Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 69 Di belenggu perasaan


__ADS_3

“Putrimu jatuh sakit Yati, kami udah berusaha membawanya berobat, namun nyawanya nggak bisa tertolong,” jawab Andi berbohong.


“Benar Yati, apa yang di katakan Kang Andi itu benar,” timpal Mayar dengan suara pelan.


“Kalian pasti sengaja ingin membunuh putri ku.”


“Untuk apa Yati, nggak ada gunanya kan?”


“Berkata jujur pun kau, aku nggak pernah percaya pada mu Kak, karena selama ini kalian semua jahat dan pembohong!”


“Udah Yati, udah, ikhlaskan kepergiannya.”


“Ikhlas, Abang bilang, Ikhlas apanya? ini semua gara-gara Abang, yang selalu membela mereka ketimbang aku, Abang mungkin sudah melupakan semua yang mereka lakukan ke padaku, tapi aku nggak akan pernah lupa Bang.”


Semua orang terdiam saat Maryati meluapkan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya pada Mayar dan suaminya. Di hadapan semua orang Maryati menangis histeris, bahkan untuk memandikan bayi mungilnya itu saja, Maryati tak mengizinkan Tomi dan Mayar ikut serta di dalamnya.


Di peluknya Bayi itu erat-erat, air mata duka tak henti-hentinya mengalir melepas kepergian putrinya itu, Bima dan yang lainnya hanya bisa diam dan pasrah menyaksikan kejadian itu.


Karena tak kuasa menahan perasaannya, Maryati pun pingsan di hadapan semua orang, untung Bima dengan cepat menyambut kepala Maryati, sehingga kepala Ibunya tak membentur lantai rumah.


Beberapa hari setelah jasad Suci di kebumikan, Maryati masih tampak diam menyendiri, dia tak mau bicara dan dia juga tak mau keluar dari kamar.


Tomi yang saat itu merasa bersalah dengan semua perlakuannya, hanya bisa diam menyembunyikan perasaan itu.


Lama Maryati mengucurkan air mata, untuk menebus kesedihan yang selalu membayangi pikirannya, hingga suatu hari dia sadar, kalau pun dia terus bersedih, tentu tak ada gunanya. Untuk itu Maryati kembali bangkit mengurus dan merawat anak-anaknya dengan baik.


Dengan menjual gelang emas miliknya, Maryati kembali membuka warung kopi yang selama ini dia geluti. Selain itu, Maryati juga menjual beraneka ragam buah-buahan. Para pemotor yang lewat mereka terkadang ada yang berminat membeli dagangan Maryati yang tampak segar.


Karena istrinya sudah mulai bangkit dari kesedihan yang membelenggunya, Tomi pun merasa senang, dia bahkan ikut membantu Maryati dalam mencari kebutuhan buah yang di perlukan, untung dari berjualan buah itu pun mereka belikan ke ternak.


Ternak-ternak itu di rawat dengan baik oleh anak-anak Maryati, mereka semua ikut bekerja sama membantu Maryati dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga.


Hanya beberapa tahun mengenyam kebahagiaan, Bima pun datang dari rantau dengan membawa seorang perempuan. Perempuan yang di bawanya adalah anak sulung dari pengusaha kaya, Ayahnya seorang tentara yang punya pengaruh besar di kesatuannya.

__ADS_1


Perempuan itu bernama Dira wati. Kedua orang tuanya tak setuju jika Dira wati menikah dengan Bima. Karena menurut mereka Bima hanya orang miskin yang gila harta.


“Jika kedua orang tuanya tak ada yang setuju dengan pernikahan kalian, lalu kenapa kau mesti memaksakan diri untuk menikahinya nak?”


“Aku mencintainya Bu.”


“Kan masih banyak perempuan lain yang bisa kau nikahi selain dia?”


“Ibu restuilah pernikahan kami berdua Bu.”


“Ibu bukannya nggak merestui pernikahan kalian Bima, tapi Ibu takut masalah yang akan timbul di kemudian hari.”


“Tapi kami sudah sepakat Bu, kalau kedua orang tua Dira tak mau merestui pernikahan kami, maka kami akan pergi menikah di tempat lain.”


“Jangan cari masalah nak, hidup kita ini sudah susah, jangan di tambah lagi dengan beban yang berat.”


Bima yang telah bertekad akan membawa Dira kabur, dia terus mendesak Ibunya untuk merestui pernikahan mereka berdua.


“Baiklah, kalau kau tetap memaksa untuk menikah dengan Dira, maka kau temui kedua orang tua Dira sekali lagi, siapa tahu dia bisa berubah pikiran dan mau merestui pernikahan kalian.”


Ucapan Maryati di dengar oleh Bima, bersama Dira, malam itu mereka menemui kedua orang tuanya. Anton dan Murni tampak tenang dan biasa- biasa saja ketika melihat keduanya duduk diam di hadapannya.


“Pa, kenapa sih Papa nggak mau merestui pernikahan kami?”


Mesti pertanyaan itu terdengar jelas di telinganya, namun Anton dan Murni diam saja, dia tak berkomentar sama sekali bahkan bersikap cuek dengan ucapan putrinya.


“Pa, kenapa sih Papa dan Mama diam saja? kalau kalian nggak merestuinya aku akan pergi dari rumah ini dan aku akan menikah dengan Bang Bima tanpa restu kalian berdua!” ucap Dira seraya menarik tangan Bima untuk meninggalkan mereka berdua.


Di saat Bima dan Dira hendak meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba saja Anton memanggil mereka.


“Mau kemana kalian? duduk di sana!” ujar Anton seraya menunjuk ke suatu tempat.


Lalu keduanya mengikuti saran Anton, mereka duduk di hadapan Anton dan Murni yang saat itu menatap mereka dengan pandangan marah.

__ADS_1


“Dira! apa kau nggak punya otak hah, sudah jelas Papa melarang mu bergaul dengan laki-laki miskin ini, kau masih juga bergaul, bahkan kau akan menikah dengannya.”


“Aku mencintai Bang Bima, Pa.”


“Cinta, cinta! kau nggak tahu apa itu cinta nak. Apakah dengan cinta kau bisa hidup bahagia? apakah dengan cinta kau bisa kaya? nggak kan, jadi jangan mimpi untuk bisa menikah dengan pria miskin ini!”


“Papa jahat! kalau Papa nggak ngasih izin aku menikah dengan Bang Bima, maka aku akan menikah tanpa sepengetahuan kalian.”


“Dasar anak bodoh!” bentak Anton.


Seraya memegang tangan Dira putrinya.


“Lepaskan aku Pa, Papa jahat!” teriak Dira seraya meronta-ronta minta di lepaskan.


“Kau tunggu apa lagi! apa perlu aku menendang mu keluar dari rumah ini!” bentak Anton pada Bima.


Bima yang telah memperlakukan Dira dengan kasar, keinginannya semakin kuat untuk mengajak Dira nikah lari ketempat yang lain.


“Leo, ikat gadis pembangkang ini, kurung dia di dalam kamarnya!” perintah Anton pada ajudannya.


“Siap Pak!” jawab Leo sembari menarik tangan Dira dan membawanya ke dalam kamar.


“Lepaskan aku! cepat lepaskan tangan ku, kalian semua jahat! Papa dan Mama jahat!”


Dalam satu malam itu, Dira terus saja menjerit dan menangis di dalam kamarnya, Murni yang melihat putrinya tersiksa dan menderita seperti itu, mencoba membujuknya agar tidak menikah dengan Bima, namun Dira telah tergila-gila dengan ketampanan Bima.


“Sampai mati pun kalian merayu dan membujuk, aku tetap pada pendirian ku, menikah dengan Bang Bima,” jawab Dira dengan polos.


“Dasar keras hati kau Dira, kenapa sih kau selalu saja membantah ucapan Mama?”


“Aku nggak membantah ucapan Mama, tapi apakah Mama nggak pernah merasakan apa yang aku rasa saat ini, emangnya Mama nggak pernah merasakan muda dulunya?”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2