
“Itu resikonya, kalau ada orang yang tak becus dalam bekerja.”
“Ooo, jadi selama ini kau selalu berlaku kasar pada bawahan mu.”
“Tentu saja, untuk apa berbaik hati pada orang bodoh.”
“Bagus kalau boleh aku tahu, di perusahaan mana saat ini kau bekerja?”
“Apa urusan mu, kau bertanya seperti itu pada ku?”
“Agar aku tahu kehebatan mu dalam memimpin seluruh karyawan mu.”
“Hahaha…! kau kira aku mau menerima karyawan seperti mu! jangan mimpi.”
“Kau pintar, aku juga nggak ingin bekerja dengan mu. Aku hanya ingin tahu saja, kau bekerja di perusahaan mana saat ini?”
Karena pria itu tak mau menjawab maka Lastri langsung menarik kartu nama yang ada di pakaian pria itu dan membacanya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu heran.
“Aku seorang pengacara, saat ini aku telah mengantongi identitas mu, suatu hari nanti, aku akan memeriksa perusahaan tempat kau bekerja, jika perusahaan mu bermasalah maka kau akan berurusan dengan hukum.”
“Hah! jadi kau seorang pengacara?”
“Iya,” jawab Lastri seraya turun dari kereta saat kereta itu berhenti.
“Hei tunggu dulu!” teriak pria itu seraya mengejar Lastri.
Mesti pria itu bergegas untuk mengejar Lastri bersama Bima, namun Lastri tak memperdulikannya, dia terus saja berlalu.”
Sedangkan Bima terus saja mengikuti Lastri dari belakang, Bima merasa mendapat perlindungan dari Lastri yang selalu ada di sampingnya.
“Ruman Ibu di sini Kak,” ajak Bima pada Lastri.
“Ooo, ini warung Ibu mu ya?”
“Iya, mari Kak, masuk kedalam.”
“Terimakasih.”
Lastri yang telah menemukan rumah Bima, langsung saja masuk kedalam, saat dia duduk, dia melihat Maryati keluar seraya menggendong Leni.”
“Dia ini Ibu ku.”
“Ooo, dia ini Ibu mu ya?"
“Iya Kak.”
Lalu mereka berdua saling bersalaman, Lastri melihat sesuatu yang lain pada diri Maryati, tapi dia sendiri tak bisa untuk mengungkapkannya.
Ingin sekali Lastri bertanya sesuatu, namun dia tak punya kesempatan untuk itu, karena pelanggan Maryati begitu banyak yang datang membeli.
“Silahkan di minum airnya Kak,” ujar Bima seraya duduk di sisi Lastri.
“Kalian berasal dari Mana Bima?” tanya Lastri ingin tahu.
“Kata Ibu, kami berasal dari Desa Cempaka.”
__ADS_1
“Apakah kalian pernah pulang ke Desa Cempaka?”
“Pernah Kak.”
“Apakah orang tua Ibu mu masih hidup hingga saat ini?”
“Nenek udah meninggal, hanya tinggal Kakek yang masih hidup.”
“Ooo, begitu ya.”
“Kalau boleh Kakak tahu, apa sih pekerjaan Kakek Mu di Desa Cempaka?”
“Dulunya Kakek seorang Kades.”
“Sudah lama kalian tinggal di sini?”
“Udah Kak, kalau nggak salah udah seumuran aku.”
“Udah lama juga ya.”
Saat pelanggan sepi, Maryati pun datang menghampiri Lastri, yang menurutnya sudah tak asing lagi, namun Maryati tak mau menduga-duga.
“Bu, Kakak ini tadi yang menolong ku, saat di kereta.”
“Menolong mu? emangnya apa yang terjadi dengan mu nak?”
“Anak Mbak baik-baik saja kok, kebetulan tadi di kereta ada orang yang iseng dan ingin berbuat jahat pada Bima. Tapi semuanya telah aman.”
“Bukankah Ibu udah melarang mu untuk bekerja, tapi kau terus saja membandel.”
“Ibu, kalau aku nggak ikut menolong Ibu, lalu siapa lagi yang akan membantu Ibu bekerja.”
“Dia terpaksa berhenti sekolah, demi membantu saya berjualan.”
“Begitulah kalau kita punya anak laki-laki, dia selalu merasa bertanggung jawab, jika Ibunya tak kuat menanggung beban hidup yang terlalu berat.
“Semenjak Ayahnya pergi meninggalkan kami semua, Bima terpaksa harus bekerja membantu Ibunya untuk bertahan hidup di kota sebesar ini.”
“Ooo, begitu ya.”
“O iya, Mbak datang ke stasiun ini untuk apa?”
“Aku sedang mencari sesuatu.”
“Mencari sesuatu?”
“Iya.”
“Mencari apa?”
“Aku sedang mencari adik yang sudah lama hilang.”
“Oh kasihan. Kalau boleh aku tahu, kenapa adik Mbak itu bisa menghilang?”
“Ceritanya panjang, rasanya aku nggak punya waktu untuk menceritakannya.”
“Adiknya laki-laki atau perempuan?”
__ADS_1
“Perempuan.”
“Apakah Mbak punya fotonya?”
“Aku bahkan nggak mengenal wajahnya saat ini.”
“Ooo, begitu.”
“Ya sudah, kalau begitu aku akan pergi dulu, lain kali aku pasti mampir lagi kesini, kita akan bercerita panjang lebar di sini.”
“Oh iya Mbak.”
“Ini ada sedikit uang untuk Bima dan kedua adiknya, semoga kalian sekeluarga tetap sehat.”
“Uang apa ini Mbak?” tanya Maryati sembari menolak uang yang di berikan Lastri kepadanya.”
“Nggak usah di tolak, ini rezeki untuk anak-anak mu.”
“Tapi Mbak, aku jadi nggak enak hati, padahal kita baru saja bertemu, Mbak telah memberi anak ku uang.”
“Udah, kalian nggak usah sungkan pada Ku, nanti kalau aku punya waktu, aku akan membawa anak-anak ku kesini untuk bertemu kalian semua.”
“Terimakasih banyak uangnya, kalau Kakak ingin datang kesini, kami semua pasti menerima kalian dengan senang hati.”
“Terimakasih, kalau begitu aku kembali dulu.”
“Iya,” jawab Maryati dan Bima sembari tersenyum lebar.
“Kenapa Kakak itu begitu baik pada kita ya Bu?”
“Ibu juga nggak tahu, tapi yang pasti Allah telah mengirimkan orang baik untuk membantu keluarga kita nak.”
“Semoga saja, orang baik seperti Kakak tadi, sering kita temukan ya Bu.”
“Ah, kamu ini. Kan lebih baik kita berusaha dengan tangan kita sendiri, dari pada harus mengharapkan pemberian dari orang lain.”
“Ibu benar, penghasilan yang kita dapat dari hasil keringat kita sendiri, itu lebih terasa nikmat ketimbang di berikan orang lain.”
“Nah, berarti, kau mengerti maksud Ibu kan.”
“Iya Bu.”
“Karena kau telah mendapat masalah dalam bekerja, maka untuk beberapa hari ini kau akan menjaga adik mu di rumah dulu, nanti kalau suasananya sudah aman, maka kau akan Ibu izinkan lagi bekerja.”
“Ibu, kenapa sih, Ibu selalu menghalangiku bekerja?”
“Karena Ibu sangat kuatir sekali Bima, ini kota besar, kalau kau hilang atau di culik orang gimana?”
“Tapi banyak teman yang selalu bersama ku Ibu.”
“Teman mu itu pun nggak akan berdaya, jika orang yang menculik mu itu sangat berbahaya.”
Bima tak bisa membantah lagi, karena ucapan Ibunya itu sangat benar sekali. Di kota besar memang begitu banyak marabahaya yang selalu mengincar orang yang lalai dan lengah.
Lama Maryati bekerja mencari nafkah, membesarkan ketiga orang anak-anaknya sampai Leni berusia enam tahun.
Waktu enam tahun bukanlah hari-hari yang mudah untuk menjalani hidup di kota besar sambil mengurus tiga orang anak yang masih kecil.
__ADS_1
Bersambung...
"Selamat membaca*