Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 23 Keputusan yang diambil


__ADS_3

“Adek, nggak usah takut, kami akan melindungi keamanan adek, dari segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi.”


“Tapi aku nggak tahu, siapa yang telah melakukan semua ini pada ku.”


“Benarkah? apakah adek masih ingat di mana rumahnya?”


“Rumah ku? rumah ku ada di mana?"


"Apakah adek tahu nama alamatnya?”


“Nggak Pak, selama ini aku nggak pernah keluar dari rumah itu.”


“Tapi adek tahu kan, dimana letak posisi rumah adek itu saat ini?”


“Aku juga nggak tahu, Pak.”


“Baiklah, sekarang adek beristirahatlah dulu, nanti kami akan menyuruh perawat Nora untuk mendampingi mu selama di sini.”


“Baik Pak.”


Polisi itupun kemudian pergi meninggalkan Maryati yang saat itu masih merasa bingung, karena memang dia tak tahu di mana letak rumahnya.


“Gimana Pak, apakah dia mau bicara?” tanya Nora ingin tahu.


“Sepertinya belum, mungkin karena dia baru sadar, biarlah dia beristirahat dulu.”


“Baik Pak.”


Di saat Maryati sendirian di dalam ruangan itu, diapun melihat sekujur tubuhnya mengalami luka serius, hampir rata terlihat luka itu.


“Hm…! kalian begitu kejam sekali padaku Bi, apa salah ku pada mu? huk..huk..huk!”


Mendengar suara tangisan di ruangan Maryati, perawat Nora langsung menghampiri kamar gadis malang itu.


“Kau sedang menangis?” tanya Nora dengan suara lembut.


“Benar kak, aku sedih sekali.”


“Sedih kenapa?”


“Dari kecil aku di besarkan oleh seorang Bibi yang jahat dan kejam, dia bahkan nggak memberi ku kesempatan untuk menuntut ilmu, jangan kan untuk mengenali huruf, bahkan aku sendiri tak mengenal siapa nama ku yang sesungguhnya.”


“Jadi Adek nggak tahu, siapa nama aslinya?”


“Nggak,” jawab Maryati seraya menggelengkan kepalanya di hadapan suster Nora.


“Jadi mereka memanggil mu dengan sebutan apa?”


“Yati, hanya itu kata-kata yang sering kali mereka ucapkan, jika mereka semua memarahi ku.”


“Mereka semua? mereka siapa?”


“Bibi dan kesepuluh orang anak-anaknya.”


“Jadi Bibi mu, punya sepuluh orang anak?”


“Iya Kak, mereka semua kejam dan jahat, sama seperti Ibunya. Setiap hari mereka hanya menyiksa ku.”


“Apakah adek tahu, di mana rumah Bibi adek itu?”


“Nggak.”

__ADS_1


“Kenapa nggak tahu? bukankah adek di besarkan di sana?”


“Iya, tapi aku nggak mereka izinkan keluar dari rumah itu, sedari kecil aku hanya bekerja saja, tanpa ada istirahat.”


“Wah, kalau begitu berarti Bibi mu itu sangat jahat dan kejam, dia itu pantas mendapat hukuman dari polisi.”


“Nggak Kak, aku nggak mau menuntutnya.”


“Kenapa?”


“Biarkan saja dia seperti itu pada ku, tapi aku nggak akan berbuat jahat padanya.”


“Tapi, jika adek nggak kembali pada mereka, lalu adek akan tinggal dimana?”


“jika aku telah sembuh, aku akan pergi dari rumah itu Kak, aku udah nggak tahan tinggal bersama mereka.”


“Apakah adek nggak takut hidup di luaran sana?”


“Takut sama siapa Kak?”


“Banyak preman jalanan yang akan mengganggu mu nantinya.”


“Lalu aku mesti gimana?”


“Tunggulah sampai Adek sembuh, nanti biar Kakak yang bicara sama Pak Kades.”


“Apakah Pak Kades itu sama kejamnya dengan Bibi ku, Kak?”


“Kalau itu Kakak nggak tahu, tapi Kakak yakin, Pak Kades nggak sejahat dan sekejam Bibi mu.”


“Benarkah?”


“Tentu benar Dek.”


“Aku sudah bertanya banyak padanya Pak.”


“Lalu informasi apa yang telah suster dapatkan darinya?”


“Nggak ada, jangankan untuk tahu siapa yang telah melakukan pembunuhan itu, nama lengkapnya saja, dia sendiri nggak tahu.”


“Benarkah?”


“Sepertinya gadis itu hidup dalam tekanan Bibinya.”


“Apakah dia tahu dimana alamat rumahnya?”


“Nggak Pak, karena semenjak dia tinggal bersama Bibinya, dia nggak pernah mendapat izin untuk keluar dari rumah itu.”


“Apakah dia telah memberi tahukan siapa namanya?”


“Hanya nama singkat yang sering di panggil ketika dia tinggal bersama Bibinya.”


“Siapa namanya?”


“Yati.”


“Yati, apakah hanya itu yang dia tahu?”


“Sekarang Bapak boleh bicara langsung padanya, karena kondisinya sudah mulai membaik saat ini.”


“Baiklah, biar kami saja yang masuk kedalam.”

__ADS_1


“Baik Pak.”


Lalu polisi itu pun masuk kedalam ruangan Maryati, Maryati yang melihat kedua polisi itu menghampirinya, dia pun tampak tenang saja saat itu.


“Gimana keadaannya Dek, apakah sudah terasa membaik?”


“Sudah Pak.”


“Maaf, Bapak ingin bertanya Pada Adek tentang kejadian yang telah menimpa diri Adek beberapa hari yang lalu.”


“Iya, Pak.”


“Saat Adek terluka parah di tengah sawah waktu itu, beberapa orang pemburu menemukan adek nggak sadarkan diri, dengan luka parah di sekujur tubuh mu, apakah Adek ingat siapa yang telah melakukan semua itu?”


“Nggak Pak, aku nggak tahu siapa yang telah melakukan semua itu.”


“Adek yakin tidak melihat orang lain di sekitar tempat itu?”


“Nggak Pak.


“Apakah Adek ingat di mana alamat rumahnya?”


“Nggak Pak.”


“Nggak juga ya, kenapa Adek nggak ingat, bukankah Adek sudah lama tinggal dirumah itu?”


“Iya.”


“Emangnya Adek tinggal bersama siapa di rumah itu? apakah nggak bersama Ayah Ibu?”


“Nggak Pak, kata Bibi, Ayah dan Ibu sudah mati dan dimakan cacing tanah.”


“Ya Allah,” mendengar jawaban Maryati kedua polisi itu langsung terkejut, begitu juga dengan Nora yang berada di hadapan mereka semua.


“Apakah Bibi Adek, bilang begitu?” tanya Nora tak percaya.


“Iya Kak, Bibi selalu bicara seperti itu, jika aku menanyakan Ibu padanya.”


“Emangnya, Adek sudah lama tinggal bersama mereka?”


“Kata Bibi, aku di pelihara semenjak kecil, tapi Bibi ku itu sangat kejam dan jahat, begitu juga dengan semua anak-anaknya, mereka semua jahat.”


“Emangnya, apa yang telah di lakukan Bibi dan anaknya pada Adek?”


“Mereka semua menyiksa ku, coba lihat ini,” ujar Maryati seraya menunjukan bekas penyiksaan yang di lakukan Roro bersama ke sepuluh orang anak-anaknya.”


“Bukankah ini bekas luka cambuk?”


“Iya, Bibi mencambuk ku menggunakan tali kerbau dan ranting kayu, jika aku nggak mau menuruti keinginan mereka semua.”


“Emangnya Bibi mu itu, nggak kasihan melihat mu?”


“Nggak.”


Setelah bertanya banyak, pada Maryati, akhirnya Polisi pun menghentikan penyelidikan yang akan mereka lakukan, karena Maryati berniat tak akan menuntut Bibi dan anak-anaknya. Mesti mereka semua telah berbuat jahat pada gadis malang itu.


“Karena Maryati tak mau lagi kembali kerumah Bibinya, akhirnya para warga dan Polisi sepakat untuk menitipkan Maryati pada Pak Kades.


“Saya nggak keberatan kok, kebetulan kami hanya berdua tinggal di rumah, sebenarnya sepi, sih. Tapi karena Allah belum mengaruniai kami keturunan, ya mesti gimana lagi,” jawab Pak Kades seraya tersenyum lebar.


Kemudian kesepakatan itu di sampaikan Polisi pada Maryati, bahwa untuk sementara waktu Yati akan mereka titipkan di rumah Kades Cempaka.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2