Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 42 Menemui Maryati


__ADS_3

Sementara itu, Sulastri yang telah tiba di kantor, dia langsung menemui kliennya. Perempuan itu tampak duduk gelisah ketika menunggu Sulastri.


“Maaf, apakah Mbak yang telah menghubungi saya?” tanya Sulastri pada kliennya itu.


“Benar, apakah adek yang bernama Sulastri?”


“Ya, saya sendiri.”


“Oh, kenalkan nama saya Rara.”


“Mbak butuh apa?”


“Saya ingin keadilan.”


“Baik, saya akan berikan keadilan untuk Mbak, asalkan Mbak bicara jujur pada saya.”


“Terimakasih, Dek lastri.”


“Emangnya Mbah punya permasalahan apa?”


“Saya telah melakukan penipuan, pada banyak nasabah, untuk itu saya mau, Dek Lastri mencari alasan untuk menutupi semuanya, agar hukum nggak menyentuh saya.”


“Maaf, kalau masalah seperti itu, sebaiknya Mbak cari pengacara yang lain saja.”


“Kenapa? saya akan bayar Lastri, berapa pun yang lastri minta.”


“Bukan itu masalahnya, tapi saya nggak bisa menutup kebohongan orang dengan mencari kebohongan yang lain.”


“Jangan sombong kamu, saya berani bayar, berapa pun yang kamu minta!” teriak perempuan itu dengan suara lantang.


“Maaf Mbak, saya nggak berminat sama sekali dengan uang Mbak itu.”


“Dasar bodoh, kau Lastri.”


Seraya menggerutu, perempuan itu terus saja mengejar Lastri yang telah meninggalkannya.


“Awas kau Lastri, kau pasti menyesalinya nanti,” ancam Rara kesal.


Di saat Rara kesal, tiga orang pria datang menghampirinya, ketiga pria itu, adalah orang suruhan Rara.


“Gimana Rara, apakah dia mau?”


“Bunuh dia!” perintah Rara, pada ketiga orang pria itu.


“Baik.”


Rara sangat kesal pada Lastri yang menolak permintaannya, mesti saat itu Rara telah menawarkan begitu banyak harta dan uang bayaran.”


Apa yang di katakan Rara pada orang suruhannya, langsung terjadi. Ketika Sulastri turun dari angkot, tiga orang pria datang membekap mulutnya, namun, karena Lastri sangat pintar, dia langsung menendang pria yang mencoba untuk menghabisinya.


Sulastri langsung berteriak meminta tolong pada seluruh orang yang berada di sekitar tempat itu, sehingga secara spontan, para warga pun datang beramai-ramai memberikan bantuan pada Sulastri.


Ketiga orang pria suruhan itu, langsung di hajar masa, hingga mereka pun babak belur.


“Sekarang katakan pada ku, siapa yang telah menyuruh kalian?”


“Nggak ada.”


“Kalau kalian terus saja berbohong, maka kalian nggak akan pulang dengan selamat.”

__ADS_1


“Benar, kami nggak di suruh siapa-siapa.”


“Baiklah, kalau begitu, kita gantung saja mereka bertiga, jangan di beri makan selama tiga hari, sampai mereka semua mengaku.”


“Jangan, jangan gantung kami!”


“Kalau nggak mau di gantung, cepat katakan ke pada ku, siapa yang telah menyuruh kalian.”


“Tapi saya nggak berani bicara.”


“Mbak Rara yang menyuruh kalian?”


Ketiga pria itu tak mau menjawab, mereka hanya menganggukkan kepalanya, yang menandakan kalau pertanyaan Lastri itu benar adanya.


“Kurang ajar kau Mbak, kau berani bermain-main dengan ku,” gerutu Lastri kesal.


“Ada apa Lastri?” tanya Neneknya khawatir.


“Ini Nek, orang yang rencananya tadi mau ku tolong, ternyata dia mengirimkan orang lain untuk membunuh ku.”


“Apa! mereka mau membunuh mu?”


“Iya, Nek.”


“Kenapa cah ayu?”


“Karena aku menolak menerima kasusnya.”


“Kenapa kau menolaknya?”


“Mereka itu bukan orang baik Nek, mereka sengaja menutup kasus penipuan yang dia lakukan, agar nggak dicium pihak berwajib.”


“O walah, ternyata mereka bukan orang baik ya.”


Mesti Sulastri seorang pengacara hebat dan terkenal, tapi dia tak mau menerima suap dalam bentuk apa pun, walau terkadang posisinya berada dalam bahaya.


Suatu ketika, saat Lastri sedang duduk sendirian, tiba-tiba saja Lastri teringat dengan ucapan Neneknya, untuk segera melihat keberadaan adiknya di rumah Roro.


“O iya Nek, kalau siang ini Nenek nggak keberatan, aku mau menemui Maryati di rumah Bibi.”


“Bagus kalau begitu, pergilah cepat, Nenek nggak keberatan kok, menjaga anak-anak mu.”


“Makasih ya Nek, aku nggak lama kok, kalau aku udah ketemu dengan Maryati, maka akan ku bawa dia langsung pulang bersama ku.”


“Iya, nak. Hati-hati di jalan.”


Lastri sangat senang sekali, karena dia mendapat izin untuk melihat adiknya Maryati, dengan menaiki angkot, Lastri pun tiba di rumah Roro kedasih yang tak lain adalah Bibinya sendiri.


Di lihat dari luar, rumah itu terlihat sangat sepi, namun Lastri yakin mereka semua pasti sedang berada di dalam rumah. Dengan tenang Sulastri langsung menekan bel rumah yang terletak di sudut pagar.


Tiga kali, bel itu di tekan. Tak berapa lama kemudian seorang pria keluar dari rumah itu. pria itu tampak begitu sangar sekali, namun Lastri tak merasa gentar sedikit pun.


“Mau cari siapa?” tanya pria itu pada Lastri.


“Aku mau mencari Ibu mu.”


“Ibu?”


“Ya, aku mau mencari Ibu mu, apakah dia ada di rumah?”

__ADS_1


“Nggak, Ibu ku sedang pergi kondangan.”


“Maryati ada?”


Ketika mendengar nama Maryati pria itu tampak terdiam, Lastri pun terheran melihat perilakunya yang tampak tak sangar seperti semula.


“Hah, kenapa kau terdiam?”


“Kau siapa?” tanya pria itu dengan suara pelan.


“Aku Sulastri, Kakak Maryati.”


“Hah…! benarkah?”


“Iya, kenapa kau kaget?”


“Karena Maryati adik mu sudah tak berada di rumah ini lagi.”


“Apa! kau serius?”


“Iya, dia sudah lama pergi dari rumah ini, kami sekeluarga telah berusaha mencari keberadaannya, namun adik mu Maryati nggak kami temukan.”


“Kurang ajar! kalian pasti telah memperlakukan Maryati dengan tidak baik, makanya dia lari dari rumah kalian.”


“Nggak kok, kami nggak ada yang jahat pada adik mu.”


“Bohong, aku lihat sendiri dengan mata kepala ku, kalau kalian telah memperlakukannya dengan tidak baik.”


“Kapan kau melihatnya?”


“Ingat, aku ini pengacara, jika kalian semua ketahuan telah memperlakukan Maryati dengan nggak baik, maka akan ku tuntut kalian ke meja hijau!”


“Oh, eh, tunggu dulu!”


“Nggak perlu, kita bertemu aja di penjara nantinya.”


“Hei, sabar dulu, semuanya bisa kita selesaikan secara kekeluargaan!”


“Nggak perlu!” bentak Lastri dengan suara lantang.


Heru yang mendengar ucapan Lastri dia pun menjadi panik, Heru berlari kedalam rumah untuk melaporkan ucapan Lastri pada semua Kakaknya.


“Kau serius?” tanya Danu tak percaya.


“Buat apa aku berbohong, Kakak Maryati itu emang bicara seperti itu kok.”


“Celaka!”


“Celaka apanya Kak?” tanya Rudi ingin tahu.


“Berarti kita semua dalam masalah besar, apa lagi jika Kakak Maryati itu benar-benar melaporkan kejadian ini ke polisi, pasti kita semua akan di tangkap polisi dan di hukum dalam penjara.”


“Lalu kita mesti gimana Kak?”


“Sebaiknya kita beritahukan hal ini pada Ibu dulu, siapa tahu Ibu punya cara untuk mengelak dari hukum.”


“Tapi gimana kalau polisinya datang sebelum Ibu pulang, Kak?”


“Tenang saja, Kakak yakin perempuan itu nggak bakalan melaporkan kita ke polisi secepat itu.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2