
“Apakah kau melihat wajah Bapak yang tadi?”
“Nggak, emangnya dia itu udah berapa lama bekerja dengan Om?”
“Baru saja, sekitar satu tahun lebih kurang.”
“Aduh, jangan-jangan dia itu Ayah ku.”
“Kalau begitu dua minggu lagi kita kembali lagi kesini, untuk memastikan apakah dia itu Ayah mu atau bukan, gimana apakah kau setuju?” tanya Dipa pada Bima.
“Jangan dua minggu lagi lah Om.”
“Lalu, kapan kapan kita kesini sayang?”
“Gimana kalau sekarang saja kita kembali ke kebun cengkeh milik Om itu.”
“Kan tempatnya sangat jauh nak, kita harus kembali lagi kebawah, hanya untuk memastikan apakah dia itu Ayah mu atau bukan.”
“Aku mohon, Om.”
“Baiklah, kalau kau ingin memastikannya juga, ayo kita kembali ke bawah.”
Demi untuk memastikan apakah yang berada di kebun Dipa itu Ayahnya atau bukan, Bima dan Dipa pun kembali kebawah. Lagi-lagi mereka harus melalui jalan yang terjal dan curam.
Saat mereka berdua tiba di rumah tersebut, Bima melihat Tomi sedang duduk sandaran di tiang rumah papan itu. dengan suara yang lantang Bima pun berteriak sembari berlari memeluk tubuh Ayahnya.
“Ayah…!”
“Bima?” ucap Tomi heran. “Bersama siapa kau kesini nak?”
“Bersama Om yang itu Ayah.”
Saat tangan Bima menunjuk ke suatu arah, Dipa muncul di situ, hal itu membuat Tomi merasa sedikit heran.
“Nak Dipa? kau menemukan Bima di mana?”
“Aku nggak tahu, kalau Bima ternyata anak Bapak, padahal tadi dia tidur di atas dipan itu.”
“Jadi yang datang ke sini tadi Bima.”
“Iya Ayah.”
“Mana Ibu dan adik-adik mu nak?”
“Mereka semua ada dirumah ku, Pak. Mereka kutemukan di atas sana, sudah tiga hari mencari keberadaan Bapak.”
“Iya Yah, kami sudah tiga hari nggak makan, untung Om itu datang menolong kami. Kalau nggak, kami berencana hendak kembali ke kota untuk menjadi pengemis di sana.
“Kenapa kalian menyusul Ayah kesini, bukankah Ayah sudah pesankan pada Ibu, kalau dia bersedia ikut, Ayah akan menjemput kalian.”
“Kami udah nggak tahan lagi tinggal dirumah Nenek, Yah. Mereka semua jahat pada kami. Untung ada Bidan Rora yang memberi kami uang, kalau nggak kami nggak akan sampai ketempat ini.”
“Apakah Nenek mu tahu, kalau kalian keluar dari rumah itu?”
“Nggak Yah, kami semua melarikan diri.”
__ADS_1
“Baiklah Pak, kalau begitu, hari ini aku akan kembali ke kota, besok aku akan membawa Ibu kesini.”
“Baiklah.”
“Lalu aku gimana Om?”
“Kamu tinggallah disini bersama Ayah mu.”
“Baik Om,” jawab Bima senang.
Setelah meninggalkan Bima bersama Ayahnya, Dipa langsung pulang kerumahnya di kota Padang. Maryati yang tak melihat Bima kembali bersama pria itu, jantungnya terasa berhenti berdetak, dengan cepat Maryati berlari menghampiri pria itu.
“Bima mana Bang?”
“Dia tinggal di bukit suar bersama Ayahnya.”
“Apa? Abang telah bertemu dengan Ayah Bima?”
“Benar Bu, ternyata Ayah Bima bekerja di kebun ku sendiri.”
“Ya Allah, ternyata Bang Tomi bekerja bersama Abang.”
“Awalnya Bima nggak tahu, tapi karena penasarannya, aku mempertemukan mereka berdua. Ternyata benar, kalau Pak Tomi adalah Ayah Bima, yang sudah lama kalian cari.”
“Kalau begitu kapan Abang mengantar aku dan anak-anak ke Ayahnya?”
“Besok pagi aja ya, Bu. Soalnya hari ini aku begitu lelah sekali.”
“Baik Bang, baik,” jawab Maryati senang.
“Ibu kenapa nggak tidur?” tanya Dipa heran.
“Masih sedikit lagi Bang.”
“Ibu membuat apa?”
“Ibu membuat sambal, agar dua hari ini, Abang nggak masak lagi.”
“Terimakasih Bu, kalian baik sekali.”
“Abang yang telah berbuat kebaikan kepada kami, kalau nggak ada Abang yang menolong kami semua, entah apa jadinya kami sekeluarga.”
“Itu hanya kebetulan saja Bu, sebenarnya Allah yang telah menolong Ibu sekeluarga.”
Sambil melanjutkan pekerjaannya, Maryati tampak tersenyum, hatinya sangat senang sekali, karena esok hari mereka semua dapat berkumpul bersama.
Sementara itu, Leli yang sudah kehilangan Maryati, merasa sangat cemas sekali, dia merasa berdosa karena telah menelantarkan menantu dan cucunya.
“Bunda kenapa melamun?” tanya Mayar heran.
Leli hanya diam saja, karena hatinya terasa begitu pedih, ketika Maryati tinggal bersama mereka, Mayar lah yang terus menerus menyiksa Maryati bersama anak-anaknya.
“Apakah Bunda nggak dengar, apa yang ku tanyakan tadi?”
“Kalau pun aku dengar, lalu aku mesti bicara apa pada mu, apa perlu ku kasih tahu padamu kalau selama ini kau berkelakuan buruk sekali pada Maryati dan anak-anaknya.”
__ADS_1
“Kok Bunda menyalahkan aku sih, emangnya Bunda nggak punya kesalahan, apa!” bentak Mayar seraya menampar meja.
Sambil pergi Mayar mengambil gelas yang berisi air yang terletak di hadapannya dan menyiramkan air itu ke wajah Bundanya. Sontak hal itu membuat Leli kelabakan dan marah.
“Dasar anak durhaka, semoga saja Allah menurunkan azab untuk anak seperti mu!” sumpah Leli dengan suara lantang.
“Bunda aja yang mati duluan, biar kena azab.”
“Dasar anak nggak berguna kau Mayar!”
“Aku seperti ini, itu semua karena Bunda begitu miskin dan nggak punya apa-apa.”
Semakin jauh, Mayar pergi, semakin sakit rasanya hati Leli, sepeninggal Mayar, Leli pun menangis histeris.
Mayar memang seperti itu, bukan hanya sekali, namun berulang kali dia menyiksa Bundanya, bukan hanya mulutnya saja yang kasar tapi Mayar juga sangat kejam pada Bundanya.
Dia bahkan tega menarik rambut Leli serata mencekiknya hingga tak sadarkan diri. Mayar bahkan menyiksa Bundanya itu berulang kali.
“Bunda kenapa menangis?” tanya Inah seraya menghampiri Leli.
“Mayar, dia selalu kasar pada Bunda.”
“Bukankah kak Mayar itu, dari dulu selalu kasar pada Bunda?”
“Iya, Bunda tahu itu.”
“lalu apa lagi, yang Bunda tangisi.”
“Mayar itu kan udah dewasa, udah punya suami malah, tapi kenapa sikap kasarnya itu nggak pernah berubah.
“Mati dulu, baru berubah.”
“Hus! nggak boleh ngomong kayak gitu pada Kakak mu.”
“Udah di sakiti aja, Bunda masih saja membelanya.”
“Gimana nggak di bela, dia itu sama seperti kalian semua, anak-anak Bunda.”
Pada saat itu tiba-tiba saja Inah teringat pada Maryati yang telah mereka siksa.
“Bunda, gimana nasib Yati saat ini ya?”
“Bunda nggak tahu Nah, setelah kepergiannya, Bunda baru merasa kehilangan sekali, sebenarnya dia itu anak yang baik Nah.”
“Baik apanya Bunda, aku nggak merasakan kebaikan itu pada dirinya.”
“Mesti dia itu orang yang berbeda suku dengan kita, tapi dia itu anak baik dan patuh. Sebenarnya kita semua yang telah berbuat jahat padanya, Bunda takut dia akan menjadi gelandangan di kota besar ini.”
“Udah…! Bunda nggak perlu memikirkannya terlalu berlebihan.”
“Bunda ini serius Nah.”
“Biarkan saja dia pergi dari sini Bun, toh dia itu kan udah dewasa. Semestinya dia itu bisa mencari jalan hidup sendiri!”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*