
Kerena perusahaan begitu mengharapkan tenaga guru dan Adit, ke esokan harinya mereka berdua langsung berangkat menuju perusahaan tempat Tia dan Tedi bekerja.
Setibanya mereka di tepat tujuan, ternyata rumah yang di janjikan perusahaan telah di tempati orang lain, awalnya pimpinan perusahaan mau mencarikan rumah yang lain, namun karena Tedi langsung menawarkan rumahnya untuk Nisa, akhirnya perusahaan mengizinkannya.
Sebenarnya Anisa tak mau bergabung dengan Tedi karena sifat istrinya yang jahat, tapi karena mereka sudah terlanjur datang, akhirnya Nisa bersedia bergabung satu rumah dengan Tedi.
Dua minggu menepati rumah baru mereka, Maryati jatuh sakit, Nisa bersama suaminya lansung datang menolong, saat itu Maryati sudah tak sadarkan diri karena terlalu banyak kehilangan cairan tubuh karena muntah dan BAB yang tak pernah berhenti.
Sepenjang perjalanan menuju rumah sakit, Nisa terus saja menangis tiada henti. Adit yang melihat kondisi istrinya semakin lemah, dia berusaha untuk memberi semangat dan kesabaran.
Untung saja, rumah sakit yang dia tuju saat itu sangat sigap, sehingga Maryati dengan cepat mendapatkan pertolongan dari mereka.
Selama empat hari di rawat di rumah sakit, Nisa selalu setia merawat dan menjaga Ibunya dengan baik, dia tak pernah merasa jijik sedikitpun mengurus Ibunya yang sedang mengalami diare akut.
Sedangkan semua Kakaknya tak seorang pun yang datang untuk menemaninya. Anisa begitu sedih, karena tak ada saudara yang datang untuk menjenguk Ibunya yang sedang di rawat.
Lima hari setelah Maryati di rawat karena sakit, barulah Tia dan Leni datang membesuk. Sayangnya mereka berdua tak mau masuk kedalam ruangan Maryati.
“Kenapa Kakak nggak mau masuk? bukankah Ibu sudah lama di rawat?”
“Kami takut, nanti kami ketularan penyakit Ibu,” jawab Tia yang selalu duduk di sudut ruang tunggu.
“Apakah Kakak serius bicara seperti itu?”
“Iya, bukankah kau tahu sendiri kalau penyakit Ibu itu menular.”
“Tapi dia itu Ibu kita Kak, penyakit apa pun yang dia derita, kita nggak boleh menjauhinya.”
“Alah…! jangan sok perduli kau sama Ibu, Nisa.”
“Kalau aku nggak sok peduli, apakah Kakak mau mengurus Ibu?”
Mendengar suara ribut-ribut di luar, Maryati langsung memanggil Nisa yang saat itu sedang berada di luar ruangan rawat Ibunya.
“Siapa yang di luar nak?”
“Kak Tia dan Kak Leni, Bu.”
“Mana dia?”
“Ada di luar.”
“Kenapa dia nggak mau masuk?”
“Nggak tahu, tadi aku udah menyuruhnya, namun Kakak nggak mau masuk kedalam.”
“Apakah karena penyakit Ibu menular, makanya dia nggak mau masuk kedalam.”
__ADS_1
“Barang kali seperti itu.”
Melihat tingkah laku anak-anaknya yang kurang menyenangkan, hati Maryati merasa tersakiti, di atas ranjang rumah sakit, Maryati menangis sedih.
“Ibu nggak usah perdulikan mereka, selama ini Ibu tahu sendiri kan, kalau mereka berdua selalu menyakiti Ibu.”
Nisa yang melihat Ibunya menangis sedih, dia pun langsung keluar untuk menemui kedua Kakaknya yang saat itu sedang berada di ruang tunggu.
“Gimana? apakah Kakak mau melihat Ibu menangis terus karena sedih?”
“Kau beri tahu Ibu, kalau kami berdua berada di sini?”
“Iya, karena Ibu tahu Kakak datang untuk membesuknya.”
“Baiklah, kami akan masuk kedalam untuk melihat Ibu.”
Dengan berat hati keduanya langsung menghampiri ruang rawat Maryati. Akan tetapi, setibanya mereka di depan pintu, mereka berdua hanya sekedar mengintip saja ke dalam, kemudian pergi meninggalkan Ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Sementara Anisa tak dapat berbuat banyak, mereka berdua memang tak ingin masuk kedalam karena takut tertular penyakit Ibunya.
“Nisa.”
“Iya Bu.”
“Kesini lah nak.”
“Jika kau sudah tua nanti dan menderita sakit seperti Ibu, lalu anak-anak mu tak mau menghampiri mu karena takut ketularan penyakit yang kau derita, hati mu pasti hancur.”
“Iya, aku tahu itu Bu, tapi Ibu masih ada aku yang akan merawat Ibu sampai sembuh. Jadi Ibu nggak perlu berkecil hati dan kecewa.”
“Iya nak,” jawab Maryati yang terus menangis, karena tersakiti.
Enam hari di rawat, Maryati pun di nyatakan sembuh dari penyakit yang di deritanya, untuk biaya selama berada di rumah sakit, Tomi terpaksa menjual satu ekor sapi miliknya.
Anisa yang selalu setia merawat Ibunya, akhirnya mendapat izin dari Maryati untuk kembali kerumahnya.
“Ibu yakin kalau Ibu sudah benar-benar sembuh?"
“Ibu yakin sekali nak, lagian kan ada Leni dan Ria yang akan merawat Ibu. Nanti kalau penyakit Ibu kambuh lagi, Ibu akan menyuruh mereka yang merawat Ibu.”
“Baiklah, kalau begitu kata Ibu, aku akan pulang nanti.”
Sesuai perintah Maryati, Nisa pun kembali pulang kerumahnya, saat itu usia kandungannya sudah masuk bulan ke enam.
“Gimana kabarnya Ibu Nisa?” tanya Tedi pada adiknya saat Nisa telah kembali pulang.
“Ibu udah kembali pulang kok, Bang.”
__ADS_1
“Apakah Kak Tia dan Leni datang membesuk Ibu?”
“Nggak seorang pun yang datang selain aku, Bang.”
“Bukankah kemarin, Kak Tia mau kesana, katanya akan membesuk Ibu.”
“Kak Tia dan Kak Leni, memang kesana, tapi dia hanya mengintip saja di luar pintu. Abang tahu, apa artinya itu?”
“Nggak.”
“Itu artinya, kehadiran mereka hanya membuat Ibu terluka, lebih baik mereka berdua nggak datang seperti Abang, jadi Ibu sudah tahu siapa anak-anaknya yang tak mau membesuknya di rumah sakit.”
“Apa maksud mu?”
“Kenapa Abang nggak datang, kalau seandainya terjadi sesuatu pada Ibu, apakah Abang nggak menyesal nanti?”
“Kau tahu sendiri kan, kalau Kak Ana nggak baikan dengan Ibu.”
“Yang nggak baikan dengan Ibu itu Kak Ana, lalu kenapa Abang yang mesti nggak datang?”
“Karena waktu itu, Abang juga ikut memarahi Ibu, karena Ibu telah menuduh Ana mencuri pakaiannya.”
“Waktu itu, Ibu memang kehilangan pakaiannya, karena aku sendiri yang memasuki pakaian Ibu itu kedalam tasnya. Saat dia pulang, pakaian Ibu sudah nggak ada di dalam tasnya.”
“Tapi Kak Ana, nggak mungkin mencurinya kan?”
“Kata Ibu, dia nggak menuduh Kak Ana mencurinya, Ibu hanya bertanya pada Kak Ana, apakah dia melihat pakaian Ibu atau nggak.”
“Kenapa baru sekarang kau bicara?”
“Kenapa hari itu Abang nggak bertanya dulu baik-baik kebenaran ucapan Kak Ana, apakah dia jujur atau sedang berbohong.”
Saat mereka berdua bicara, secara tak sengaja, Ana ternyata mendengarkan apa yang di katakan Nisa pada Tedi di ruang tengah rumahnya.
Merasa tak sabar, Ana langsung bergegas keluar dari dapur untuk menghampiri mereka berdua yang sedang bicara di ruang tengah.
“Apa maksud kau bicara seperti itu Nisa?”
“Aku nggak bermaksud apa-apa, bukankah aku bicara kebenarannya pada Bang Tedi, apakah saat itu Kakak berbohong atau bicara jujur.”
“Jadi Kau menuduh aku berbohong?”
“Kalau masalah itu, hanya Kakak sendiri yang tahu.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1