Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 111 Penyakit aneh


__ADS_3

“Pria itu tak menjawab, sehingga Maryati semakin ketakutan, lalu tangan pria itu menyentuh mata Maryati, sehingga Maryati melihat sesuatu.


“Oh, Bima! kenapa dia?”


“Dia terlalu jauh meninggalkan kedua orang tuanya.”


Setelah dia berbicara, lalu tiba-tiba saja pria itu menghilang entah kemana, Maryati pun tersadar dari tidurnya.


“Ya Allah, Bima telah mendapat hukuman atas apa yang telah dia perbuat pada kita Bang.”


“Ada apa Maryati?” tanya Tomi heran.


“Bima, Bang.”


“Kenapa dengan Bima?”


“Dia mengalami kelumpuhan permanen.”


“Apa yang terjadi dengannya, bukan kah saat kita tinggalkan, dia masih sehat dan bugar?”


“Tapi dia begitu menderita saat ini Bang.”


“Apa yang terjadi dengannya Yati?”


“Aku nggak tahu Bang, aku akan ke Padang besok pagi, agar aku bisa memaafkannya.”


“Nggak Yati, kau nggak boleh ke Padang.”


“Kenapa?”


“Karena sangat berbahaya sekali untuk keselamatanmu.”


“Apa maksud mu?”


“JIka kau pergi ke Padang saat ini, Dira pasti menuduh mu telah berbuat sesuatu pada Bima.”


“Tapi Bima itu putra ku, Bang?”


“Aku tahu itu Yati. Tapi dalam kekalutan orang pasti berfikiran yang bukan-bukan, termasuk Dira.”


Maryati tak membantah sedikitpun apa yang di katakan Tomi, karena dia pun juga beranggapan demikian.


Apa yang ada di pikiran Tomi ternyata sama dengan yang ada di pikiran Dira. Saat itu, Dira benar-benar beranggapan, kalau Yati telah berbuat sesuatu pada suaminya.


“Kurang ajar, pasti semua ini ulah Ibu mu Bang, dia pasti telah ke dukun untuk mengirimkan ilmu guna-guna pada kita, tapi yang kena itu justru kamu.”


“Nggak Dira, aku nggak yakin, kalau semua ini Ibu yang melakukannya.”


“Kenapa kau begitu yakin, kalau bukan Ibu mu yang melakukannya?”


“Karena Ibu ku nggak mau meminta pada seorang dukun.”


“Itu dulu, Bang! sekarang belum tentu kan?”


Bima tak menjawab semua tuduhan yang katakan Dira untuk Ibunya. Karena saat itu, Bima begitu yakin kalau Ibunya tak mungkin berbuat seperti itu.

__ADS_1


“Kalau memang bukan Ibu mu, lalu siapa lagi yang berbuat seperti ini Bang?”


“Entahlah Dira, aku nggak tahu. Sakit!”


Merasa tak tenang, pagi itu juga Dira menemui seorang dukun yang terkenal di kota Padang, kepada dukun itu Dira menceritakan semua kejadian yang telah menimpa suaminya.


“Kau yakin, kalau Ibu mertuamu yang telah mengirimkan teluh untuk anaknya?”


“Aku begitu yakin sekali Pak. Sebab, ketika dia keluar dari rumah kami, perempuan itu terlihat sedang menangis sedih, dia sakit hati pada Bima yang telah menipunya.”


“Kenapa Bima melakukan semua itu pada Ibunya, Dira?”


“Kami kepepet Pak, kamu sudah nggak punya uang lagi, sementara Bang Bima nggak berani meminta uang pada Ibunya, lalu hanya dengan cara itulah agar Bang Bima bisa mendapatkan sedikit uang dari mereka.”


“Kalau begitu, berarti Bima telah menipu mereka berdua.”


“Itulah yang membuat Ibunya marah Pak.”


Saat Dira terdiam, lalu dukun itu membacakan sebuah mantra kedalam air yang ada di hadapannya, dukun itu ingin memastikan apakah benar Maryati yang melakukannya atau bukan.


Ketika dukun itu telah membaca mantra, lalu dukun itu melihat sosok hitam masuk kedalam kamar mereka berdua.


Waktu dukun itu sedang berkonsentrasi penuh, tiba-tiba mata pria itu menoleh kearah dukun itu, betapa terkejutnya sang dukun, ketika melihat mata pria itu berapi-api.


“Astaga!” teriak dukun itu ketakutan.


“Ada apa Pak? kenapa Bapak ketakutan?” tanya Dira heran.


“Ternyata dia bukan syetan kiriman Ibu mertuamu, Dira.”


“Entahlah Dira, aku nggak tau.”


“jadi gimana? apakah Bapak sanggup mengobatinya atau bagai mana?”


“Carilah dukun yang lain, yang lebih sakti dari ku dan kau bisa meminta tolong padanya.”


“Jadi Bapak nggak sanggup?”


“Ya, aku nggak sanggup.”


“Hah! dasar pengecut, baru itu saja kau sudah mengelak, dukun macam apa kau ini!” bentak Dira dengan suara keras.


“Tapi dia itu bukan syetan Dira.”


“Terserah, mau syetan, mau hantu, aku nggak perduli, yang jelas dibalaskan rasa sakit suami ku, pada mereka yang telah mengirimnya!”


Karena dukun sakti itu menolaknya, Dira terpaksa harus mencari dukun yang lain. Sudah hampir lima rumah dukun yang dia datangi saat itu, namun tak seorang pun yang berani menerima tawaran Dira.


“Bapak dukun yang ke lima yang ku datangi, gimana? apakah Bapak sama dengan yang lain? Ikut menolak tawaran saya? saya bayar mahal lho tiga kali lipat dari yang telah saya targetkan pada dukun sebelumnya.”


“Iya Neng, saya pun nggak sanggup.”


“Apa sih yang membuat kalian pada takut?”


“Apakah Neng, benar-benar ingin tahu, apa yang membuat semua dukun tak ada yang berani?”

__ADS_1


“Apa? katakan cepat!”


“Makhluk yang telah mendatangi suami Neng adalah Malaikat yang di utus Allah untuk memberi hukuman pada suami Neng.”


“Ah, masa! aku nggak percaya dengan ucapan kalian, pasti kalian sedang mengada-ada kan?”


“Kalau Neng nggak percaya, ya sudah, Neng cari saja sendiri dukun yang sanggup menerima tawaran dari Neng.”


“Wah kacau, kalau begini mah.”


“Saran saya, sebaiknya, Neng bawa saja suami Neng berobat, agar dia segera sembuh.”


“Apa menurut Bapak dia masih bisa di sembuhkan?”


“Yang paling penting kita berusaha Neng, kalau penyakit, hanya Allah yang bisa menentukannya, sembuh atau tidak.”


“Baiklah, akan ku bawa dia berobat. Apakah Bapak kenal dengan orang yang bisa mengobati orang yang seluruh tulangnya remuk?”


“Saya yakin seluruh tulang suami Neng nggak remuk, hanya perasaannya saja yang seperti itu.”


“Tapi saya merasakan sendiri Pak, ketika saya hendak mencoba untuk mengangkat tubuhnya, saya merasakan kalau semua tulangnya telah remuk dan menyatu semuanya.”


“Kalau begitu pergilah Neng, ke daerah kampung Cina, carilah di sana seorang pria yang bisa mengobati luka dalam, maka semua orang pasti akan memberi tahukannya pada Neng.”


“Apakah Bapak kenal siapa namanya?”


“Namanya Aseng.”


“Baiklah, saya akan kesana mencari orang yang bernama Aseng itu.”


“Ya silahkan.”


Tak ingin putus asa, lalu Dira mendatangi kampung cina untuk mencari orang yang bernama Aseng, memang agak sedikit susah untuk menemukan rumah Aseng, tapi Dira pun akhirnya berhasil membawa Aseng bersamanya.


Dengan melakukan pengobatan yang menggunakan jarum akupuntur, Aseng mencoba memeriksa kondisi tubuh Bima yang kata istrinya, seluruh tulang suaminya telah remuk.”


“Saya merasakan ada keganjilan dalam tubuh suami mu.”


“Keganjilan apa itu Pak?”


“Apakah suami mu pernah jatuh sebelumnya?”


“Nggak.”


“Saya merasakan seperti lilitan seekor ular besar, sehingga seluruh tulang suami mu menjadi remuk.”


“Dia nggak terkena lilitan ular Pak, bahkan sebelum dia tidur suami saya baik-baik saja kok.”


“Hampir Sembilan puluh persen, semua tulangnya remuk.”


“Gimana Pak apakah Bapak sanggup mengobati suami saya.”


“Hanya takdir yang akan menentukannya,” jawab Aseng dengan tenang.


Bersambung...

__ADS_1


*selamat membaca*


__ADS_2