Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 79 Kena tipu


__ADS_3

Dengan pelan, Maryati dan Tia langsung berjalan menuju pintu, dari dalam mereka berdua terus saja mendengar suara pintu yang di ketuk, pandangan mata keduanya saling beradu karena ragu untuk membukanya.


Seraya menarik nafas panjang, Maryati membuka kunci pintu itu dengan pelan, setelah pintu di buka, betapa terkejutnya mereka berdua, ternyata yang datang saat itu adalah Arman.


“Ya Allah, Bang? ada apa ini?” tanya Tia ingin tahu.


“Siiit…! diamlah, nanti akan kuceritakan semuanya pada mu, sekarang biarkan aku masuk dulu,” ujar Arman dengan wajah yang pucat.


“Ada apa? katakan sekarang Bang, aku nggak mau menanggung hutang sebanyak ini.”


“Aku memang meracun, tapi bukan kolam ikan milik mereka yang aku racun.”


“Bohong, kalau bukan kolam ikan milik mereka yang Abang racun, lalu kenapa semua ikan mereka mati sebanyak tiga kolam?”


“Setelah aku menebarkan racun, malamnya turun hujan lebat, maka air yang beracun itu mengalir kedalam kolam mereka. Itu sebabnya ikan-ikan itu pada mati semua.”


“Saat ini semuanya telah terjadi, tinggal kita membayar hutang yang telah mereka tentukan.”


“Berapa banyak kita mesti mengganti rugi Bu?” tanya Arman ingin tahu.


“Sepuluh juta rupiah.”


“Sepuluh juta? uang sebanyak itu, kita mesti dapatkan dari mana Bu?”


“Ibu nggak tahu, tapi Ibu janji pada mereka, Ibu akan melaporkan kejadian ini pada keluarga mu di kampung. Siapa tahu, mereka semua bisa membantu kita dalam menyelesaikan masalah ini.”


“Baiklah, besok pagi, akan aku antarkan Ibu ke kampung ku, kita akan menemui keluarga ku di sana.”


Mendengar jawaban dari Arman, hati Maryati sedikit lega, karena dia tak lagi menanggung beban seberat itu lagi.


Sesuai dengan kesepakatan mereka, keesokan harinya, Maryati bersama Arman langsung berangkat menuju kampung halamannya.


Untung saja saat itu ada Arman yang menemani Maryati menuju kampung halamannya, padahal Maryati sendiri tak tahu di mana kampung halaman Arman yang sesungguhnya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, tibalah mereka berdua di sebuah terminal, karena untuk menuju kampung Arman mereka harus menaiki angkot, sebab jalan menuju kampungnya tak bisa di lewati oleh mobil besar.


Sembari menunggu keberangkatan angkot, Maryati melihat Arman sedikit gelisah, matanya tampak liar melihat di sekelilingnya, Maryati yang polos tak mengetahui rencana busuk yang di buat Arman.


Ketika semua penumpang sudah mulai naik, dan angkotpun padat dengan penumpangnya, lalu tiba-tiba saja Arman minta izin pada supir untuk buang air kecil.


Maryati yang melihat Arman turun untuk buang air kecil, diapun tak bisa mencegahnya, namun setelah sekian lama di tunggu, Arman pun tak lagi menampakkan puncak hidungnya, seluruh penumpang sudah mulai panik dan kesal.


Saat itu Maryati tak ingin bicara sepatah katapun pada mereka semua, karena takut, mereka akan memarahinya.


“Baiklah, kalau anak itu nggak juga kembali, kita lanjutkan saja perjalanan kita,” ujar supir angkot tersebut.


“Tunggu Pak.”

__ADS_1


“Ada apa Bu?” tanya supir angkot itu.


“Emangnya pria yang keluar tadi itu, dia mau kemana?”


“Katanya pergi buang air, tapi setelah kita tunggu, dia nggak juga kembali.”


“Dia menantu ku yang sedang bermasalah, kalau begitu, dia pasti melarikan diri,” ujar Maryati kesal.


“Ooo, dia itu menantu Ibu?”


“Kalau begitu, biar saya turun disini saja, saya harus mencarinya sampai ketemu.”


“Baiklah, ini uang ongkos kalian berdua, biar saya kembalikan,” jawab sopir itu seraya mengembalikan semua ongkos mobil yang sudah di bayar.


“Kurang ajar kau Arman, kau ternyata bukan menipu orang saja, tapi kau juga telah menipu Ibu mu,” gumam Maryati kesal.


Dengan gigih Maryati terus mencari keberadaan Arman di terminal yang begitu luas, namun setelah sekian lama tak bertemu, Maryati menangis sedih di depan sebuah warung makanan.


Pemilik warung merasa heran, dia mengira Maryati seorang pengemis, lalu dia pun menawarkan makanan untuk Maryati.


“Ibu bukan pengemis nak,” ujar Maryati dengan suara pelan.


“Lalu kenapa Ibu menangis?”


“Ibu di tipu.”


“Menantu Ibu sendiri, dia berjanji akan mempertemukan Ibu dengan kedua orang tuanya, tapi saat angkot kami hendak berangkat, dia langsung keluar Ibu udah mencarinya kemana-mana, tapi dia nggak kelihatan.”


“Menantu Ibu itu, pasti sedang bersembunyi.”


“Tapi bersembunyi di mana? Ibu bahkan sudah memeriksa dan mencarinya sedari tadi.”


“Dia itu laki-laki Bu, dia itu punya seribu akal untuk memperdaya kaum wanita. Begini saja, Ibu tentunya sudah lapar, makanlah dulu, nanti sehabis itu, Ibu bisa mencari menantu Ibu itu lagi nantinya.”


Ucapan pemilik warung itu ada juga benarnya, setelah Maryati memakan nasi yang ada dihadapannya sampai habis, lalu dia pun membayar makanan itu.


“Nggak usah di bayar Bu, aku ikhlas kok.”


“Terimakasih nak.”


“Sama-sama.”


Maryati pun pergi meninggalkan warung wanita itu, namun sebelum Maryati jauh melangkah, perempuan itu kembali menawarkan sarannya.


“Ibu, ku rasa nggak akan ada gunanya, Ibu terus mencari keberadaannya. Mungkin saja dia sudah lari jauh dari terminal ini, jadi sebaiknya Ibu pulang saja ke rumah. Aku takut Ibu akan kesasar nantinya.”


“Lalu bagai mana dengan hutang yang telah dia buat?”

__ADS_1


“Emangnya menantu Ibu punya hutang berapa?”


“Sepuluh juta.”


“Ya Allah, jahat sekali dia, pada orang tua.”


“Ibu nggak punya uang untuk membayarnya nak.”


“Tapi Bu, percuma saja Ibu mencarinya, saat ini, mungkin dia sudah semakin jauh dari sini.”


Maryati begitu kecewa sekali dengan perbuatan Arman yang telah menipu dirinya, dengan rasa sakit dan marah, Maryati pun kembali pulang ke rumahnya.


Di sepenjang jalan Maryati terus saja menangis tiada henti. Semua penumpang yang berada di kanan dan kiri Maryati, merasa heran, melihat Maryati terus saja menangis.


“Ibu kenapa nangis?” tanya seorang wanita pada nya.


“Ibu kena tipu nak.”


“Kena tipu? siapa yang telah menipu Ibu?”


“Menantu Ibu sendiri.”


“Apa yang telah dia tipu?”


“Dia lari meninggalkan Ibu, ketika di terminal tadi. Padahal Ibu nggak tahu jalan pulang,” jawab Maryati berbohong.


Karena dia tak ingin semua orang tahu tentang keburukan Arman.


“Lalu siapa yang telah menolong Ibu mencari mobil tadi?”


“Orang warung yang ada di sekitar terminal tadi.”


“Ooo, begitu.”


Sesampainya Maryati di rumahnya, dia masih saja menangis sedih, Tomi dan Tia yang selalu melihat kepulangan mereka berdua, mendapatkan Maryati pulang sendiri dalam keadaan menangis.


“Kenapa Ibu pulang sendiri? mana Bang Arman?” tanya Tia tak sabaran.


“Suami mu itu, sudah kabur, dia meninggalkan Ibu di terminal sendirian.”


“Ya Allah, Bang Arman, kenapa kau tega berbuat seperti itu pada aku dan Ibu ku.”


Bukan hanya Maryati yang tampak sedih dan menangis, Tia juga merasakan hal yang sama, rasa sakit itu seperti telah membebani pundaknya saat itu.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2