
“Assalamua’alaikum,” sapa semua warga yang datang.
“Wa’alaikum salam,” ada apa ya, kok pagi-pagi sekali udah pada datang?” tanya Leli heran.
“Heh Leli, apakah kau nggak tahu, kalau cucu mu yang baru lahir itu telah meninggal.”
“Hah, yang benar kamu! jangan suka memfitnah.”
“Memfitnah! Memfitnah siapa? kau lihat saja sendiri, apa benar ucapan ku ini, atau aku mengada-ada.”
“Kurang ajar kau Yati, sudah meninggal pun anak mu, kau masih saja ingin mempermalukan aku,” ujar Leli seraya bergegas menghampiri Maryati dan anak-anaknya.
“Nenek udah puaskan sekarang! lihat adik ku udah meninggal, semua ini karena Nenek terlalu kejam pada kami, Nenek bukan orang tua yang baik, Nenek bukan seorang Ibu yang baik, Nenek jahat! Nenek jahat!” teriak Bima dengan suara lantang, sehingga suaranya bergema di seluruh sudut ruangan itu.
Ucapan Bima bagaikan suara petir yang menggelegar di telinga Leli, saat itu Leli baru sadar, kalau dia bukanlah seorang Ibu yang baik.”
Dengan pelan, lalu Leli menghampiri cucunya yang sudah tiada, perlahan di bukanya kain kotor dan berbau busuk itu dari wajah cucunya.
Dengan penuh perasaan, Leli pun memegang wajah cucunya itu, setelah yakin dia kalau cucunya meninggal dunia, Leli pun bergegas masuk kedalam kamar untuk mengambil sebuah kasur kecil dan membentangkannya di ruang tengah.
Ketika para pelayat masuk dan duduk di dekat Maryati, bau busuk dan amis darah, tercium begitu menyengat hidung mereka. Sebagian dari mereka ada yang tak tahan dan mereka berlarian keluar, namun sebagian lagi mencoba untuk tetap bertahan.
Bisik dari mulut para pelayat pun terdengar sangat menyakitkan hati Leli, mereka semua terdengar menghina dan menyalahkan Leli yang begitu kejam dan jahat pada menantu dan cucunya sendiri.
“Sini anak mu itu Yati, biar Ibu letakkan di atas kasur ini,” ujar Leli seraya mencoba mengambil bayi Maryati dari atas tikar yang kotor.
Ketika tangan Leli hendak menyentuh bayi mungil yang malang itu, Maryati langsung menepis tangan itu dan mendorong tubuh Leli kebelakang.
Semua orang merasa kaget dengan kejadian itu, lalu diantara mereka berusaha untuk membujuk Maryati agar bersedia membaringkan tubuh bayinya di atas kasur yang telah beralaskan seprai baru.
Mesti bagai manapun cara membujuk dan merayu Maryati namun dia tetap pada pendiriannya.
“Kenapa dengan Ibu mu Bima? kenapa Ibu mu nggak mengizinkan adik mu di letakkan di atas kasur yang bersih itu?”
“Ibu nggak mau bayinya di letakkan di atas kasur itu.”
“Kenapa nak?”
“Kenapa mesti meninggal dunia dulu, kami baru di hargai, kalian lihat sendiri bukan, selama empat tahun kami tinggal di rumah ini, selama itu pula, kami tidur hanya beralaskan tikar kotor dan lusuh, sekarang sudah meninggal, baru di beri kasur yang empuk, Nenek terlambat!”
“Maafkan Nenek Bima.”
__ADS_1
“Percuma, sudah nggak ada gunanya lagi.”
“Ya sudah. Kalau Bima nggak mau, ya nggak apa-apa,” ujar Lini dengan suara lembut.
“Ayah mu kemana Bima, kenapa dia nggak ada di sini?”
“Ayah sudah melarikan diri, dia meninggalkan kami menderita di rumah terkutuk ini.”
“Bima! tolong kau jaga ucapan mu itu!”
“Ucapan mana yang mesti aku jaga, bukankah setiap hari kalian semua hanya menyiksa kami, bahkan kalian menganggap kami lebih rendah dari binatang, apakah nggak rumah terkutuk namanya. Sebentar lagi, Allah sendiri yang akan mengutuk kalian semua.
“Cukup Bima, cukup! kau ini benar-benar sudah keterlaluan!” ujar Mayar.
“Kalian yang sudah keterlaluan, sudah jelas adik ku nggak punya kain selimut, kalian malah menjual kain selimut dan seprai kami pada orang lain, dasar keluarga maling!”
“Hentikan ucapan mu itu Bima, sekarang kita nggak perlu membahas itu lagi, yang kita pikirkan saat ini bagai mana cara kita menguburkan adik mu ini.”
“Kenapa? Nenek takut, kalau semua rahasia kalian di rumah ini terbongkar.”
“Bukan itu Bima, masalah yang lainnya, kita bahas nanti saja.”
“Nggak, selama empat tahun tinggal di dalam rumah ini, kalian tahu apa yang kami makan? setelah Ibu ku bersusah payah memasak untuk mereka, lalu mereka menghabiskan semua makanan itu tanpa menyisakan sedikit pun juga untuk kami.”
“Nggak! aku nggak akan berhenti bicara! kalian tahu, setelah mereka semua selesai makan, lalu Ibu mengumpulkan semua nasi yang tersisa di piring mereka dan Ibu menyuapkannya pada kami bertiga.”
“Hah…!” mendengar penjelasan Bima, semua orang terperangah kaget, tak mereka sangka selama ini, ternyata keluarga Leli jahat dan kejam.
“Apa benar itu Leli?” tanya semua orang pada Leli.
“Maafkan kami, kami semua mengaku bersalah, tolong dengarkan dulu penjelasan kami.”
“Nggak perlu, kami semua sudah tahu keburukan hati kalian,” ujar Pak Kades.
“Kalau begitu Ibu-ibu, mari kita selesaikan jenazah ini, setelah itu kita kembali pulang kerumah." perintah Bu Kades.
“Sini Yati, bayi mu, biar kami mandikan, ujar salah seorang Ibu pada Yati.”
Yati pun menggelengkan kepalanya, lalu dia sendiri yang berdiri, dengan tubuh yang lemah, Yati menggendong bayinya itu ke kamar mandi. Dengan bantuan Bu Lini yang selalu baik padanya, Maryati pun memandikan bayi kecilnya itu.
Isak tangis tak henti-hentinya mengalir dari mata Maryati, begitu juga dengan Lini. Yang turut melihat putra Maryati itu.
__ADS_1
“Aku udah nggak kuat Bu.”
“Yati, kau ternyata bisa bicara nak?” tanya Lini tak percaya.
Maryati tidak menjawab, dia hanya mengangguk kan kepalanya saja. Lini sangat senang saat dia tahu kalau Maryati tidak bisu.
“Kata Ibu mertuamu, kau bisu dan tuli, kau yang sabar ya nak, suatu saat nanti Allah pasti membalas semua perbuatan mereka.”
Dengan pelan Maryati pun berdiri, setelah bayinya selesai di mandikan, dengan diiringi oleh Bu Lini dari belakang perempuan itu pun berbisik pada salah seorang tetangga yang ada di sampingnya.
“Ternyata di nggak bisu.”
“Benarkah?”
“Iya, dia tadi bicara dengan ku di dalam kamar mandi.”
“Kurang ajar sekali mereka, keluarga macam apa itu yang telah menyiksa menantu dan cucunya sendiri.”
“Aku begitu kesal dan marah pada mereka semua. Kamu tahu nggak Sil, ternyata bayi Yati itu kecil sekali, hanya sebesar gelas.”
“Benarkah?”
“Iya, itupun hanya tinggal kulit pembalut tulang.”
“Kasihan sekali mereka semua ya?”
“Iya, dasar orang jahat.”
Setelah jenazah bayi Maryati di kuburkan, lalu dari kejauhan semua orang melihat kedatangan Tomi dengan membawa sebuah tas ransel.
“Kau dari mana saja Tomi, anak mu baru saja meninggal dunia.”
“Anak ku meninggal?”
“Iya, baru saja selesai kami kuburkan,” ujar seorang Ibu.
Mendengar berita itu, Tomi langsung bergegas masuk kedalam rumah, dia melihat Maryati sedang menangis histeris. Sementara itu, di sebelahnya ada Leni dan Tia yang tampak kurus tak terawat.
Tomi hanya diam saja, karena percuma saja bertanya pada Maryati, karena istrinya itu sudah lama bungkam.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*