Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 96 Mendapat kesulitan


__ADS_3

Tak ingin mencari masalah baru, mereka semua kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


Sementara itu, Andi yang mendapat tekanan dari Bima, tampak duduk termenung. Saat itu Irul muncul dan menyapa Andi yang terdiam.


“Ada apa Bang, kok diam aja?” tanya Irul ingin tahu.


“Jika Abang keluar dari toko ini, apakah Abang bisa mendapatkan pekerjaan lain nggak, Rul?”


“Kenapa nggak, emangnya Abang mau berhenti bekerja di sini?”


“Rencananya iya.”


“Kenapa mesti berhenti, Bang?” tanya Irul seraya mengernyitkan dahinya.


“Sepertinya, Abang mulai nggak betah bekerja di toko ini.”


“Pasti karena Bang Bima.”


“Nggak, ini semua hanya karena keinginan Abang sendiri.”


“Kalau Abang mau, aku bisa membantu Abang bekerja di bengkel saudaraku.”


“Di bengkel?”


“Benar, Bang. Abang tahu nggak, bengkel saudara ku itu sangat ramai sekali, sehingga dia selalu butuh karyawan yang lincah dan cekatan seperti Abang.”


“Kau kenapa nggak mau bekerja dengannya?”


“Aku nggak bisa bekerja bersamanya Bang, karena Ayah melarang ku bekerja dengan saudara, karena bisa menimbulkan pertengkaran nantinya.”


“Kalau begitu baiklah, besok coba kau tanyakan padanya, apakah saudaramu itu masih menerima karyawan baru atau nggak.”


“Baik, Bang. Nanti sore akan ku tanyakan langsung padanya.”


“Makasih Rul.”


“Jangan berterimakasih dulu, karena pekerjaannya saja belum tentu ada.”


“Ya udah, biar ku tarik lagi ucapan terimakasih ku tadi.”


Setelah mendapat peluang dari Irul, hati Andi merasa sedikit tenang, karena dia bisa meninggalkan toko Ahong dan Bima yang selalu saja membuat dia tertekan.


Malam itu, cuaca sangat cerah, suara binatang malam terdengar sahut-sahutan, iramanya seperti saling berpadu menjadi satu. Sambil memetik gitar kesayangannya, andi tampak sedikit bersedih, Ria yang duduk bersama putrinya menatap pilu hati Andi saat itu.


“Ada apa Bang? kenapa terlihat sedih malam ini?”


“Bang Bima sepertinya selalu membuatku tertekan, rasanya aku nggak betah lagi bekerja di toko Ahong.”


“Kalau Abang nggak bekerja di sana, lalu Abang bekerja di mana?”


“Abang akan cari kerja di tempat lain aja.”


“Di tempat lain? di mana itu, Bang?”

__ADS_1


“Di bengkel saudara Irul.”


“Kalau ternyata pekerjaannya berat, Abang mau cari kerja di mana lagi?”


“Kita pulang saja ke rumah ku di kampung.”


“Di kampung Abang mau kerja apa?”


“Di sana aku bisa kerja apa saja, yang penting aku nggak mengalami tekanan seperti ini lagi.”


Tekat Andi sudah bulat, dia akan berhenti bekerja di toko Ahong, karena menurutnya, kerja bersama Bima akan membuatnya tertekan dan sakit hati.


Keesokan harinya, Andi langsung menemui Ahong di ruangannya. Andi mengutarakan niatnya untuk berhenti bekerja.


“Kenapa kau ingin berhenti Andi? bukankah saya begitu mempercayai mu di toko ini?”


“Tapi aku udah merasa jenuh Bos, aku ingin pulang kampung saja.”


“Di lihat dari cara mu bicara, pasti Bima telah memaksamu berhenti.”


“Nggak kok Bos, bahkan aku sendiri belum pernah ketemu dengan Bang Bima.”


“Baiklah, saya akan kabulkan permintaanmu, nanti kalau kau merasa ingin kembali bekerja di sini, saya masih mau membuka pintu toko ini untuk mu.”


“Makasih Bos.”


“Ya sama-sama.”


Andi yang telah mendapat izin untuk keluar dari toko Ahong, dia langsung mengucapkan salam seraya menyalami pria Cina itu.


“Iya Bos.”


“Pasti dia sangat cantik sekali,” ucap Ahong seraya tersenyum. “Untuk tanda terimakasih saya, karena kau telah bekerja lama di sini, maka saya akan menghadiahkan putri mu sebuah sepeda.”


“Oh, terimakasih Bos. Aku sangat senang sekali, karena putri ku sudah lama menginginkan sepeda ini.”


“Ya, saya tahu itu,” jawab Ahong sembari menyerahkan sepeda itu ketangan Andi.


Mesti saat itu Andi dalam keadaan sedih, tapi dia masih bisa tersenyum bahagia, karena Ahong masih mempercayai dirinya. Bahkan dia sendiri memberi sebuah hadiah untuk putri kecilnya.


Setelah Andi benar-benar keluar dari toko Ahong, saudara Irul langsung menerima Andi bekerja bersama dengannya.


Bersama Reza, Andi di jadikan orang kepercayaannya, karena Andi mengerti begitu banyak suku cadang yang bagus untuk para pelanggannya. Namun hal itu membuat para pekerja yang lain merasa tak senang.Terutama sekali Sandro.


Setelah waktu kerja selesai, Andi bersama para pekerja lain di izinkan untuk kembali pulang kerumah masing-masing. Akan tetapi, orang yang selama ini menjadi pemegang bengkel, yang di percaya Reza, menjadi sakit hati dan tersinggung dengan Andi.


Di perjalanan saat menuju pulang, Sandro menghalangi jalan Andi. Sandro sangat marah sekali saat itu.


“Heh Andi! tega kau ya ?”


“Tega apa maksud mu?”


“Apa kau nggak tahu, atau berpura-pura nggak tahu.”

__ADS_1


“Aku benar-benar nggak tahu, San?”


“Baik, akan ku beri tahu padamu. Kalau kau telah merebut kepercayaan Bang Reza dari ku.”


“Kepercayaan yang mana San?”


“Sebelum kau datang, aku orang kepercayaan Bang Reza, tapi setelah kau datang, Bang Reza langsung mengalihkan kepercayaannya pada mu. Aku tersinggung sekali Andi.”


“Kalau kau tersinggung, aku minta maaf dan aku bisa bicara dengan Bang Reza kok."


“Nggak perlu.”


“Kenapa?”


“Selagi kau masih bekerja di sana, Bang Reza pasti tetap memilihmu sebagai orang kepercayaannya.”


“Jadi mau mu apa?”


“Keluar kau dari bengkel itu secepatnya.”


“Jangan gitu lah, kau pikirkan juga anak dan istri ku, makan apa dia kalau aku nggak punya pekerjaan.”


“Itu urusanmu, nggak usah kau libatkan aku dalam masalah keluargamu.”


“Tapi kau harus mempertimbangkan semua ucapan ku itu.”


“Kan sudah ku katakan, kalau aku nggak mau ikut campur urusan keluargamu. Kenapa sih, kau nggak cari aja pekerjaan baru, kan masih banyak bekel lain yang menerima mu bekerja bersama mereka.”


“Ya sudah, besok aku akan mengundurkan diri.”


“Bagus kalau kau punya otak.”


“Kurang ajar, kasar sekali mulut mu!”


“Ingat! besok pagi aku nggak mau lagi melihat wajah mu ada di bengkel Bang Reza.”


“Nggak bisa gitu dong, aku datang secara baik-baik, keluarnya mesti dengan cara baik-baik juga.”


“Nggak perlu! aku sendiri yang akan bicara sama Bang Reza.”


Karena Sandro begitu gigih melarang Andi datang ke bengkel Bang Reza, Andi pun langsung pergi meninggalkan Sandro sendirian.


“Ingat! mulai besok aku nggak mau lagi lihat wajahmu ada di bengkel Bang Reza!” ancam Sandro dengan suara lantang.


Di perjalanan menuju rumahnya,Andi terus saja berfikir, jika dia tak mendapat pekerjaan, lalu dengan apa anak dan istrinya di beri makan.


“Huh, Sandro kau benar-benar keterlaluan,” gumam Andi sendirian.


“Ada apa Bang?”


Ria tiba-tiba saja muncul di saat Andi merasa pusing dengan pekerjaannya saat itu, di samping suaminya Ria langsung duduk terdiam.


“Pekerjaan ku di bengkel sebenarnya baik-baik saja, namun masalahnya, setelah Bang Reza mempercayai aku sebagai pengatur di bengkelnya, ternyata ada orang yang merasa tersinggung di buatnya.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2