
Rasanya baru saja, Maryati terbebas dari penderitaan dunia, kali ini putranya sendiri yang mengawali penderitaan itu untuk kembali menghampiri dirinya.
Maryati terhenyak duduk di atas kursi, dia tak menyangka sama sekali kalau Bima bisa setega itu membentak dan bicara kasar padanya di hadapan wanita yang baru menikah dengannya.
Akan tetapi, mesti terasa begitu sakit, keesokan harinya Maryati datang ke rumah Bima dengan membawa uang, untuk biaya rumah sakit Tia.
“Kau hitung dulu uangnya, nanti kalau kurang beri tahu Ibu, akan Ibu tambah lagi.”
“Apa maksud Ibu?”
“Apa menurutmu, uang itu Ibu beri secara cuma-cuma pada mu?”
“Aku jadi nggak ngerti, bukankah aku udah bilang pada Ibu, kalau biaya rumah sakit Tia udah aku bayarkan.”
“Sekarang mana Tia?”
“Dia masih dirumah sakit Bu.”
“Ibu akan tunggu disini, jemput dan bawa dia kesini.”
“Baiklah,” jawab Bima seraya pergi menuju rumah sakit yang letaknya hanya berseberangan jalan dengan rumahnya.
Bersama Bima, Tia di pertemukan dengan Maryati. Tia tampak sedikit pucat, karena dia telah banyak kehilangan cairan.
“Ayo kita pulang sayang!” ajak Maryati pada Tia.
“Apakah Ibu nggak masuk dulu?” tanya Bima heran.
“Nggak perlu! hanya satu pesan Ibu untuk istri mu.”
“Apa itu Bu?”
“Kalau aku nggak punya banyak anak, maka nggak akan ada kau didunia ini.”
Ucapan yang di katakan Maryati, mengingatkan Bima dengan ucapan Dira dua malam yang telah berlalu.
“Apakah karena ucapan Dira itu, yang membuat Ibu ku menangis?” tanya Bima pada dirinya sendiri.
Kebingungan pun mulai melanda pikiran Bima, pertanyaan kenapa Ibunya menangis, belum terjawab dengan sempurna. Saat Maryati agak sedikit menjauh dari rumah nya, Bima merasa tak tenang, lalu diapun mengejar Ibunya.
“Ibu tunggu!” seru Bima dari kejauhan.
Langkah Maryati langsung terhenti, ketika Bima memanggilnya. Dengan pelan Maryati menoleh kebelakang, saat itu dia pun melihat Bima datang menghampirinya.
“Katakan pada ku, Bu. Kenapa Ibu menangis pada malam itu?”
Mendengar pertanyaan Bima, Maryati bukannya menjawab, dia malah memanggil angkot yang kebetulan melintas di hadapannya.
__ADS_1
“Ibu, jawab pertanyaan ku, Bu!”
Maryati diam saja, pada saat itu air matanya mengalir tak terasa, padahal sebelumnya Maryati telah melupakannya, namun karena Bima mengingatkannya kembali, Maryati pun merasa terluka.
Setibanya di rumah, Maryati langsung bertanya pada Tia yang saat itu sedang terbaring lemah di atas kasur.
“Kenapa kau sakit sayang? apakah kau salah makan?” tanya Maryati ingin tahu.
“Aku capek Bu, kak Dira menyuruhku bekerja.”
“Menyuruh mu bekerja? bekerja apa?”
“Semua pekerjaan rumah, aku yang mengerjakannya.”
“Kau serius?”
“Iya Bun, kalau aku nggak mau mengerjakannya, Kak Dira pasti memarahi aku. Bukan hanya itu saja, Kak Dira juga menyuruh ku menjaga toko kainnya setiap pulang sekolah.”
“Lalu gimana menurut Abang mu?”
“Sama saja Bu, Bang Bima juga akan marah jika aku nggak mau membantu Kak Dira.”
“Bima sudah keterlaluan, dia seperti terpengaruh dengan ucapan istrinya.”
“Iya Bu, selama aku berada di rumah Bang Bima, aku sering di marahi, kalau aku punya kesalahan sedikit saja.”
“Aku sih mau aja Bu, tapi kalau aku pindah rumah, Bang Bima pasti marah pada ku nantinya.”
“Kenapa kau takut Abang mu akan marah, bukankah yang membayar uang kos mu itu Ibu, jadi kenapa takut sayang.”
“Lagian saat ini aku sudah naik ke kelas tiga Bu, rasanya tanggung untuk pindah dari rumah itu. Biarlah untuk sementara aku tinggal disana saja Bu.”
“Itu terserah mu, Ibu hanya sekedar menyarankannya saja, itu pun kalau kau setuju.”
Karena Tia berada di ambang keraguan, Maryati hanya bisa menyerahkan semua urusan itu pada putrinya, sementara Leni yang sudah duduk di bangku kelas tiga, diapun ingin melanjutkan sekolahnya ke SMA, sama seperti Kakaknya Tia.
Untuk Itu Maryati bekerja keras mempersiapkan biaya masuk sekolah untuk Leni. Tanpa memandang waktu Maryati terus bekerja untuk dapat mencapai target yang telah di tentukan.
Malam itu setelah Maryati menghitung semua uang yang telah dia dapat untuk biaya masuk sekolah Leni, ternyata uang itu masih banyak kurangnya. Keesokan harinya, Maryati minta pada pimpinannya agar diizinkan lembur setelah pulang kerja.
“Boleh, asalkan kau jaga kesehatan mu.”
“Baik Pak,” jawab Maryati senang.
Setelah mendapat izin Maryati langsung lembur setelah jam kerjanya selesai, Tomi yang menantikan kedatangan Maryati di rumah merasa heran dan cemas, karena hingga larut malam istrinya belum juga kembali dari pabrik.
“Ibu kenapa belum pulang Ayah?” tanya Leni pada Ayahnya.
__ADS_1
“Entahlah nak, Ayah sangat cemas sekali takut terjadi sesuatu pada Ibumu di pabrik.”
“Jadi, apa yang akan kita lakukan Yah.”
“Kalau sampai jam delapan nanti, Ibumu belum juga kembali, maka Ayah akan menjemputnya.”
“Kalau begitu aku ikut ya Yah,” ucap Anisa dengan suara lantang.
“Boleh, nanti kita pergi menjemput Ibu.”
Tomi berdiri di depan pintu, menghadap kejalan raya, setiap mobil yang lewat Tomi selalu berharap akan berhenti di depan rumah. Namun setelah sekian lama menunggu, tak satu mobil pun yang berhenti menurunkan penumpangnya.
Sekitar pukul delapan, Tomi langsung pergi ke pabrik menyusul Maryati yang bekerja di sana, jarak pabrik yang begitu jauh di tempuh Tomi bersama Anisa dengan pelan. Mesti lelah, namun Nisa tak pernah mengeluh sama sekali, dia berjalan seraya memegang tangan Ayahnya.
“Apakah tempat ibu bekerja itu jauh Ayah?” tanya Nisa pelan.
“Jauh, apakah Nisa capek?”
“Nggak, aku masih kuat kok.”
“Kalau Nisa capek, biar Ayah gendong saja.”
“Nggak kok, aku masih kuat.”
“Baiklah,” jawab Tomi seraya tersenyum manis.
Perjalanan yang sangat jauh, mereka tempuh hanya berjalan kaki, namun mereka tak pernah merasa keberatan sama sekali. Setelah Tiba di pabrik tempat Maryati bekerja, Tomi melihat istrinya sedang mengangkat sebuah karung besar di kepalanya.
Hati Tomi terasa begitu sedih, ketika melihat istrinya mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga termasuk dirinya yang tak pernah bekerja.
“Maafkan aku yati, semenjak kau menikah dengan ku, kau nggak pernah merasakan kebahagiaan, aku suami yang jahat yang tak pernah bertanggung jawab,” desah Tomi pelan.
“Ayah! itu Ibu Yah, aku melihat Ibu di sana!” teriak Nisa dengan suara lantang.
“Iya nak, Ayah juga melihatnya.”
“Kalau begitu, ayo kita kesana Yah!”
“Jangan nak, kita sebaiknya disini saja, nanti bisa mengganggu Ibumu bekerja.”
“Baiklah,” jawab Nisa seraya duduk di sebuah batu yang berada di samping Tomi.
Bukan hanya hari itu saja Maryati lembur, bahkan hampir setiap malam mereka melakukannya, semua itu demi keluarga yang dia cintai.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1