Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 38 Melakukan pesugihan


__ADS_3

“Kau jawab dulu permintaan Kakak, kalau kau jawab Iya, maka Kakak baru bisa bilang tempatnya di mana.”


“Kalau begitu aku nggak usah tahu tempatnya itu, permisi,” jawab Maryati seraya pergi meninggalkan Yuni yang masih terpana.


Yuni sangat terkejut sekali saat mendengar penolakan dari Maryati, dia tak menyangka orang sebodoh Maryati dengan cepat mau menolak permintaannya.


“Kurang ajar kau Maryati, kau langsung saja menolak ajakan ku,” gerutu Yuni seraya mengejar Maryati yang hampir menjauh.


Mesti Maryati tahu, kalau Yuni mengejarnya, namun dia tetap saja berjalan dan tidak memperdulikan wanita itu.


“Hei Yati, tunggu dulu! Kakak belum selesai bicara.”


“Kak Yuni mau bicara apa lagi?”


“Ingat Yati, anak-anak mu butuh biaya untuk hidup, kau tahu sendirikan Bima udah berhenti sekolah karena kau nggak punya biaya untuk itu, sementara Tomi, dia pun pergi meninggalkanmu.”


“Emangnya Kak Yuni mau ngajak aku kemana sih?”


“Kita pergi melakukan pesugihan.”


“Pesugihan itu apa sih Kak?” tanya Maryati yang tak tahu apa-apa.


“Pesugihan itu, sama seperti kita meminta pada tuhan, tapi kali ini kita memintanya pada penunggu gunung.”


“Emangnya kita mendapatkan apa dari pesugihan itu Kak?"


“Uang, uang Yati, harta yang berlimpah. Kau lihat saja Kakak, semua harta yang Kakak miliki itu, semuanya dari hasil pesugihan.”


“Benarkah?”


“Iya Yati. Tapi kau nggak usah takut, karena bersama mu ada empat orang yang juga akan kesana nantinya.”


“Baiklah, kalau begitu akan ku beritahu dulu Bima, kalau Bima memberi izin maka aku akan pergi bersama Kak Yuni.”


“Baiklah, akan Kakak tunggu ya.”


“Iya Kak,” jawab Maryati.


Yuni sangat senang sekali ketika Maryati mau mengikuti kemauannya. Namun setelah di tunggu hingga beberapa hari Yuni tak pernah menemukan Maryati lagi.


“Aduh, kemana Yati, kok nggak pernah datang lagi, dasar bodoh! ada kesempatan kok malah di abaikan.”


Karena Maryati tak pernah datang, akhirnya Yuni pun menemuinya, Yuni datang kerumah Yati dengan mengendarai mobil mewah yang terlihat baru.


Ketika pintu mobil itu terbuka, Maryati melihat Yuni keluar dari dalamnya. Maryati terkejut, karena tak disangkanya sama sekali kalau Yuni mendatangi rumah kontrakannya.


“Kak Yuni?”


“Kau pasti kaget kan Yati?"


“Kakak ngapain kesini?”

__ADS_1


“Bukankah kau udah janji akan pergi bersama Kakak. Lihat di dalam mobil, Kakak juga membawa beberapa orang teman mu.”


“Tapi aku belum membahas hal ini bersama Bima.”


“Kenapa belum membahasnya?”


“Karena belum ada kesempatan.”


Yuni yang mendengar jawaban dari Maryati, tampak sedikit kesal dan diapun bergegas menghampiri Bima yang saat itu sedang memangku Leni.


“Bima, boleh nggak, Ibu mengajak Ibu mu ke suatu tempat?”


“Mengajak Ibu ke suatu tempat?”


“Iya, nggak lama kok, hanya dua hari saja.”


“Lalu kami bagai mana?”


“Kau tinggallah dirumah untuk sementara waktu, nanti Ibu mu akan kembali dengan membawa uang yang sangat banyak sekali.”


Keseriusan ucapan Yuni membuat Bima percaya begitu saja, tanpa berpikir panjang lagi, Bima langsung menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Yuni semakin leluasa mengajak Maryati pergi bersama dengannya.


“Ini ada sedikit uang, kau manfaatkan uang ini untuk membeli makanan, selama Ibu mu belum pulang,” ujar Yuni seraya memberi uang ke tangan Bima.


“Tapi Ibu nggak lama kan?” tanya Bima pada Ibunya.


“Nggak nak, Ibu pergi hanya sebentar kok.”


“Baiklah.”


“Iya Bu.”


Mobil pun melaju dengan kencang, Maryati yang berada di dalamnya terasa berat hati meninggalkan ke tiga anak-anaknya yang tampak bersedih melepas kepergian Ibu mereka.


“Udah Yati, kau jangan terlalu memikirkan mereka, nanti kalau udah mendapat banyak uang, anak-anak mu pasti bisa hidup senang.”


“Iya Kak,” jawab Yati polos.


Hanya menempuh beberapa jam perjalanan, mereka berenam tiba di rumah kuncen penjaga gunung. Seperti orang yang saling kenal Yuni berbicara lepas dengan penjaga gunung itu.


Tak berapa lama kuncen itu pun datang menghampiri Maryati dan keempat orang temannya.


“Jadi kalian ingin menjadi kaya?” tanya kuncen itu pada mereka berlima.


Awalnya tak seorang pun yang menjawab, tapi karena Yuni memberi kode pada mereka, lalu mereka semua pun menganggukkan kepalanya termasuk Maryati.


“Baik, tapi ingat, sepanjang jalan menuju kaki gunung, jangan sekali-kali melihat kebelakang.”


“Baik Mbah.”


“Ingat, kalau kalian menoleh kebelakang, maka satu kesalahan telah kalian dapat.”

__ADS_1


“Baik Mbah.”


“Nanti kalau kalian di suguhi makanan oleh seseorang maka habiskan makanan itu, jangan ada yang bersisa, jika nanti kalian nggak memakannya, maka niat kalian nggak akan terpenuhi.”


“Baik Mbah.”


“Sekarang kalian boleh pergi.”


Karena telah mendapat izin dari kuncen gunung, maka mereka berenam pun pergi menuju tempat yang telah di tentukan.


Maryati yang begitu lugu, dalam hatinya selalu saja ingin tahu, kenapa kuncen itu melarang mereka melihat kebelakang, saat hendak menuju tempat yang telah di tentukan.


“Ingat pesan Mbah kuncen, kalau kalian semua, nggak ada yang boleh melihat kebelakang.”


“Emangnya kenapa kalau melihat kebelakang Kak?” tanya Maryati ingin tahu.


“Nggak boleh!”


“Iya, aku tahu kalau melihat ke belakang itu nggak boleh, tapi pasti ada alasannya, kenapa nggak boleh melihat kebelakang.”


“Udahlah Yati, kau nggak usah banyak bertanya,” sanggah Erni dengan suara setengah berbisik.


“Tapi aku penasaran Er, kenapa Mbah kuncen itu melarang kita melihat ke belakang.”


“Udahlah Yati, sekarang kita fokus saja pada tujuan kita untuk menjadi orang terkaya.”


“Tapi, apakah kalian yakin dalam pesugihan ini, mereka nggak meminta korban nyawa pada kita.”


“Maksud mu apa si Yati?” tanya Eka ingin tahu.


“Seperti, mengorbankan orang yang kita sayangi.”


Ucapan Yati yang seakan-akan mengingatkan mereka pada akibat pesugihan itu membuat mereka semua menjadi ragu untuk melanjutkannya.


“Kenapa kalian berhenti?” tanya Yuni heran.


“Apakah Kak Yuni tahu, kalau pesugihan yang akan kita lakukan ini nggak akan meminta tumbal nyawa pada keluarga kita?” tanya Eka setengah berbisik.


“Kalian nggak usah cemas, asalkan kalian selalu memenuhi keinginan penghuni gunung, maka kalian nggak akan kehilangan anggota keluarga kalian.”


“Ooo, gitu ya,” jawab mereka seraya kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang telah di tentukan.


Mesti mereka semua menyakini apa yang di katakan oleh Yuni, namun Maryati yang bodoh dan lugu tak langsung mempercayai.


Karena penasarannya, diam-diam Yati melihat kebelakang, saat mereka berenam belum sampai ke tempat yang telah di tentukan.


Ketika Maryati menoleh kebelakang itulah, dia melihat ada makhluk yang sangat mengerikan sedang mengikuti mereka dari belakang.


Maryati melihat dengan jelas, kalau makhluk itu sedang menghalau mereka semua dengan kedua tangannya, wajah makhluk itu pun sangat mengerikan sekali, Maryati tampak begitu ketakutan saat itu.


Tanpa senagaja Maryati memegang tangan Erni dengan begitu kuat, Erni yang merasa ada keanehan pada Maryati, mencoba bertanya.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2