Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 112 Niat buruk Dira


__ADS_3

Di saat Bima benar-benar telah terpuruk dengan penyakitnya, Maryati tak pernah berhenti berdoa dan bermohon pada Allah, agar di berikan kesembuhan pada putra sulungnya itu.


Ketika suaminya tertidur dengan lelap, Maryati terbangun dan dia langsung melaksanakan sholat malam, Maryati dengan khusuk berdo'a dan bermunajat pada Allah, agar dosa Bima dapat di ampuni.


Maryati berdoa dan meminta pada Allah dengan linangan air mata. Dia tak henti-hentinya bermohon dan berharap agar Allah mau menyembuhkan penyakit putranya itu.


Tomi yang melihat istrinya selalu berdoa dan meminta, dia pun merasa sedih sekali, karena Tomi takut Maryati bisa sakit karena terus saja menangis.


“Sudahlah Yati, ikhlaskan saja apa yang telah terjadi, itu ganjaran yang di berikan Allah kepada seorang anak yang telah mendzolimi kedua orang tuanya.”


“Nggak Bang, aku nggak akan berhenti meminta dan bermohon pada Allah, agar Bima bisa sembuh dari penyakit yang di deritanya.”


Karena Maryati begitu yakin dengan apa yang dia lakukan, makanya Tomi tak bisa menahannya sama sekali. Benar saja, satu bulan penuh Maryati berdoa dan bermohon pada Allah, akhirnya do’a seorang Ibu di ijabah oleh Allah.


Orang yang tak yakin bisa menyembuhkan Bima, akhirnya dia bisa berhasil dengan obat yang diberikannya.


Pengobatan Cina yang di lakukan Aseng selama satu bulan akhirnya membuahkan hasil, tulang-tulang Bima yang telah remuk dan terpisah dari ruas akhirnya bisa menyatu kembali.”


“Terimakasih Pak, berkat pengobatan yang Bapak lakukan, akhirnya suami ku bisa sembuh total dan bisa berjalan kembali seperti semula.”


“Iya, awalnya saya juga nggak yakin dengan cara pengobatan saya ini, saya yakin pasti karena obat yang telah saya racik sendiri, itu yang menyembuhkan suami mu.”


“Iya Pak, saya begitu yakin sekali dengan pengobatan yang Bapak lakukan pada suami saya, kalau nggak ada Bapak suami saya pasti sudah lumpuh total.”


Rasa senang juga di rasakan oleh Bima, seluruh tulangnya yang remuk akhirnya bisa Bersatu karena pengobatan pria Cina itu.


Karena senangnya, Bima bahkan mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk pria itu. Sehingga Bima sampai lupa dengan Ibu yang telah berdo’a untuknya siang dan malam.


Bima tak mengetahui sama sekali, kalau do' a dari Ibunya lah, yang telah menyembuhkan penyakit yang di deritanya.


“Gimana Bang, apakah saat ini Abang masih merasakan sakit?” tanya Dira ingin tahu.


“Nggak, seperti nggak terjadi apa-apa saat ini, seluruh tulang ku telah kembali seperti semula.”


“Aseng itu memang hebat ternyata, dia sanggup mengembalikan semua tulang yang sudah remuk dengan menggunakan terapi akupuntur yang dia miliki,” lanjut Dira kemudian.


“Kok bisa ya, tulang yang telah terlepas, bisa kembali di satukan ke tempat semula tanpa operasi?”


“Ya bisa lah Bang, namanya saja dia itu ahli penyakit dalam.”


“Tapi kayaknya ini semua mu’jizat dari Allah deh.”


“Kok Abang bicara seperti itu?”


“Sehebat-hebatnya manusia, aku nggak yakin dia bisa menyatukan tulang yang telah terpisah dari asalnya ke tempatnya semula, tanpa harus menjalani operasi.”

__ADS_1


“Buktinya Abang udah sembuh kan?”


“Pasti ini semua berkat do’a seseorang.”


“Do’a siapa maksud mu? do’a Ibu gitu.”


“Bisa jadi.”


“Heh Bang, udah jelas yang membuat Abang jadi begini itu Ibu, masih saja Abang membelanya mati-matian.”


“Aku nggak membelanya, aku hanya yakin kalau semua ini berkat do’a seorang Ibu, untuk anaknya.”


“Haah, lama-lama aku bisa sinting ya, kalau bicara dengan Abang!” teriak Dira dengan kasar.


Karena tak terima dengan pendapat suaminya, Dira langsung saja pergi meninggalkan Bima yang tampak termenung sendiri.


Seketika itu juga Bima langsung teringat dengan Ibunya, orang yang telah bersusah payah menyelamatkannya dari segala macam bahaya.


Bima juga teringat, ketika mereka masih tinggal di Jakarta, Maryati begitu takut saat Bima bekerja membantu mencari nafkah untuk Ibunya. Begitu juga saat mereka tinggal di Padang, ketika semua keluarga Ayahnya begitu membenci Ibunya yang bodoh.


“Oh Ibu, maafkan aku Bu. Aku ini anak yang tak tahu balas budi. Aku janji, setelah aku berhasil mengumpulkan uang, aku akan pulang ke rumah, tinggal bersama Ibu dan Ayah,” gumam Bima, dengan linangan air mata.


Saat Bima berbicara pada dirinya sendiri, ternyata Dira mendengarnya dengan jelas apa yang di ucapkan Bima itu.


Merasa tak senang dengan apa yang di dengarnya dari Bima, Dira mencoba mencari akal untuk dapat menaklukkan suaminya agar dia tak lagi ingat dengan kedua orang tuanya.


“Hmm…! sekarang aku telah mendapat caranya,” gumam Dira pelan.


Yakin dengan apa yang telah dirancangnya, keesokan harinya Dira pergi meninggalkan rumah ketika Bima telah berangkat kerja dan ketiga anaknya telah pergi ke sekolah.


“Hei, kamu mau kemana Dira?” tanya Weni yang kebetulan melihat Dira hendak meninggalkan rumahnya.


“Mau tahu aja urusan orang lain!” jawab Dira tanpa memberitahu urusannya pada Weni.


“Huh, sombong sekali kau Dira," gerutu Weni pelan.


Dengan menaiki angkot, Dira ternyata pergi kerumah seorang dukun yang sudah lama dia kenal.


“Heh Dira, sepertinya kita sudah lama nggak ketemu.”


“Iya Bang, kebetulan saat ini aku lagi sibuk.”


“Apakah kalian sekeluarga sehat?”


“Alhamdulillah, kami sekeluarga sehat Bang.”

__ADS_1


“Syukurlah kalau begitu.”


“O iya Bang, aku punya niatan nih.”


“Punya niatan apa Dira?”


“Jadi, begini Bang, sekitar satu bulan yang lalu, suamiku itu mengalami lumpuh secara permanen, kata semua dukun, Suamiku itu, menerima karma karena dia telah mendzolimi ke dua orang tuanya.”


“Benarkah?”


“Iya, Bang. Tapi saat dia telah sembuh dari sakitnya, dia malah berniat untuk pergi dari rumah dan tinggal bersama ke dua orang tuanya di kampung. Tentu aku merasa keberatan dong, nggak mungkin aku harus mengajak semua anak-anak pindah ke kampung.”


“Tentu.”


“Jadi aku minta pada Abang, agar aku di beri sedikit penguat, agar suami ku tak bisa melangkah keluar rumah, abang mengerti maksudnya kan?”


“Kalau begitu, kau berniat, agar suami mu tak jadi pulang kampung, begitu?”


“Iya Bang, setiap dia hendak berniat pulang, maka hitamkan semua jalan. Serta buat suami ku, hanya mencintai aku seorang.”


“Oh, itu mah, gampang Dira. Abang akan lakukan apapun yang kau minta.”


“Makasih Bang,” jawab Dira senang.


Lalu tanpa berfikir panjang, pria itu langsung meramu obat yang di minta Dira, lalu pria itu membisikkan sesuatu ke telinga Dira, tampak Dira tersenyum senang sekali.”


“Hanya itu syaratnya kan, Bang?”


“Iya, usahakan sedapat mungkin kau melakukannya di malam jum’at.”


“Baik Bang.”


“Nanti setelah kau dapat, masukkan ke dalam sebuah botol dan teteskan kedalam minuman suami mu setiap pagi sebanyak tiga tetes.”


“Baik Bang terima kasih banyak.”


“Jangan lupa ya! dimalam jum’at kliwon.”


“Berapa bayarannya Bang?”


“Terserah kamu aja, berapa kau sanggup membayar Abang.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2