Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 32 Kelakuan Tomi


__ADS_3

“Kenapa nggak ngabarin Ayah tentang pernikahan kalian, Nak.”


“Maafkan aku Yah, aku nggak mengabari Ayah tentang pernikahan ku.”


“Ya udah, karena semuanya telah terjadi, Ayah pun memakluminya. Sekarang Ayah mau nanya, apakah kau sudah pernah bertemu dengan Bibi mu?”


“Belum Yah, tapi aku berencana nggak akan menemui mereka semua.”


“Ya sudah, terserah mu saja,” ujar Darman seraya meneguk kopi hangat yang ada di hadapannya.


Lama mereka berbincang, membahas hal-hal yang menyenangkan hati, lalu Maryati dan Tomi mohon pamit untuk kembali ke stasiun, Darman yang saat itu masih dalam masa tugasnya sebagai seorang Kades menolak untuk ikut bersama Maryati ke rumahnya.


Hari pun berlalu dengan tenang, setelah Tomi dan Maryati kembali ke stasiun, semuanya terasa berubah.


Kepergian Ridwan dari hidup mereka ternyata telah berjalan satu tahun tak terasa. Sesuai dengan kehendak Allah, saat itu di dalam Rahim Maryati telah ada seorang jabang bayi yang hampir saja lahir ke dunia.


Genap di usia Sembilan bulan lima hari, Maryati pun melahirkan anak keempatnya. Mungkin karena fisik Maryati yang lemah dan usia Maryati yang terbilang muda, akhirnya Maryati pun melahirkan bayi prematur.


Bayi mungil yang cantik itu, terbaring lemah dalam incubator rumah sakit, siang malam Maryati dan Tomi menjaganya dengan penuh kasih sayang dan harapan yang begitu banyak. Agar bayi mungil itu bisa kembali sehat.


Enam bulan menjaga si jabang bayi di rumah sakit, Maryati kehabisan semuanya, begitu juga dengan modal usahanya, juga ludes tak bersisa.


Sementara itu, Tomi yang bertugas di kantor pusat TNI, jarang sekali kembali pulang kerumah, semua itu karena tugasnya yang semakin menumpuk.


Di rumah sakit Maryati berusaha sendirian merawat anaknya yang tak kunjung sadar.


“Ibu, Ibu! aku lapar!” rengek Bima seraya menggoncang tubuh Ibunya.


“Kamu lapar sayang?”


“Iya Bu.”


“Tapi Ibu nggak punya uang nak, kamu tahanlah sebentar lagi, nanti kalau nasi rumah sakit datang, biar untuk bima saja ya.”


“Tapi aku laparnya sekarang Bu.”


“Iya Ibu tahu, tapi Bima bisa bersabar kan sayang?”


“Ya udah, kalau Ibu nggak mau belikan aku makanan, lebih baik aku tidur saja.”

__ADS_1


Hati Maryati terasa teriris, di saat dia mendengar ucapan polos dari Bima yang masih kecil, Maryati tak tahu mesti bagai mana, karena sudah hampir lima bulan Tomi tak pernah datang mengunjungi mereka di rumah sakit.


Di saat Bima mencoba untuk memejamkan mata, orang yang berada di sebelahnya justru sedang membuka bungkus nasi, yang sambalnya sangat lezat sekali.


Melihat anak di sebelahnya sedang menyantap nasi, Bima merasa tak tahan, untung saja perempuan tua yang berada di sebelah Maryati menyuruh anaknya berbagi makanan dengan Bima.


“Yogi, nasinya di bagi dua dengan Bima ya nak?”


“Iya Bu,” jawab Yogi seraya menggeser nasi yang ada di hadapannya ke depan sang Ibu.


Lalu dengan senyuman yang lebar, perempuan tua itupun membagi dua nasi anaknya, dengan Bima. Karena nasi mereka sudah terbagi dengan rata, perempuan itu langsung mempersilahkan Bima untuk memakannya.


“Terimakasih Bu, telah berbagi dengan ku.”


“Sama-sama sayang, ternyata kau anak yang pintar,” ucap perempuan tua itu sembari mengusap kepala Bima.


Lebih dari enam bulan Maryati berada di rumah sakit untuk mengurusi putri kecilnya. Atas izin Allah, akhirnya putri kecil itu pun sadar dan terlihat sangat lincah. Setelah putrinya sadar, Maryati pun mendapat izin untuk kembali pulang.


Di stasiun kereta api, Maryati kembali membuka usahanya, berjualan kopi dan makanan ringan lainnya, mesti untungnya tak seberapa, namun Maryati tetap berjualan, agar kebutuhan anak-anaknya dapat terpenuhi.


Malam itu Tomi pulang kerumahnya, dalam keadaan mabuk, Maryati menjadi marah atas sikapnya itu, yang tak pernah perduli dengan putri yang baru saja dia lahirkan.


“Aku lagi sibuk sayang.”


“Itu hanya alasan mu saja Bang, sekarang sudah lebih dari enam bulan, baru kau kembali kerumah ini.”


“Maafkan aku Maryati, saat ini aku sedang mendapat hukuman dari pusat.”


“Hukuman? hukuman apa?”


“Aku mendapat hukuman, karena meninggalkan tugas selama satu bulan.”


“Kenapa kau meninggalkan tugas, kalau memang akan mendapat sangsi?”


“Kalau aku nggak menjagamu, di rumah sakit lalu siapa yang akan menjaga mu dan Bima, untuk itu aku pergi ke kantor untuk minta izin tugas, tapi mereka menolak izin ku.”


“Lalu Abang dapat hukuman berapa bulan?”


“Belum ada keputusannya, yang jelas hingga saat ini, aku telah menjalani hukuman lima bulan lebih.”

__ADS_1


“Kenapa Abang nggak segera ke pusat, tanyakan pada pimpinan Abang, sampai kapan hukuman itu berakhir.”


“Abang malu pada kawan-kawan.”


“Malu sama kawan-kawan? apakah aku nggak salah dengar?”


“Sudahlah sayang, kita nggak usah membahas itu lagi, yang paling terpenting kita telah senang, karena putri kita telah kembali kerumah dengan selamat dan sehat.”


“Kenapa ya, dalam hidup ku, aku selalu di tipu dan dibodohi orang terus?”


“Nggak ada yang membodohi dan menipu mu sayang.”


“Kalau Abang nggak bertugas lagi, lalu gimana kita bisa mencari makan di kota sebesar ini.”


“Sabar sayang, masih banyak pekerjaan yang mesti kita kerjakan, asalkan kita mau berusaha, Allah pasti memberi jalan untuk kita."


“Baiklah, kalau itu yang Abang katakan, aku menurut saja,” jawab Maryati yang saat itu sedang mencuci piring.


Karena telah di bebas tugaskan akibat lalai dalam bekerja, Tomi terpaksa mencari pekerjaan serabutan untuk menambah biaya keluarga. Setelah beberapa bulan bekerja, Tomi pun mendapatkan hasil yang lumayan.


Hasil dari kerja tambahan itu di manfaatkan Tomi untuk mencukupi biaya hidup keluarga. Namun sayang, kesempatan yang besar itu di salah gunakan oleh Tomi.


Iseng-iseng, Tomi ikut bersama teman-temannya bermain kartu remi, hingga akhirnya dia pun menjadi ketagihan. Setiap hari Tomi bermain kartu, sehingga pemilik tempat dia bekerja jadi marah dan memberhentikannya dari pekerjaan.


Bukan hanya uang dari gaji tambahannya saja yang di manfaatkan untuk bertaruh, uang dari gaji bulanan selama bertugas pun habis tak bersisa untuk di pertaruhkan di meja judi.


Siang malam Maryati hanya bisa menangis dan bersedih, namun Tomi sepertinya selalu mengabaikan.


“Pagi ini, nggak ada lagi beras di dapur, semuanya telah habis, sementara Bima dan Tia butuh makan, Bang.”


“Abang nggak punya uang sayang.”


“Kemana uang hasil kerja Abang selama ini, uang gaji dan uang tunjangan lainnya?"


Tomi hanya diam saja ketika Maryati mempertanyakan masalah uang itu padanya. Karena semua uang itu sudah habis dia pertaruhkan di meja judi.


“Rasanya aku udah nggak tahan kalau kita terus begini Bang, sebentar lagi Tia akan punya adik, apakah kita punya biaya untuk melahirkannya di rumah sakit?”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2