
Gelak tawa mereka seolah-olah telah melempar kotoran ke wajah Maryati, perempuan yang memiliki tiga orang anak itu, hanya bisa meneteskan air mata. apa daya, tubuh jauh dari kampung halaman sendiri.
Setelah selesai menimba air, mencuci membersihkan rumah, mengepel lantai dan lainnya, Maryati kemudian di suruh memasak. Sambil memasak, Maryati selalu mereka tekan, ada saja kesalahan Maryati yang membuat mereka kesal dan marah.
Kepala yang semestinya di hormati, hanya mereka jadikan bahan permainan, kepala itu justru sering di benturkan keluarga Tomi, kelantai, kemeja dan bahkan ke dinding jika Maryati melakukan sedikit kesalahan.
Di rumah Tomi, Tia dan Leni tampak begitu kurus sekali, apa lagi Leni, persis seperti anak kurang gizi, jangankan untuk bermain, untuk berdiri saja, Leni bahkan nggak sanggup mengangkat kakinya.
Betapa tidak, keluarga Tomi hampir setiap hari menyiksa mereka semua, jangankan untuk memberi makanan yang bergizi, untuk makan sehari-hari saja mereka tak mau memberinya.
Setelah mereka selesai makan, maka sisa dari makanan itulah yang dikumpulkan Maryati untuk ketiga orang anak-anaknya.
Pagi itu ketika Bima sedang menyapu halaman depan rumah, seorang tetangga memanggilnya. Awalnya Bima menolak untuk mendatangi Ibu tersebut, tapi karena perempuan itu terus memaksanya, akhirnya Bima mendatangi perempuan tua itu.
“Hei, kamu anaknya Tomi ya?” tanya perempuan itu ketika di hampiri oleh Bima.
“Benar Bu, saya Bima.”
“Wah nama yang bagus.”
Mendengar pujian dari perempuan tua itu, Bima tampak tertunduk malu, lalu Bima memberanikan diri, duduk di samping perempuan itu.
“Kau bisa berbahasa minang?” tanya perempuan itu lagi.
“Nggak Bu.”
“Jadi, selama di Jakarta, kalian hanya berbahasa Indonesia?”
“Iya Bu, tapi kalau Ibu ku berbahasa Jawa.”
“Ibu mu orang jawa?”
“Iya Bu.”
“Ibu perhatikan semenjak kalian datang ke rumah ini, kalian tampak kurus dan pucat.”
Bima hanya diam saja mendengar tanggapan dari perempuan tua itu, karena Bima tak berani menjawabnya.
“Kenapa kamu diam, kau takut dengan Mayar dan adik-adiknya itu?”
“Iya Bu. Mereka semua selalu menyiksa Ibu ku.”
“ Menyiksa Ibu mu? pantas, semenjak kalian disini, Ibu nggak pernah melihat Ibu mu keluar dari rumah.”
“Ibu ku, mereka jadikan budak selama di sini.”
“Lalu mana adik-adik mu?”
“Mereka ada di dalam, keduanya saat ini sedang sakit, karena mereka semua nggak memberi kami makan Bu.”
__ADS_1
“Apa! Nenek mu itu nggak memberi kalian makan?”
“Tapi Ibu jangan bilang ke mereka, nanti mereka menyiksa Ibu ku lagi.”
“Iya Ibu tahu. Mana Ayahmu sekarang?”
“Pasti dia sedang bermain judi.”
“Keterlaluan kau Yung, teganya kau menyiksa istri dan anak-anakmu.”
“Pagi ini, apakah kau udah makan nak?”
“Belum Bu.”
“Masuklah kedalam, Ibu ada nasi dan lauk untuk mu,” ujar perempuan itu seraya menarik tangan Bima untuk masuk kedalam rumahnya.
“Nggak usah Bu, nanti kalau ketahuan Bibi gimana?”
“Kau nggak usah takut, nanti Ibu yang bertanggung jawab.”
Dengan berat hati, Bima pun masuk kedalam rumah perempuan itu, di atas meja, perempuan itu menghidangkan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya.
Saat hendak menyantap nasi itu, Bima teringat pada Ibu dan kedua adiknya yang kelaparan. Tangannya pun terhenti seketika, kemudian Bima mengurungkan niatnya untuk memakan nasi itu.
“Kenapa nggak di makan Bima?”
“Kalau Ibu nggak keberatan, nasinya tolong di bungkusin saja, nanti biar ku makan bersama kedua adik ku.”
“Benar kah?”
“Iya nak.”
Bima sangat senang mendengar ucapan Ibu itu, dengan lahap Bima memakan nasi yang ada di dalam piringnya dengan cepat.
“Tenang nak, makannya nggak usah keburu-buru.”
“Nanti kalau Bibi ku memanggil gimana Bu?”
“Kau nggak usah cemas, aku yang akan menjawabnya nanti.”
Barulah Bima memakan nasi itu dengan pelan setelah dia tahu, kalau Ibu yang bersamanya akan bertanggung jawab jika Bibinya datang.
“Aku udah kenyang Bu.”
“Bagus, ini ada nasi untuk adik-adik mu, kau bawa pulang dan beri makan mereka berdua.”
"Baik Bu, terimakasih."
“Sama-sama nak.”
__ADS_1
Seraya menarik nafas panjang perempuan itu terus memandangi Bima hingga dia menghilang di balik pintu rumahnya.
“Kau ternyata kejam Leli, aku nggak menyangka sama sekali, kalau kau dan putri mu sepakat untuk berbuat jahat pada menantu mu sendiri,” gumam perempuan itu pelan.
Sedangkan Bima yang saat itu membawa sebungkus nasi, langsung memberikan nasi itu pada Ibunya di rumah.
“Ibu aku punya makanan untuk kalian.”
“Kau dapat dari mana makanan ini nak?” tanya Maryati ingin tahu.
“Ibu yang berada di depan rumah itu yang memberi ku makanan Bu.”
“Alhamdulillah,” ucap Maryati sembari membuka bungkus nasi itu.
Dengan cepat, lalu Maryati menyuapkan kedua orang putrinya, sementara Bima hanya memandanginya dengan rasa haru dan prihatin.
“Kau nggak makan nak?” tanya Maryati pada Bima.
“Nggak Bu, Ibu itu telah memberiku sepiring nasi tadi.”
“Tapi kau jangan sering-sering datang ke sana nak, nanti kalau Bibi mu tahu, dia akan menyakitimu.”
“Iya Bu,” jawab Bima dengan suara lembut.
Baru beberapa suap nasi itu masuk ketubuh Tia dan Leni, tiba-tiba saja Jihan datang dan mengambil nasi itu dari genggaman Maryati serta melemparkannya ke luar rumah, sehingga nasi itu pun habis berserakan.”
“Ya Allah Bi, ternyata keburukan hati kalian di rumah ini sama saja, kalian ternyata punya hati Iblis,” ujar Bima seraya mendorong tubuh Jihan hingga terhuyung kebelakang.
“Apa-apaan kau ini! apakah kau ingin membunuh ku?”
“Bibi yang ingin membunuh Ibu dan kedua adik ku, kalian begitu tega sekali, persis seperti orang nggak beragama saja.”
“Diam kau! tutup mulut jelek mu itu! masih syukur kalian kami tampung di rumah ini. Kalau nggak, kalian pasti jadi gelandangan.”
“Sebenarnya aku dan Ibu ku juga nggak tahan tinggal di rumah ini, kami ingin pulang ke Jakarta, tapi saudaramu itu yang selalu menahan kami di sini.”
Tia dan Leni yang saat itu melihat pertengkaran mereka, hanya bisa menangis di pelukan Maryati. Begitu juga dengan Maryati hanya bisa mengalirkan air mata setiap saat.
Malam itu sepulangnya bermain judi, Tomi meminta Maryati melayaninya, perempuan lemah dan tak berdaya itu, tak kuasa menolak permintaan suaminya.
Mesti saat itu Tomi tahu, kalau istrinya begitu tersiksa tinggal bersama Ibu dan adik-adiknya, namun Judi telah membutakan mata hatinya.
Satu bulan setelah itu ternyata Maryati positif hamil. Dia muntah dan mengalami demam tinggi, Bima yang mengira Ibunya masuk angin dia pun mencoba memberi berbagai macam obat, agar demam Ibunya bisa sembuh.
Selama masa kehamilannya, Maryati tak pernah mereka beri makan, sehingga tubuhnya semakin kurus dan pucat. Maryati sungguh tak berdaya sama
sekali.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*