
Orang yang telah menyakiti Maryati itu datang dengan tujuan mengadopsi bayi Maryati untuk di jadikan anak pancingan, karena setelah sekian lama menikah Mayar belum juga di karuniai seorang putra pun.
“Kami janji, nanti setelah anak kami lahir, maka anak kalian akan kami kembalikan.”
“Aku nggak mau, Kakak cari saja anak angkat yang lain.”
“Kemana aku mesti mencari anak angkat Yati?"
“Cari ke panti asuhan, kan banyak di kota ini panti asuhan, di sana Kakak bisa memilih anak yang mana yang kakak suka.”
“Aku nggak mau anak panti asuhan Yati, karena anak panti itu kita nggak tahu asal usul keluarganya.”
“Itu tergantung kita, bagai mana kita mendidiknya, kalau didikan kita baik, maka anak yang kita pelihara pun akan baik pula nantinya, tapi kalau kita jahat dan kejam dalam merawatnya maka anak itu pun akan kejam dan galak suatu saat nanti pada kita.”
“Apa maksud dari ucapan mu itu Yati?”
“Kalau yang merawatnya orang seperti Kakak, maka anak yang di pelihara akan jahat seperti Kakak sendiri nantinya.”
“Kurang ajar! beraninya kau meledek ku seperti itu Yati,” teriak Mayar seraya berdiri hendak menampar Maryati.
Melihat Mayar hendak menamparnya, Maryati langsung berdiri, saat itu dia berniat hendak melawan Mayar yang selalu kejam padanya.
“Apa! kau mau menampar ku! tampar saja kalau kau berani, kau kira aku takut dengan mu, agar kau tahu ya, kalau disini aku yang berkuasa, aku bisa saja mengusir mu sekarang juga.”
“Huuh…! awas kau Yati, akan ku buat hidup mu menderita,” ancam Mayar seraya bergegas keluar dari rumah Maryati.
Setelah Mayar pergi, Tomi langsung mengejarnya keluar. Maryati berusaha untuk menguping pembicaraan mereka berdua dari balik dinding rumah.
“Menghadapi Yati itu Kakak harus sabar, percayalah pada ku, kalau Kakak menginginkan salah seorang anak ku, maka Kakak harus bisa merayunya.”
“Benar begitu? ingat Tomi aku paling nggak suka di permainkan seperti ini ya.”
“Iya, Kak Mayar tenang saja, kalau Yati nggak mau memberikan salah seorang anaknya pada Kakak, maka aku nanti yang memaksanya.”
Mendengar ucapan Tomi, hati Maryati terasa begitu sakit sekali, ternyata Tomi selalu saja membela saudaranya, mesti dia tahu, kalau semua saudaranya selalu berbuat jahat pada istri dan anaknya.
“Baiklah, kau harus pegang ucapan mu!” ucap Mayar seraya berlalu meninggalkan Tomi.
Dengan senyuman yang lebar, Tomi melepas kepergian Kakaknya. Namun dari balik dinding rumah yang lapuk, tampak Maryati menangis sedih atas sikap suaminya itu, yang tak pernah membela dirinya, mesti sudah bertahun hidup dan melahirkan banyak anak untuk nya.
Ketika Tomi masuk kedalam rumah, Maryati hanya bisa memandangi suaminya dengan rasa kesal. Akan tetapi, Tomi bukannya menyadari semua kesalahannya, dia justru memarahi Maryati.
__ADS_1
“Sikap mu itu, lain kali jangan kau lakukan lagi.”
“Sikap yang mana, maksud mu Bang?”
“Lain kali kau jangan bersikap kasar pada Kakak ku.”
“Apa menurut mu aku bersikap kasar padanya, lalu bagai mana dengan sikapnya yang telah membuat putramu meninggal, apakah dia nggak salah di matamu?”
“Itu masa lalu Yati! jangan pernah kau ungkit lagi.”
“Di matamu itu memang masa lalu, tapi di mataku, hal itu baru saja terjadi. Setiap aku melihat wajah saudaramu, aku merasa hendak membunuhnya.”
“Yati, jaga ucapan mu!”
“Ucapan mu yang mesti kau jaga Bang! kau selalu saja membela saudaramu, mesti kau tahu kalau saudaramu itu telah berbuat jahat pada ku dan anak-anak mu sendiri.”
“Cukup Yati! cukup!” bentak Tomi seraya menampar meja.
Melihat kemarahan Tomi, Maryati hanya diam saja, tapi Maryati tahu, kalau dia hanya hidup sendiri di kota yang besar itu. Tak ada tempat mengadu dan tak ada tempat bergantung.
Malam itu, ketika semua anak-anaknya tertidur, Maryati menangis histeris, dia merasa sendiri hidup di dunia yang begitu luas, suami yang selama ini dia andalkan, ternyata tak bisa diharapkan sama sekali.
Anisa yang tahu, kalau dia akan di pisahkan dengan Ibunya, dia pun menolak dan menjerit histeris di depan Ayah dan Ibunya.
“Aku nggak mau ikut Bibi, aku nggak mau Ikut!”
“Hanya sebentar nak, nanti sore Bibi akan hantarkan Nisa ke Ibu lagi.”
“Nggak, kalian jahat! aku nggak mau ikut!” teriak Anisa dengan kuat.
Melihat Anisa bersikeras menolak, Mayar yang selalu kasar itu, langsung naik darah, dia pun menarik tangan Nisa secara paksa. Maryati yang melihat sikap Mayar yang seperti itu, dia pun merasa kesal, dengan cepat Maryati mendorong tubuh Mayar.
Karena tubuhnya di dorong oleh Maryati, Mayar pun terhuyung kebelakang dan tubuhnya membentur dinding. Hal itu membuat Mayar marah dan dia pun balik mendorong tubuh Maryati.
“Apa-apaan kau ini Yati, dasar perempuan bodoh!” bentak Mayar.
Bima yang saat itu mendengar penghinaan terhadap Ibunya, langsung saja bergegas untuk membalas ucapan Mayar.
“Agar Bibi tahu, walau Ibuku bodoh, tapi hatinya nggak sejahat kalian semua.”
“Diam kau Bima!”
__ADS_1
“Bibi yang diam! kalau Bibi ingin anak, jangan adikku yang di ambil, kan masih banyak anak panti asuhan yang bisa di adopsi.”
“Kau!”
“Apa! Bibi mau menampar, tampar saja kalau Bibi bisa.”
Jawaban dari Bima membuat Mayar geram, tangan yang semula telah di buka untuk menampar Bima, kembali di katup kan.
“Bima, kau nggak boleh seperti itu pada Bibi mu!” bentak Tomi dengan suara keras.
“Ayah harus tegas dong! jangan biarkan orang lain menghina Ibu.”
“Orang lain siapa maksudmu? dia itu Bibi mu sendiri Bima.”
“Kalau dia itu Bibi ku, dia nggak akan tega menyiksa keponakannya sendiri.”
“Udah, udah! kalian ini selalu saja bertengkar bila ketemu, sekarang begini saja, Kak Mayar kembalilah pulang, masalah Nisa aku yang urus nantinya.”
“Baiklah, percuma saja bicara dengan orang bodoh seperti istrimu ini!”
“Bibi yang bodoh, nggak tahu diri, jahat dan kejam!” balas Bima dengan suara lantang.
“Udah Bima, udah! sakit telinga Ayah mendengar perdebatan kalian ini, tahu!”
“Ayah terlalu lemah!” ujar Bima seraya meninggalkan Ayah dan Ibunya.
Sementara itu, Maryati hanya bisa menangis sedih di sudut rumahnya. Air matanya tak bisa berhenti mengalir. Anisa yang merasa ketakutan, terus saja memeluk tubuh Ibunya dengan kuat.
“Anisa, sini sayang,” panggil Tomi pada putrinya yang tampak begitu ketakutan.
“Nggak Ayah jahat!” bentak Anisa kesal.
“Ayah nggak jahat sayang, orang jahatnya sudah kembali pulang.”
“Nggak! aku nggak mau, Ayah jahat!”
Saat Tomi mencoba meraih tubuh Nisa, Maryati langsung marah, dia menepis tangan Tomi dengan kuat sekali.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1