
“Kata siapa nggak memberatkan kita Bang, sedang hidup kita keseharian saja, kita sudah susah. Lalu bagai mana pula kalau harus menambah orang lain. Kasihan Nisa Bang.”
“Aku nggak tega mengusirnya, kalau kau mau, usir saja sendiri.”
Mendengar jawaban Tomi, Maryati jadi kebingungan sendiri, dia tak tahu mesti gimana. Karena tak bisa mengambil keputusan sendiri, akhirnya Panji pun tinggal bersama mereka.
Awal pertama tinggal bersama Maryati, Panji memang mengeluarkan biaya makan sendiri, tapi setelah beberapa minggu, dia justru menjadi beban bagi keluarga Maryati yang hidup menderita.
“Gimana ini Bang, kenapa Kang Panji belum juga kembali ke Padang?”
“Sudahlah Yati, kau sepertinya keberatan sekali menerima Kang Panji disini.”
“Gimana nggak keberatan Bang, untuk biaya makan kita saja susah, lihat jualan ku, semuanya sudah ludes untuk biaya hidup keluarga ini.”
“Lalu aku mesti gimana Yati, nggak mungkinkan, aku mesti mengusirnya dari rumah ini?”
“Sekarang terserah Abang saja, nanti malam kalau makanan kita nggak cukup, maka nasi Abang yang akan di kurangi untuk makanan Kang Panji.”
Maryati yang merasa kesulitan dalam mengatur keuangan rumah tangganya, terasa semakin terpuruk semenjak kedatangan Panji kerumah itu.
Malam itu setelah semua orang tertidur dengan lelap, Maryati selalu bangun dan dia melaksanakan sholat malam. Dihadapan Allah yang maha kuasa, Maryati selalu menangis, dia mengadukan semua keluh kesahnya pada sang pencipta.
Anisa yang selalu melihat Ibunya meneteskan air mata, rasanya belum cukup pengorbanan tenaga yang dia berikan untuk Ibu yang dia cintai.
Dengan pelan Anisa datang menghampiri Ibunya itu, dia menghapus air mata yang menetes di kedua pipi Ibunya.
“Kenapa Ibu menangis?” tanya Nisa ingin tahu.
“Ibu telah membuat kalian semua menderita nak. Semenjak Ibu terlahir ke dunia ini, Ibu hanya punya air mata yang dapat membantu meringankan beban hidup ini.”
“Aku janji, aku akan selalu membantu Ibu, hingga akhir hayat Ibu nanti.”
“Makasih sayang, kalau bukan karena bantuan mu selama ini, Ibu nggak tahu mesti gimana lagi.”
“Ibu nggak usah bicara seperti itu, aku terlahir ke dunia ini, juga karena kemuliaan hati Ibu.”
Mendengar ucapan Anisa, Maryati pun menangis, di peluknya tubuh putri kecil nya yang berbakti, do’a pun selalu menyertainya di setiap detik.
Beberapa minggu kemudian, Tia pun pulang kerumah orang tuanya, dia merasa tak betah lagi tinggal bersama Bima dan istrinya yang selalu memperalat dirinya untuk menjadi pembantu.
“Dari dulu Ibu juga sudah menyarankan mu untuk pulang, tapi kau selalu memilih untuk tinggal bersama mereka.”
“Kemaren, mereka menuduhku mencuri Bu?”
“Siapa yang menuduh mu mencuri?”
__ADS_1
“Kak Dira.”
“Emangnya Kak Dira kehilangan apa?”
“Alas meja.”
“Kenapa Kak Dira menuduh mu mencuri alas mejanya?”
“Aku nggak tahu Bu, tapi alas meja itu hilang.”
“Apakah dia juga menuduh Leni mencuri?”
“Benar Bu.”
“Keterlaluan sekali Dira itu, Ibu nggak menyangka kalau dia sejahat itu pada kita.”
Sejak saat itu Tia tinggal bersama kedua orang tuanya, dengan sedikit modal Maryati membuka warung kopi untuk Tia, agar dia betah berada di rumah.
Benar saja, semenjak warung kopi Tia ramai pengunjung, Tia pun betah berada di rumah.
Namun sejak saat itu pula, Maryati merasa kesulitan di buatnya, karena semua pengunjung warung kopi putrinya hanya laki-laki semua.
Mereka bahkan ingin berlama-lama di warung itu, hanya untuk menatap wajah cantik yang di miliki Tia. Maryati jadi semakin bingung ketika seorang pria selalu datang dan mengajak Tia bicara.
“Kau jangan terlalu dekat dengan pria itu nak.”
“Kita belum kenal betul siapa dia itu sebenarnya.”
“Tapi dia itu sangat baik pada ku Ibu.”
“Tentu saja dia bersikap baik pada mu, karena dia punya tujuan tertentu pada mu. Apakah kau mencintainya?”
“Iya Bu, Bang Arman juga mengajak aku bekerja bersamanya. Apakah Ibu mengizinkan kami bekerja.”
“Ibu nggak melarang kau bekerja, tapi apakah kau sanggup bekerja, bukankah selama ini, kau belum pernah bekerja seberat itu.”
“Akan aku coba dulu Bu, nanti kalau aku nggak kuat, maka aku akan berhenti bekerja.”
“Baiklah, kau jaga diri mu baik-baik.”
“Iya Bu.”
Pesan Maryati di dengarkan oleh Tia bersama Arman dia pergi bekerja setiap hari. Maryati yang tak pernah memikirkan hal terburuk sesudah itu, dia tak menyangka sama sekali, kalau Tia putrinya ingin menikah dengan pria itu.
“Tapi kelurga kita belum mengenalnya nak.”
__ADS_1
“Bang Arman berjanji akan mengajak kedua orang tuanya, menemui Ayah dan Ibu, jika kami di izinkan menikah.”
“Kalau begitu biar Ibu bicarakan dulu dengan Ayah mu, mana jalan yang terbaik menurut kalian berdua.”
Malam itu, ketika Maryati membahas masalah Tia bersama Arman, Tomi langsung menyerahkan semuanya pada Maryati.
“Semuanya ku serahkan pada mu Yati, apapun yang menjadi keputusanmu, maka aku akan menyetujuinya.”
Sebenarnya Maryati, kurang setuju dengan Arman, selain dia sombong, Maryati juga tak mengenal Arman sama sekali. Tapi karena Tia selalu berharap, maka Maryati terpaksa mengizinkan mereka menikah.
Seperti janji Arman pada Tia, di hari pernikahan mereka, Arman mengajak kedua orang tuanya untuk menghadiri pernikahan itu. ijab qobul pun berjalan dengan lancar dan sukses. Satu minggu setelah mereka menikah, Arman langsung mengajak Tia pindah rumah.
Di rumah barunya, Tia mulai membina pernikahannya dengan baik. di awal pernikahan semuanya berjalan dengan lancar dan aman, Arman sangat menyayangi istrinya, dia bahkan sangat memanjakan Tia.
Beberapa bulan setelah pernikahannya berlangsung, sedikit demi sedikit Maryati mulai mencium bau yang tak menyenangkan dari pernikahan mereka berdua.
Beberapa orang melaporkan pada Maryati kelakuan buruk menantunya itu, yang suka mengambil tanaman orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Mendengar isu yang terus berhembus di seluruh Desa, Maryati langsung mendatangi rumah Tia. Saat itu hanya ada Tia sendiri di dalam rumah, sementara suaminya sedang pergi bekerja.
“Mana suami mu Tia?” tanya Maryati ingin tahu.
“Dia sedang bekerja Bu.”
“Apa kau yakin, kalau suami mu itu pergi bekerja?”
“Maksud Ibu?”
“Banyak orang yang mengabari ke Ibu, tentang perbuatan buruk suami mu itu nak.”
“Perbuatan buruk apa Bu?” tanya Tia tak mengerti.
“Dia suka mengambil tanaman orang lain nak.”
“Berarti, semua buah-buahan yang dia bawa pulang kerumah, semua itu hasil curian?”
“Begitulah kata orang nak.”
“Kurang ajar sekali Bang Arman, dia tega memberi makanan haram untuk bayinya sendiri.”
“Kau nggak usah marah dulu, nanti kalau suamimu kembali, kau selidiki secara baik-baik.”
“Baik Bu.” jawab Tia dengan suara pelan.
Hati Tia terasa begitu sakit, karena dia telah di bohongi oleh orang yang selama ini dipercayainya. Menjelang suaminya pulang kerumah, Tia tampak begitu resah, dia berjalan hilir mudik di sepanjang ruangan tamu.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*