Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 56 Melarikan diri


__ADS_3

Betapa terkejutnya Lini saat itu, ketika melihat ada kuning telur yang masih utuh berada di dalam genggaman tangan Bima.


“Kau buanglah kuning telur itu Bima,” ujar Bu Lini.


“Nggak Bu, aku mendapatkan telur Ini tidak mudah, aku harus memberikan telur ini pada Ibu ku dirumah.”


“Kalian dengar apa katanya, sekarang kalian gendong dia, hantarkan dia pada Ibunya di rumah.”


“Baik Bu.”


Lalu seorang warga menggendong tubuh Bima yang kesulitan berjalan karena di pukuli oleh warga. Pria itu menggendong Bima dan mengantarkannya pada Maryati. Betapa sedih Pria itu ketika dia melihat Bima menyuapi kuning telur itu ke mulut Ibunya yang sedang sakit.


Tak terasa air matanya pun mengalir membasahi kedua pipinya. Maafkan Abang Dek, ulah hasutan Panji, kami semua telah menghukum mu.”


Bima tak menjawab, dia hanya tersenyum ke arah pria itu, namun air matanya menetes tak terasa. Sedangkan pria yang ada bersama dengannya, dia langsung saja pergi mencari keberadaan Panji yang telah menghasut dirinya.


“Apa yang terjadi dengan mu nak?” tanya Maryati pelan.


“Bapak, telah menghasut orang dan menuduh aku mencuri Bu.”


“Kurang ajar, tak cukup dia menyiksa Ibu, dia ternyata membuat mu menderita juga.”


“Ibu, aku punya uang.”


“Uang, kau dapat di mana uang itu nak?”


“Mereka yang memberikannya pada ku Ibu.”


“Mereka siapa nak?”


“Mereka yang telah memukuli ku, karena aku nggak bersalah, lalu Bu Lini menyuruh mereka semua membayarnya.”


Atas perintah Maryati, lalu Bima menyimpan semua uang itu di tempat rahasia di dalam kopernya.


Tak berapa lama sesudah itu, merekapun mendengar suara ribut-ribut di arah rumah Panji, para warga datang beramai-ramai menghakimi Panji yang telah memfitnah Bima.


Di saat semua orang beramai-ramai datang ke rumah Panji, kesempatan itu di manfaatkan Maryati untuk mengajak Bima dan kedua putrinya pergi dari rumah terkutuk itu.


Sebuah angkot yang kebetulan berhenti tak begitu jauh dari rumah Leli, di panggil oleh Bima.


“Pak tunggu sebentar, Ibu ku mau ke pasar.”


“Oh, baiklah,” jawab sopir dengan suara pelan.


Tak berapa lama kemudian, Bima keluar seraya menggendong Leni serta membawa koper di tangan kirinya, sementara Maryati keluar dengan memegang tangan Tia di tangan kanannya.


Dengan pelan Maryati menaiki angkot itu menyusul pula dengan Bima. Ketika Bima telah naik, tampak Maryati tersenyum manis pada ketiga anaknya.


“Kita mau kemana Bu?” tanya Bima pada Maryati.


“Entahlah nak, Ibu nggak tahu.”


“Pak sopir, kalau boleh saya bertanya, jalan menuju bukit suar itu dimana ya?"


“Ooo, bukit suar?”

__ADS_1


“Iya Pak.”


“Jalanya bukan dari arah sini nak.”


“Lalu, jalannya dari arah mana ya, Pak?”


“Emangnya kamu itu mau kemana nak?”


“Kami berencana mau ke bukit suar.”


“Kalau mau ke bukit suar, sebaiknya kalian berhenti saja di sini, nanti kalau kalian bertemu dengan angkot berwarna Biru, maka tanya, apakah dia ke bukit suar atau nggak.”


“Baik Pak, kalau begitu kami berhenti disini aja.”


Dengan pelan, lalu supir angkot itu menepi dan menurunkan Maryati bersama ketiga orang anaknya di pinggir jalan.


Maryati mencoba duduk di pinggir trotoar bersama ketiga orang anaknya, namun setelah dia menunggu begitu lama, tak satu angkot pun yang datang melewati tempat itu.


“Bagai mana ini Bu, sepertinya hari udah mau malam, sementara kita belum juga dapat mobil.”


“Lalu kita mesti gimana nak? apakah kita mencari rumah kosong saja, untuk beristirahat?”


“Baiklah Bu, ayo kita jalan kedepan sana, siapa tahu di depan sana kita menemukan rumah kosong, yang bisa kita tempati.”


Dengan pelan merekapun terus saja berjalan, mencari rumah kosong yang bisa di tempati untuk semalam saja. Namum setelah jauh berjalan mereka belum juga menemukan apa yang mereka cari.


“Ibu, aku capek, sebenarnya kita mau kemana sih Bu?” tanya Tia yang merasa lelah setelah berjalan jauh.


“Yang sabar ya sayang, kita mau cari rumah kosong dulu, biar bisa beristirahat.”


“Baiklah, tapi setelah ini kita nggak kerumah Nenek lagi kan Bu?”


Setelah berjalan begitu jauh, akhirnya Bima menemukan sebuah pondok kecil di tepi sawah, yang terlihat kosong tak berpenghuni.


“Bagai mana kalau kita tidur di pondok itu saja Bu, pasti kosong.”


“Iya nak, pondok itu biasa di pakai orang pada siang hari untuk mengusir burung yang memakan padi mereka.”


“Kalau begitu tempat itu pasti sangat aman untuk kita bermalam.”


“Iya nak.”


Dengan senang hati, mereka berempat langsung menuju pondok sawah yang letaknya berada di pinggir jalan.


“Bismillah,” ujar Maryati seraya duduk di atas pondok kecil itu.


Di saat itulah, Bima baru melihat senyuman manis di bibir Ibunya. Hati Bima sangat senang saat itu, dengan lembut dipegangnya tangan Maryati.


“Ibu, ini hari kemenangan buat kita, di hari ini kita berempat telah merdeka.”


“Iya nak, perjuangan kita nggak mudah untuk keluar dari rumah itu.”


“Iya, Bu.”


“Tapi sayang, kita sendiri belum tentu, apakah kita akan tetap menderita untuk selamanya, ataukan penderitaan itu akan berakhir sampai disini.”

__ADS_1


Ucapan Maryati membuat Bima terdiam sejenak, tubuhnya terasa merinding mengingat penderitaan yang di alami oleh Ibunya selama ini. Serasa tak kuat untuk di jalani.


“Ya sudah, sekarang kau tidurlah sayang, besok kita akan melanjutkan perjalanan kita.”


“Baik Bu,” jawab Bima seraya membaringkan tubuhnya di samping kedua adiknya.


Untuk menghalangi angin malam yang menusuk kedalam tulang, Maryati membentang kain panjangnya yang masih tersisa di sekeliling ketiga anak-anaknya.


“Apakah Ibu nggak tidur?” tanya Bima dengan suara lembut.


“Iya sayang, kamu tidurlah duluan.”


“Baik Bu.”


Di dalam gubuk yang kecil itu, mereka berempat pun tertidur dengan nyenyak, suasana malam yang begitu dingin tak membuat tidur mereka terganggu. Untung saja rembulan malam membantu mereka berempat memberi sedikit penerangan di tengah malam yang gelap.


Karena lelah, mereka pun tertidur hingga siang hari, pemilik sawah yang waktu itu hendak bekerja, mencoba melihat kedalam gubuk.


“Ya Allah, ada orang ternyata, siapa mereka ini sebenarnya?” tanya pemilik sawah heran.


Dengan pelan, pemilik sawah pun mencoba membangunkan Maryati yang masih tertidur di antara ke tiga orang anaknya.


“Maaf, Ibu ini siapa?” tanya pemilik sawah ingin tahu.


“Kebetulan, tadi malam kami nggak dapat mobil, jadi kami numpang tidur disini.”


“Ibu mau kemana?”


“Kami mau ke bukit suar.”


“Bukit suar yang terlihat itu kan?”


“Yang mana Bu?” tanya Maryati ingin tahu.


“Lihat, itu adalah bukit suar yang Ibu tuju.”


Karena senangnya, Maryati langsung berteriak untuk membangunkan Bima dari tidurnya.


“Ada apa Bu? kenapa membangunkan aku?” tanya Bima heran.


“Lihatlah nak, Bukit suar yang akan kita tuju itu ternyata sudah dekat nak.”


“Hah, benarkah Bu?”


“Iya, lihat itu nak.”


“Yang mana Bu?” tanya Bima heran.


“Itu nak, yang terletak di balik bukit itu.”


“Ooo, yang terlihat itu Bu?”


“Iya nak.”


“Syukurlah, sebentar lagi kita bisa bertemu dengan Ayah sayang,” ucap Maryati kesenangan.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2