Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 41 Pertolongan untuk keluarga Maryati


__ADS_3

“Tapi kata Kak Yuni, melakukan pesugihan itu tak mengharapkan tumbal apa pun.”


“Siapa bilang tak ada tumbal, mesti Yuni itu kaya, namun dia telah kehilangan segalanya, suaminya mati di laut, putranya masuk kedalam sumur, putri satu-satunya hilang entah kemana. Kamu tahu, mereka semua telah menjadi korban Ibunya yang telah sesat.”


Maryati yang mendengar penjelasan dari pria itu, jantungnya terasa mendidih, karena Yuni yang dia sebut perempuan baik itu, ternyata telah menipunya.


“Jangan pernah lari, dari ajaran nenek moyang yang selama ini telah menjadi panutan kita, Islam tak pernah menyesatkan hambanya, percayalah pada saya. Nggak usah tergiur dengan kekayaan yang kita sendiri nggak pernah tahu dari mana datangnya.”


“Iya Pak.”


“Nah mulai hari ini, perbanyaklah ibadah ke pada Allah.”


“Emangnya Bapak ini berasal dari mana?”


“Saya dari Banten, datang kesini, hanya kerumah keluarga.”


“Ooo, begitu. Tapi Pak, ada satu hal lagi yang harus saya katakan kepada Bapak.”


“Apa itu?”


“Beberapa hari ini, saya terus saja di ikuti oleh makhluk yang pernah saya lihat, ketika kami melakukan pesugihan di gunung itu.”


“Kamu yakin kalau makhluk yang kamu lihat adalah makhluk yang ada di belakangmu, sewaktu di gunung itu?”


“Iya Pak.”


“Berarti makhluk itu sedang marah pada mu, tentu ada kesalahan yang telah kau lakukan sewaktu melakukan pesugihan itu.”


“Ya, itu benar. Pertama sekali aku melanggar perintah kuncen, untuk tidak menoleh kebelakang.”


“Emangnya kau menoleh kebelakang?”


“Iya, saya melihat makhluk mengerikan itu berada di belakang kami.”


“Lalu?”


“Yang kedua saya melihat sendiri seekor anjing besar keluar dari dalam goa, dia buang hajat di atas piring kami, lalu kami dipaksa untuk memakannya.


“Apakah kau memakannya?”


“Nggak Pak, aku menolak untuk memakannya, tapi keempat teman ku memakannya dengan lahap sekali.


Karena penolakan ku itu, mereka melempar saya ke sini.”


“Saya yakin suatu saat mereka itu pasti akan membunuh mu.”


“Oh, bagai mana ini Pak, kalau Bapak nggak keberatan tolong lah bantu saya, untuk mengusir makhluk itu dari rumah ini.”


“Kalau begitu saya terpaksa harus mengikuti mu keluar rumah pada malam hari.”


“Saya nggak keberatan kok, tapi?”


“Tapi apa?”


“Tapi kami nggak punya uang untuk membayar Bapak.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, lagian saya hanya ingin menolong kalian saja kok.”


“Terimakasih, atas kebaikan Bapak.”


“Sama-sama.”


Mulai dari malam itu, pria Banten itu mulai mengikuti Maryati dari jarak jauh, setelah beberapa malam mengikuti Maryati, ternyata makhluk itu tak pernah muncul.”


“Saya nggak melihat apapun yang mengikuti mu?”


“Mungkin dia tahu, kalau Bapak sedang mengawasi mereka.”


“Iya juga ya, kalau begitu, kau nggak usah keluar rumah dulu, biar saya saja yang memperhatikan kedatangannya.”


“Baik Pak.”


Bersama ketiga orang anaknya, malam itu, Maryati tampak tertidur dengan nyenyak sekali, tak ada lagi gangguan yang mendatangi rumahnya.


Sementara itu, di luar sana, pria tua tersebut, berusaha keras untuk melawan makhluk yang tak terlihat oleh matanya sendiri. Dua jam pria itu bertarung di alam gaib, lalu mahkluk yang mengganggu Maryati itu pergi menghilang entah kemana.


Keesokan harinya Maryati melihat pria tua itu terkapar di pintu warungnya.


Awalnya Maryati mengira kalau pria itu telah tiada, ternyata Bima masih merasakan detak nadinya yang berdenyut secara perlahan sekali.


Maryati dan Bima langsung membawa pria itu kedalam rumahnya, dengan pelan Maryati dan Bima merawat pria yang telah menolongnya itu dengan ikhlas.


“Besok saya akan kembali ke Banten,” ujar pria itu setelah tubuhnya kembali sehat dan bugar.


“Terimakasih atas bantuan yang Bapak berikan, maaf, saya nggak punya apa-apa untuk Bapak.”


“Nggak apa-apa, asalkan kalian sekeluarga sehat, maka saya pun senang.”


Ketika hendak melangkah pergi, lalu pria itu menaruh satu pundi uang di atas meja warung Maryati.


“Apa itu Pak?” tanya maryati ingin tahu.


“Pakailah uang ini, untuk biaya hidup kalian.”


“Oh, terimakasih ya Allah.”


Dengan tenang pria itupun melangkah pergi meninggalkan warung Maryati. Sementara Bima dan Ibunya hanya bisa saling bertatapan.


“Inilah akibat kalau kita salah langkah Bu.”


“Kau benar nak, tapi Ibu sungguh tak kuat menanggung beban berat ini sendirian.”


“Kalau Ibu bersabar, Allah pasti akan menolong kita semua.”


Kesusahan yang di rasakan oleh Maryati, membuat Sulastri merasa tak tenang, perempuan yang telah bergelar seorang sarjana tersebut, ternyata memiliki masa depan yang sangat cerah.


Pasalnya di usia Sulastri yang terbilang masih muda, dia bahkan telah menjadi tenaga pendidik yang sukses.


Selain gaji bulanan yang setiap bulan di terimanya sebagai PNS, Sulastri juga seorang pengacara yang handal. Namun sayang, Sulastri yang telah mapan tersebut ternyata lupa dengan adik kandungnya sendiri.


Sulastri benar-benar sibuk dengan semua urusannya, apalagi semenjak dia mempunyai anak yang kembar dan sehat, Sulastri banyak menghabiskan hari-harinya bersama mereka.

__ADS_1


Pagi itu saat Sulastri membuat sarapan pagi di dapur, dia melihat Ibu angkatnya sedang menuju ke tempatnya berdiri.


“Nenek mau kemana?” tanya Lastri ketika melihat Ibu angkatnya itu pergi ke dapur.


“Lastri, rasanya sudah begitu lama sekali kalian berdua berpisah dengan Maryati, Nenek merasa sudah saatnya kau melihat keberadaan adik mu Maryati di rumah Bibi Roro.”


“Saat ini, aku sedang sibuk Nek, nanti saja, kalau aku sudah punya banyak waktu.”


“Kalau kau terus-menerus mencari waktu yang tepat, maka kau akan menyesal nanti nak.”


“Nenek tenang saja, aku nggak bakalan lupa dengan adik ku itu.”


“Tapi apakah kau tahu, Maryati itu ada di mana?”


“Di mana lagi Nek, pasti dia berada di rumah Bi Roro.”


“Kalau begitu anggapan mu, terserah kau saja, Nenek hanya sekedar mengingatkan.”


“Iya Nek, Lastri pasti ingat kok.”


Ucapan dari Neneknya ternyata benar, lama kelamaan Lastri lupa dengan apa yang pernah di ingatkan kepadanya, Lastri sepertinya tak punya kesempatan untuk keluar dari kesibukan diri yang di milikinya.


“Nek, Lastri bisa minta tolong nggak.”


“Minta tolong apa nak?”


“Kayaknya pagi ini, Lastri keburu ke kantor, karena ada seseorang yang meminta Lastri menjadi pengacaranya.


Lastri minta tolong sama Nenek untuk memberi Yani dan Yuda makan.”


“Ooo, baiklah. Letakkan saja di situ, nanti biar Nenek yang memberinya makan.”


Tanpa merasa keberatan perempuan tua itupun langsung membantu memberi makan kedua cucunya yang masih kecil dan lincah.


Ketika sedang asik memberi makan keduanya, lalu Revan keluar dari dalam kamar. Sepertinya Revan sedikit kesiangan sehingga dia tampak begitu terburu-buru.


“Lastri mana Nek?” tanya Revan seraya memakan roti panggang yang ada di atas meja.


“Mbok duduk dulu, baru makan nak.”


“Udah telat Nek, kayaknya aku terlambat bangun.”


“Lastri udah pergi barusan, apakah dia nggak ngasih tahu ke kamu.”


“Sepertinya begitu, mungkin karena aku keenakan tidur jadi nggak nyadar.”


“Katanya dia mau menemui seseorang yang ingin minta tolong, untuk menjadi pengacaranya.”


“Ooo, begitu.”


“Kalau kau mau sarapan, di meja makan ada nasi goreng yang telah di sediakan Lastri.”


“Kayaknya aku nggak sempat Nek, nanti saja. Sekarang aku permisi dulu.”


“Heh, begitulah anak zaman sekarang, semuanya keburu-buru,” ujar perempuan tua itu.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2