sendiri tentang tata krama yang baik.”


Karena Maryati mencegahnya, Tomi tak jadi mendatangi Tia ke rumah Leni, namun untuk waktu yang begitu lama, Maryati selalu bersikap acuh dan cuek pada Tia.

__ADS_1


Malam itu, di saat purnama mulai muncul di arah timur, Maryati memandanginya dengan penuh kesyahduan, dia teringat akan masa lalunya yang begitu pahit dan menyakitkan. Bukan hanya itu saja, bagai mana susahnya Maryati merawat dan membesarkan putra-putrinya seorang diri.


Namun jerih payah itu hanya berbalas dengan keburukan dan rasa sakit yang terus di torehkan oleh anak-anaknya ke relung hati Maryati.


“Oh,” tak terasa air mata Maryati menetes membasahi kedua pipinya. “Jika saja kalian tahu nak, betapa menderitanya Ibu dalam membesarkan dan merawat kalian semua, kalian tentu tak akan mau melawan dan berkata kasar pada Ibu.”


“Ada apa Yati? kenapa malam ini kau kelihatan sedih?”


“Aku teringat dengan masa lalu ku yang pahit dan menyakitkan, Bang.”


“Apa maksud ucapan mu itu Yati? bukankah kau tinggal bersama kedua orang tua yang begitu menyayangi mu?”


“Kau salah Bang, aku ini hanya seorang anak yatim piatu, hidup menderita dan terluka di tangan Bibi ku sendiri.”


“Jadi, Pak Darman itu bukan Ayah kandung mu?”


“Bukan. Dia itu adalah Ayah angkat, tapi kebaikan dan kasih sayangnya melebihi seorang Ayah kandung.”


“Jadi mana Ayah dan Ibu kandung mu?”


“Aku nggak tahu, hingga hari ini pun, aku masih nggak tahu di mana kedua orang tua ku, entah mereka masih hidup atau sudah meninggal. Tapi Bibi sering bilang kalau mereka berdua sudah di makan cacing tanah.”


“Itu berarti, kedua orang tua mu telah meninggal dunia.”


“Mungkin saja begitu.”


“Karena saat itu aku kabur dari rumah, sebab anak Bibi ku yang paling tua, telah menyakiti ku secara berulang kali.”


“Setelah menikah lalu kenapa kau nggak kembali ke rumah Bib mu?”


“Buat apa kembali, kalau akan di siksa lagi nantinya.”


“Emangnya seperti apa mereka menyiksa mu Yati?”


“Mereka menyiksa ku, lebih kejam dari binatang, Bang.”


“Ya Allah, benar seperti itu?”


“Tapi aku lebih tersiksa lagi setelah kita menikah.”


“Maksud mu?”


“Karena kau adalah seorang suami yang tak bertanggung jawab, kau lebih membela keluarga mu ke timbang istri mu sendiri, kau bahkan berulang kali menelantarkan aku dan anak-anakmu.”


“Ya sudah, aku minta maaf.”


“Sudah terlambat, saat ini kita hanya bisa menuai hasil dari jerih payah yang kita tanam waktu itu.”


Mendengar ucapan Maryati, Tomi hanya bisa terdiam, karena apa yang dia lakukan selama masa mudanya memang telah menyakiti istrinya secara berulang kali.

__ADS_1


Namun hal itu telah terjadi, Tomi sendiri tak ingin lagi mengulangi perbuatan keji itu, tapi perbuatan itu ternyata masih berbekas di hati istrinya.


Di saat bersamaan, Anisa juga sedang asik memandangi bulan di depan rumahnya, dia duduk tenang bersama putri cantik kesayangannya.


“Kayaknya lagi asik nih,” ujar Adit seraya memegang pundak istrinya.


“Eh, Bang Adit, duduk yuk, lihatlah ke atas sana, bulan purnama sedang bersinar dengan indah dan terang sekali.”


“Ya, sinarnya sangat terang dan indah, seperti hati mu Nisa.”


“Ah, Abang! mulai deh…!”


“Kenapa? kau malu di katakan seperti itu?”


Anisa hanya bisa tersenyum senang saat suaminya datang membelai dan memuji kecantikan hatinya.


Saat ini, sepertinya kita telah terlepas dari masa-masa sulit yang mengganggu hidup kita, semoga saja mulai hari ini tak akan ada lagi ujian berat yang datang menghampiri keluarga kita.”


“Iya Bang, semoga saja begitu.”


Saat mereka sedang duduk santai di depan rumahnya, tiba-tiba saja seorang perempuan datang menghampiri Nisa dan suaminya.


“Kak, Ini ada kiriman Kak Ana untuk Kakak.”


“Kiriman apa ini?” tanya Nisa pada Lila, anak dari Susi.


“Nggak tahu, Kakak bukalah dulu, nanti Kakak akan tahu apa isinya.”


“Baiklah, katakan Pada Kak Ana, aku berterima kasih atas makanannya.”


“Iya, nanti akan aku sampaikan pada Kak Ana.”


Nisa yang penasaran dengan isi rantang kirimannya, langsung saja membukanya ketika Lila telah menjauh.


“Apa isinya Nisa?” tanya Adit ingin tahu.


“Sepertinya rendang Ayam Bang.”


“Buang saja, jangan di makan.”


“Kenapa di buang?”


“Siapa tahu dia mengirimkan sesuatu lewat makanan itu.”


“Baik Bang,” jawab Nisa mematuhi permintaan suaminya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2