Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 55 Dituduh maling


__ADS_3

Dengan deraian air mata, Tomi menatap pilu anak dan istrinya yang tersiksa, tak berapa lama kemudian Bima pun kembali dari pemakaman.


Sepintas dia melihat Ayahnya sedang duduk diam di dekat Ibunya yang terus saja menangis sedih.


“Adik mu yang mana, meninggal itu Bima?” tanya Tomi dengan suara setengah berbisik.


Mendengar pertanyaan Ayahnya, Bima diam saja, Bima benar-benar kesal dengan Ayahnya itu, bahkan dia sendiri tak mengetahui kalau Ibunya sedang hamil dan melahirkan seorang bayi.


Karena Bima diam saja, lalu Tomi menghampiri Leli Ibunya, yang tampak duduk diam setelah kembali dari makam.


“Tomi, kau kah itu nak?”


“Iya Bu.”


“Kemana saja kau, kenapa nggak pulang-pulang selama ini, kau lihat sendirikan putramu yang baru saja di lahirkan telah meninggal dunia.”


“Jadi istri ku hamil ketika aku tinggalkan, Bu?”


“Sepertinya begitu.”


“Aku benar-benar nggak tahu.”


“Kemana saja kau selama ini, kenapa nggak pulang-pulang.”


“Aku mencari pekerjaan Bu.”


“Mencari pekerjaan? apakah udah dapat?”


“Udah, aku mendapat pekerjaan dari seseorang yang kebunnya ingin di rawat.”


“Kebun apa itu?”


“Kebun cengkeh, Bu.”


“Di mana itu tempatnya?”


“Di perbukitan Bu.”


“Ooo.”


Percakapan mereka berdua, ternyata di dengar oleh Bima, lalu Bima pun berbisik pada Ibunya.


“Ternyata Ayah udah mendapatkan pekerjaan Bu.”


“Pekerjaan apa nak?”


“Katanya menjaga kebun cengkeh milik seseorang di perbukitan.”


“Di perbukitan?”


“Iya Bu.”


“Di perbukitan apa?”


“Aku sendiri nggak tahu Bu, hanya itu yang terdengar di telinga ku.”


Sore itu setelah suasana sepi, tak seorang pelayat pun yang masih tinggal, Tomi menghampiri Maryati yang masih duduk bersandar di dinding rumah.


“Saat ini aku udah mendapatkan tempat tinggal untuk kita, tapi tempatnya cukup jauh dari kota ini, jika kau bersedia, aku akan datang menjemput mu, kita akan tinggal di sana bersama."

__ADS_1


Setelah Tomi menyampaikan maksudnya pada Maryati, lalu dia pun pergi, seraya membawa tas ransel miliknya.


“Ayah kemana Bu?” tanya Bima ingin tahu.


“Dia pergi lagi.”


“Pergi lagi? pergi gimana maksud Ibu?”


“Ibu nggak tahu, dia pergi kemana nak, tapi sebelum Ayah mu pergi dia berpesan pada Ibu, kalau dia telah mendapatkan tempat tinggal untuk kita.”


“Benarkah Bu?”


“Iya nak.”


“Dimana tempat tinggalnya itu Bu?”


“Katanya di bukit suar.”


“Bukit suar? dimana bukit suar itu Bu.”


“Kata Ayahmu, letaknya sangat jauh dari kota ini.”


“Kenapa Ayah nggak mengajak kita bersamanya Bu?”


“Entahlah nak.”


“Ayah benar-benar udah keterlaluan, Ayah pasti mengira kalau kita udah kenal kota padang ini, mana mungkin kita tahu Bu, bukankah kita baru sekali ini menginjakkan kaki kita disini.”


“Ada berapa uang mu Bima?”


“Aku nggak pernah menghitungnya Bu, tapi kemarin Ibu yang tinggal di depan itu memberi ku uang.”


“Iya Bu.”


“Hati-hati, jangan sampai uang yang ada pada mu itu hilang, jika uang itu hilang, maka kita nggak bakalan keluar dari rumah terkutuk ini.”


“Iya Bu, aku akan menjaganya dengan baik.”


Tiga hari setelah meninggalnya, Buyung putra bungsu Maryati. Bima berencana membelikan sebuah telur ayam kampung untuk Maryati yang tampak begitu lemah, karena telur dapat membuat tubuh Ibunya menjadi sedikit bertenaga.


Ketika Bima melewati kandang ayam milik Inah, tiba-tiba saja Panji meneriaki Bima maling. Bima kaget, kenapa Panji meneriakinya maling, padahal Bima hanya sekedar lewat di sebelah kendang ayam miliknya.


Karena takut di teriaki maling, kemudian Bima pun berlari dengan kencang untuk menjauhi kandang ayam milik Inah. Namun, bukannya Panji berhenti berteriak, Panji bahkan mengajak orang untuk mengejar Bima yang sudah ketakutan.


“Ayo kejar terus! dasar maling, berani-beraninya dia mencuri telur ayam milik ku!” teriak Panji dengan suara lantang.


Warga yang tidak tahu kebenarannya langsung saja mengejar Bima, Bima semakin mempercepat larinya, dia bahkan sudah semakin jauh dari rumah dan dari Ibu yang disayanginya.


“Ibu! tolong aku Bu, tolong!” teriak Bima ketakutan.


“Kejar terus! jangan sampai lolos, cepat kepung!” teriak warga yang geram dengan aksi Bima yang di tuduh maling itu.


Mesti Bima terus berlari, namun para warga tak mau berhenti mengejarnya, apa lagi Panji selalu menghasut mereka semua.


“Oh celaka, kemana aku mesti lari?” tanya Bima ketika dia menemukan jalan buntu.


“Hahaha..! akhirnya ketangkap juga kau!” teriak Panji seraya melayang kan pukulannya ke kepala Bima.


“Apa salah ku Pak, kenapa kau memukul ku?” tanya Bima heran.

__ADS_1


“Masih nanya juga,” jawab Panji sembari terus menampar wajah bima.


Bukan hanya Panji sendiri yang menghajar Bima. Akan tetapi, semua warga juga di hasut Panji untuk memukul Bima, hingga akhirnya Bima pun babak belur di hakimi warga.


Setelah Bima tak kuasa bergerak, lalu mereka pun mengikat kedua tangan Bima dan mengaraknya di sepanjang jalan menuju rumahnya.


Orang yang tak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mereka terus saja memukuli Bima dan bahkan meludahi wajah bima yang tampak penuh darah.


“Kelihatannya saja anak ini jujur dan baik, ternyata tukang maling!” bentak seorang warga yang kesal melihat Bima.


Sementara itu Lini yang melihat begitu banyak orang menuju rumah Pak RT, diapun langsung bergegas untuk menghampirinya.


“Hei, ada apa ini?” tanya Lini pada semua orang yang telah memperlakukan Bima dengan kasar.


“Dia telah mencuri Bu.” jawab seorang warga.


“Mencuri apa? ya Allah, kalian tahu siapa dia ini?”


“Nggak Bu.”


“Dia ini keponakan Panji sendiri.”


“Lalu kenapa Panji bilang, kalau dia nggak mengenalinya.”


“Dia itu telah membohongi kalian semua.”


“Tapi kami menemukan bukti ditangannya Bu.”


“Bukti apa?”


“Sebuah telur yang di curinya di kandang Panji.”


“Bohong, Bu. Aku nggak mencurinya, aku membeli telur ini di warung Ibu yang ada pohon mangga di depan rumahnya.”


“Itu warung Bu Nila. Kalian telah salah memukuli dia, kalian tahu kalau Bima ini anak baik, Ibu nggak percaya kalau dia telah mencuri.”


Kemudian Bu Lini memerintahkan seseorang untuk menemui Bu Nila tempat Bima membeli telur. Bu Nila pun datang dengan tergesa-gesa ke rumah Pak RT.


“Benar anak ini membeli telur di rumah mu Nila?” tanya Pak RT.


“Benar Pak.”


“Telur apa yang di belinya?”


“Telur ayam kampung, katanya di suruh Bu Lini, untuk Ibunya.”


“Bapak dengar sendirikan, kalau dia ini bukan maling. Mana Panji? kenapa dia nggak kelihatan?”


“Iya, mana Panji tadi? kurang ajar, dia telah menghasut kita semua."


“Kalau begitu kami semua minta maaf ya dek.”


“Nggak bisa gitu dong, karena kalian telah memukulnya, maka kalian harus mengganti rugi rasa sakit yang di tanggung nya.”


Dengan ikhlas, maka semua warga yang hadir di tempat itu langsung mengeluarkan uang mereka dan memberikannya pada Bima. Setelah uang terkumpul maka Bu Lini membuka tali pengikat di tangan Bima.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2