Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 118 Keanehan yang dilakukan Maryati


__ADS_3

“Namanya saja udah tua sayang, jadi pasti ada-ada saja yang bikin kita itu terkejut di buatnya.”


“Tapi ini bukan sekali Bang, malah kejadian itu terjadi selama tiga hari ini.”


“Yang sabar Nisa, suatu saat nanti kita akan melihat sendiri apa yang selama ini kita anggap aneh.”


Masih dalam keraguan yang mendalam, ke esokan harinya setelah Adit pulang kerja, Nisa menyuruh suaminya pergi ke pasar untuk berbelanja.


Saat Adit belum kembali, seorang pedagang kacang rebus melintas di depan rumah Nisa, suara pedangang asongan itu membuat Maryati berkeinginan untuk membelinya.


“Jualan apa itu Nisa?” tanya Maryati dari dalam kamarnya.


“Jualan kacang rebus Bu, Ibu mau?”


“Iya, nak, Ibu kepingin sekali makan kacang rebus.”


Karena Ibunya merasa kepingin makan kacang rebus, lalu Nisa memanggil pedagang kacang tersebut. Setelah pria tua itu berhenti di depan rumah, lalu Nisa membelinya sebanyak dua bungkus, namun saat itu Maryati minta di tambah satu bungkus lagi.


“Apakah Ibu sanggup menghabiskan semuanya nanti?” tanya Nisa ingin tahu.


“Sanggup Nisa.”


“Baiklah, kalau begitu tambah satu bungkus lagi Pak.”


“Baik nak Nisa,” jawab penjual kacang seraya menyodorkan satu bungkus kacang berukuran sedang.


Setelah mendapatkan tiga bungkus kacang, kemudian Maryati membawanya ke dapur dan memakan semua kacang itu sendirian dengan tenang dan santai.


“Gimana Bu, apakah rebus kacangnya enak?”


“Udah habis pun.”


“Apa! ketiga bungkus kacang itu udah habis Ibu makan?”


“Iya nak, apakah kalian mau?”


“Nggak,” jawab Nisa yang masih kebingungan.


Setelah ke tiga bungkus kacang itu habis di makan Maryati, tak berapa lama kemudian Adit pun pulang dari pasar, karena saat itu Ibu mertuanya sedang berada di rumah, lalu Adit membeli begitu banyak makanan untuk mereka semua.


Maryati sangat senang sekali saat itu, karena selain beberapa bungkus sate, Adit juga membeli buah-buahan yang banyak.


“O walah, Ibu udah kenyang, makanan datang,” ujar Nisa pada Ibunya.


“Kata siapa Ibu kenyang Nisa?”


“Itu tadi, Ibu baru menghabiskan tiga bungkus kacang rebus.”


“Itu baru sanggup mengisi perut Ibu sebelah kanan Nisa, lalu bagai mana pula dengan yang sebelah kirinya, tentu masih kosong kan?”


“Ya sudah, Ibu boleh memakannya kok. Tapi ingat, Ibu nggak boleh makan berlebihan.”


“Iya nak, iya,” jawab Maryati sembari membuka bungkus sate pembelian Adit.

__ADS_1


Bukan hanya sampai disitu saja, setelah sebungkus sate habis, Maryati berpindah pula, ke buah rambutan.


“jangan di habiskan Bu!” teriak Anisa, seraya merebut rambutan itu dari tangan Ibunya.


“Ambilah, kalau begitu Ibu makan salak aja ya?”


“Tapi jangan di habiskan ya Bu?”


“Iya, kau nggak perlu cemas.”


“Bukan itu masalahnya Bu.”


Tak perduli apa kata putrinya, Maryati juga hampir menghabiskan satu kilo salak yang ada di hadapannya.”


“Ibu ini kenapa sih? aku jadi semakin takut.”


“Kenapa mesti takut Nisa?”


“Cara makan Ibu itu lho.”


“Ya udah, kalau kau marah Ibu menghabiskan salak mu, nih ambil!” ujar Maryati memberikan sisa salak yang dipegangnya pada Nisa.


Tiga buah salak dan dua buah rambutan yang di sisakan Maryati di pegang erat oleh Anisa, saat itu perasaan Nisa sudah sedikit berubah.


“Adit, Ibu boleh nggak, makan duku?”


“Boleh, Bu. Makanlah,” jawab Adit dari ruang tamu.


“Ada apa lagi Nisa? kamu takut melihat Ibu makan?”


Nisa tak menjawab, hanya kepalanya saja yang di anggukkannya saat itu, Anisa benar-benar khawatir sekali melihat sikap Ibunya saat itu.


Karena telah mendapat izin dari Adit, Maryati pun mulai memakan duku, yang ada di hadapannya, Nisa hanya bisa melihat Ibunya memakan semua duku pembelian suaminya.


Bukannya Nisa iri dan cemas karena semua makanan itu habis di makan Ibunya, tapi cara Ibunya makan itulah yang membuat Nisa ketakutan, karena sebelumnya, Ibunya tak tahan dengan makanan yang rasanya asam.


Setelah semua makanan itu habis, Maryati merasa sakit perut, dia pun pergi ke kamar mandi untuk BAB, sudah tiga kali Maryati bolak balik ke kamar mandi hal itu membuat Nisa merasa heran.


“Ibu kenapa ke kamar mandi? Ibu sakit perut ya?”


“Iya nak, Ibu mengalami diare.”


“Kan, tadi udah Nisa bilangin, kalau Ibu nggak boleh terlalu banyak makan, tapi Ibu nggak percaya.”


“Kau punya obat diare nggak, nak?”


“Ada, nih. Ibu makanlah.”


Mesti obat itu telah di makan Maryati, namun diarenya tak kunjung berhenti, lalu Nisa memanggil tukang pijat, siapa tahu Ibunya masuk angin, saat di pijat, Buk Wiji bilang, kalau tulang pinggul Ibunya mengalami keretakan.


“Ibu serius, kalau tulang pinggul Ibu ku mengalami keretakan?”


“Iya nak.”

__ADS_1


“Tapi, Ibu nggak bilang apa-apa selama ini padaku?”


“Ibu terjatuh nak, ketika Tedi membawa Ibu kesini.”


“Tapi, kenapa Ibu nggak ngomong?


Karena Ibu kelihatan sehat, makanya aku nggak merasa curiga sedikitpun pada Ibu.”


“Ibu nggak mau membuatmu khawatir nak.”


“Apakah retaknya parah Bu?”


“Nggak, tapi lama kelamaan akan membusuk.”


Mendengar ucapan Bu Wiji, Nisa menjadi semakin cemas, apa lagi Ibunya nggak pernah berhenti diare, hal itu pasti membuat semua Kakaknya menjadi marah.


“Gimana ini Bang? kalau sampai terjadi sesuatu pada Ibu, pasti aku yang di salahkan oleh yang lain.”


“Sebaiknya kita tanyakan dulu pada Ibu.”


“Baiklah,” jawab Nisa pelan.


Ketika Nisa datang menghampiri Ibunya, Maryati telah membaca semua apa yang ada di dalam pikiran putrinya itu, Maryati tahu, pasti Nisa akan menjadi sasaran kemarahan mereka jika terjadi sesuatu pada Ibunya.


“Saat ini Ibu udah berhenti diare, Ibu ingin pulang nak, apakah suami mu mau mengantarkan Ibu pulang?”


“Maafkan aku Bu, bukannya aku nggak mau merawat Ibu di sini, tapi kalau terjadi sesuatu pada Ibu, pasti mereka semua menyalahkan aku.”


“Ibu mengerti itu nak, rencana Ibu akan kembali pulang setelah kau selesai melahirkan, tapi bayi mu sepertinya nggak ingin melihat wajah neneknya.”


“Apa maksud Ibu?”


“Nggak apa-apa nak.”


“Ibu tenang aja, nanti kalau bayi ku udah lahir, aku akan kabarin Ibu kok.”


“Iya sayang, hati-hatilah, jaga dirimu dan keluarga mu baik-baik.”


Lalu Nisa menyalami Ibunya serta memeluk tubuh Ibunya dengan erat sekali, begitu juga dengan Maryati, seperti hendak berpisah lama, dia juga memeluk tubuh Nisa dan mengelus perut putrinya yang tampak membesar.


“Sekarang aku mau tanya, Ibu mau di antar kemana?” tanya adit ingin tahu.


“Hantarkan saja Ibu pulang nak.”


“Menurut ku, mampirlah Ibu ke tempat kak Tia dulu, nanti Kak Tia, jadi salah paham dan menuduh kami telah melarang Ibu kesana.”


“Tapi Ibu nggak mau kesana Dit.”


“Kenapa Ibu nggak mau kesana, Bu?”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2