
“Kau siapa?” tanya Maryati ketika melihat seseorang berjubah hitam sedang berdiri di hadapannya.
“Aku kematian, mu.”
“Kematian, ku?”
“Kau telah mengetahui segalanya.”
“Aku memang telah mengetahui semuanya, tapi aku tak pernah menceritakan nya pada siapa pun.”
“Apa pun alasan mu, kau akan berakhir di tangan ku.”
Ancaman yang di ucapkan oleh sosok berjubah hitam itu, membuat Maryati merasa ketakutan, dengan cepat diapun berlari pulang kerumahnya.
Wajah pucat Maryati menimbulkan tanda tanya di hati Bima, dengan cepat lalu diapun menghampiri Ibunya yang tampak begitu ketakutan.
“Ada apa Bu? kenapa Ibu kelihatan sedang ketakutan?”
“Ada makhluk aneh sedang mengikuti kemanapun Ibu pergi Bima.”
“Makhluk aneh? makhluk apa itu Bu?”
“Makhluk yang pernah Ibu lihat saat Ibu pergi bersama Bu Yuni waktu itu.”
“Kurang ajar! sepertinya itu Iblis teman kuncen tempat Ibu melakukan pesugihan itu.”
“Mungkin nak, mungkin. Tapi Ibu takut sekali.”
“Kalau begitu, untuk sementara waktu, Ibu nggak usah keluar rumah dulu, karena aku takut Iblis itu akan mencelakai Ibu.”
“Iya nak.”
“Sebaiknya Ibu ambil air wudhu dan lakukan sholat.”
“Baik nak.”
Seperti yang di perintahkan Bima, Maryati langsung mengambil air wudhu dan diapun melaksanakan sholat, selesai sholat, Maryati berdo’a kepada Allah, agar di jauhi dari makhluk terkutuk itu.
Dua hari setelah kedatangan makhluk itu, Maryati terlihat diam saja, dia tak banyak bicara, ketika hendak tidur siang, Maryati melihat begitu banyak kalajengking di atas tempat tidurnya.
Maryati menjerit histeris, Bima yang melihat Ibunya ketakutan, berusaha untuk menenangkannya.
“Ibu! ada apa?” tanya Bima heran.
“Ada kalajengking nak, lihat begitu banyak kalajengking di Kasur Ibu.”
“Kalajengking?”
“Iya, nak. Kau lihatlah sendiri!”
Mendengar perintah dari Ibunya, Bima langsung bergegas menuju kamar Ibunya, benar saja, di atas Kasur Maryati terlihat begitu banyak kalajengking, setiap kali Bima mengusir kalajengking itu, maka kalajengking itu semakin bertambah banyak.
“Aneh, kenapa kalajengking nya semakin banyak?” tanya Bima pada dirinya sendiri.
“Api nak, ambil api!” teriak Maryati yang ketakutan.
“Baik Bu,” jawab Bima seraya mengambil obor ke dapur.
Mesti api itu di arahkan ketubuh kalajengking, namun binatang itu tak mau pergi, dia bahkan tetap bertahan dan merayap di atas Kasur Maryati.
__ADS_1
Merasa panik, lalu Bima menutup pintu kamar Ibunya dari luar, merekapun duduk terdiam di depan warung.
Tak berapa lama kemudian seorang pria yang tak di kenal datang ke warung Maryati, pria itu pun duduk diam, beberapa saat kemudian pria itu meminta segelas kopi pada Maryati.
Dengan pelan Ibu tiga orang anak itu pun mengambilkan kopi pesanan pria tersebut. Pria itu pun menatap Maryati dengan pandangan yang nanar.
“Bapak kenapa memandang saya seperti itu?”
“Apakah kamu ada masalah?” tanya pria itu.
Saat mendengar pertanyaan pria itu Maryati langsung menatap wajah Bima, yang saat itu masih berada di dalam rumah. Bima pun menggelengkan kepalanya, pertanda kalau kejadian itu tak usah di beritahu orang lain.
“Oh, nggak Pak,” jawab Maryati pelan.
“Nggak ada ya?”
“Iya.”
“Ya sudah, nanti kalau ada, kamu jangan menyesal!”
“Emangnya Bapak siapa?” tanya Maryati heran.
“Tadi aku melihat ada kabut hitam masuk kedalam rumah mu, kalau aku boleh memberi tahu mu, maka akan ku beri tahu.”
“Kabut hitam?”
“Ya, kabut hitam.”
“Tapi kami nggak menemukan kabut hitam di dalam rumah ini.”
“Tentu, karena kabut hitam itu telah berubah menjadi penyakit atau teluh kiriman seseorang.”
“Ya teluh.”
“Teluh itu apa Pak?”
“Teluh itu berupa penyakit yang di kirimkan seseorang pada keluarga kita, apakah berupa penyakit atau ilmu hitam lainnya.”
“Bapak benar, di dalam kamar saya, ada begitu banyak kalajengking, semakin di usir, maka kalajengking itu pun semakin banyak.”
“Nah, itu dia teluh kiriman seseorang itu. Boleh saya lihat kedalam?”
“Tapi suami saya nggak di rumah Pak.”
“Kan kau punya anak laki-laki yang sudah remaja.”
“Gimana Bima?” tanya Maryati meminta pendapat putranya.
“Ya, silahkan Bapak lihat sendiri, ke dalam kamar Ibu saya.”
“Maaf nak, bukan maksud Bapak ingin menakuti dan berbuat jahat pada kalian semua, semua ini hanya kebetulan sekali, pas Bapak memasuki gang jalan depan, tanpa sengaja Bapak melihat sekelebat bayangan hitam masuk kedalam rumah kalian.”
“Iya, kami pun ketakutan saat ini.”
“Bapak jadi penasaran dengan bayangan itu, makanya Bapak mengikutinya sampai ke rumah ini.”
“Kalau begitu, Bapak lihatlah sendiri ke dalam.”
Dengan pelan dan berhati-hati, pria itu langsung membuka pintu kamar Maryati. Akan tetapi betapa terkejutnya mereka semua, ketika pintu itu telah terbuka dengan lebar, bukan hanya di atas Kasur Maryati, Kalajengking itu bahkan udah memenuhi seluruh ruangan kamar Maryati.
__ADS_1
“Ya Allah! kenapa begitu banyak kalajengking nya?”
“Ibu yang tenang, sepertinya ini bukan kalajengking biasa, saya harap Ibu dan anak-anak menjauh lah dari pintu ini.”
“Baik Pak,” jawab Maryati sembari menggendong Leni.
Sembari duduk bersila, pria itu tampak berkomatkamit membaca sesuatu, Maryati melihat jelas dengan mata kepalanya, kalau saat itu seluruh kalajengking itu akan menyerang pria tua tersebut. Namun sepertinya, seluruh kalajengking itu tak mampu menyentuhnya.
“Wah…! kenapa seluruh kalajengking itu nggak mampu menyerang pria itu Bima?”
“Sepertinya seluruh kalajengking itu terhalang Bu.”
“Terhalang apa?”
“Nggak tahu, tapi seakan-akan ada kaca di antara mereka.”
“Ternyata pria itu pintar nak.”
“Sepertinya begitu Bu.”
Beberapa saat kemudian, seluruh kalajengking itu pun lenyap entah kemana, seluruh ruang kamar Maryati bersih, seperti tak terjadi apa-apa.
Pria itu pun kemudian berdiri dan keluar dari rumah Maryati seraya kembali menikmati segelas kopi pesanannya.
“Gimana Pak? apakah kalajengking nya sudah pergi?” tanya Maryati ragu.
“Sudah, Ibu udah bisa tidur nyenyak malam ini.”
“Nanti kalau kalajengking nya datang lagi gimana?”
“Dia nggak bakalan datang lagi kok.”
“Bapak yakin, kalau kalajengking itu nggak datang lagi?”
“Iya Bu, kalian semua tenang saja, kalau semua kalajengking itu sudah saya usir dan saat ini mereka telah kembali pada tuannya.”
“Apakah Bapak tahu siapa yang mengirim kalajengking itu kerumah ini?”
Mendengar pertanyaan Maryati, lalu pria itu menatap Ibu tiga orang anak itu dengan tatapan mata yang sangat tajam.
“Kenapa Bapak memandangi saya dengan tatapan seperti itu?”
“Jangan pernah main-main dengan pesugihan, karena tumbalnya pasti nyawa manusia.”
“Apa maksud Bapak, saya nggak mengerti?”
“Ibu ingin melakukan pesugihan kan?”
“Dari mana Bapak tahu?”
“Saya melihat sendiri dari bola mata Ibu, di dalamnya saya melihat ada ketakutan yang sangat luar biasa.”
“Tapi saya nggak jadi melakukannya Pak.”
“Bagus, karena setiap pesugihan, kalau kita tak sanggup memberi tumbal untuk itu, maka keluarga kita lah yang bakal menjadi tumbalnya.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1