
Bersama dengan Laila, Yeni serta yang lainnya datang menghampiri rumah Mayar. Suasana tampak sunyi saat itu, dari samping rumah Mayar, tiba-tiba saja Andi muncul seraya membawa sebilah parang panjang.
Melihat kedatangan Andi, Yeni dan yang lainnya merasa kaget, mereka pun mencoba untuk membubarkan diri dengan berlari kesana kemari. Andi merasa heran dengan sikap para Ibu-ibu itu, lalu dia berusaha untuk memanggil mereka semua.
“Hei, ada apa? kenapa kalian pada berlari ketakutan?” tanya Andi heran.
“Apakah kau nggak tahu, kalau putri Yati yang kalian adopsi itu telah meninggal dunia?”
“Apa maksud kalian bicara seperti itu?” tanya Andi, seraya bergegas masuk kedalam rumahnya.
“Kau periksa saja sendiri, Suci putri kalian telah meninggal dunia.”
Tak percaya dengan ucapan para Ibu-ibu itu, Andi langsung memeriksa tubuh Suci yang sudah kaku dan dingin, Suci meninggal dunia dengan posisi kepala bengkok kebawah, karena terlalu lama bergantung di ayunan.
“Oh, Suci! bangun nak, bangun!” jerit Andi seraya memeluk tubuh Suci.
“Benar bukan, kalau putri mu telah tiada?”
“Mayar! Mayar! apakah kau nggak melihat, kalau putri mu telah meninggal!”
Melihat Andi menangis sambil memeluk tubuh Suci, Mayar datang menghampiri mereka berdua.
“Apa maksud Akang, siapa yang Akang maksud meninggal?” tanya Mayar heran.
“Putri mu, Mayar. Putri mu telah tiada.”
“Akang serius?” tanya Mayar seraya memegang tubuh Suci yang dingin dan kaku.
Setelah Mayar tahu, kalau Suci benar-benar meninggal dunia, dia pun menangis histeris, Mayar juga mencoba membangunkan Suci yang tak bernyawa itu.
“Suci, bangun nak, bangun. Lihat Mama sayang, Suci cepat bangun, huhuhu...!”
Laila dan Yeni serta yang lainnya, yang saat itu berada di depan rumah Mayar, mencoba membantu untuk membentangkan tikar serta membersihkan rumah Mayar. Berita pun di sebar ke seluruh warga Desa, kalau putri angkat Mayar telah berpulang Rahmatullah.
Beberapa saat kemudian, para pelayat pun mulai berdatangan, mereka semua turut berbelasungkawa, atas meninggalnya Suci, putri angkat Mayar.
Sekitar dua jam kemudian, salah seorang di utus untuk menyampaikan pesan ke rumah Tomi, kalau Suci putri Tomi telah meninggal dunia.
Bagaikan petir di siang hari, bagaikan langit tertutup awan yang sangat gelap, begitulah Maryati dan Tomi saat mendengar berita itu, Maryati bahkan tergeletak pingsan karena shock.
“Bima! Bima tolong bantu Ayah mengangkat tubuh Ibu mu kedalam!” perintah Tomi pada Bima yang saat itu belum mengetahui apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Dengan bergegas Bima, langsung datang menghampiri Ayahnya, Bima begitu kaget ketika melihat Ibunya tak sadarkan diri di depan pintu rumah.
“Ada apa Ayah? kenapa Ibu pingsan?”
“Ibumu kaget ketika mendengar kalau Suci adikmu telah meninggal.”
Bukan hanya Maryati yang jatuh pingsan Bima yang mendengar berita duka itupun merasa syok dan terduduk diam lemah.
“Benar apa yang Ayah katakan itu, Yah?”
“Iya nak.”
“Ya Allah, Suci, kenapa dia pergi begitu cepat sekali?”
“Ini takdir Nak, Suci di jemput lebih awal oleh Allah.”
“Takdir apanya, ini semua terjadi karena Ayah!”
“Kenapa kau menuduh Ayah, Bima?”
“Kalau bukan karena Ayah, pasti Suci masih hidup bersama kita di rumah ini.”
“Semuanya telah terjadi, kau nggak usah mengungkit itu lagi. Sekarang pikirkan caranya bagai mana menyadarkan Ibu mu secepatnya.”
Dengan lembut Bima berusaha memijat kedua kaki Ibunya secara perlahan, serta menaruh minyak kayu putih di depan hidungnya. Beberapa saat kemudian Maryati sadar dari pingsannya.
“Bima, Suci telah tiada nak, huhuhu…!” ujar Maryati seraya menangis di pundak putra sulungnya.
“Ibu yang sabar ya, mungkin inilah takdir Suci, agar penderitaan yang di alaminya tak berlarut-larut.”
“Ibu sudah melarang Ayahmu, agar jangan menyerahkan Suci pada perempuan jahat itu, tapi dia telah merebut Suci dari pelukan Bunda nak.”
“Aku tahu, Bu. Aku sudah mengetahuinya dari Tia. Tapi saat ini semuanya telah terjadi, Ibu harus bisa mengikhlaskannya, agar Suci tenang di sisi Allah. yang maha penyayang,” ujar Bima seraya menghapus air mata Ibunya dengan lembut.
“Ayahmu nggak bisa berubah Bima, dia selalu saja membela keluarganya ketimbang Ibu.”
“Dari dulu Ayah memang seperti itu Bu, aku yakin, Ayah nggak bakalan mau berubah sampai usia tua menjemputnya.”
“Apa yang mesti Ibu lakukan sekarang nak?”
“Kita harus melihat wajah Suci untuk yang terakhir kalinya.”
__ADS_1
“Baiklah nak, tapi apakah Ibu sanggup untuk berdiri sayang.”
“Ibu pasti sanggup, kalau Ibu nggak sanggup nanti, biar aku yang akan menggendong Ibu.”
Dengan perlahan Maryati mencoba untuk berdiri dan berjalan, mesti dia tak kuasa untuk melangkah kan kakinya, namun Maryati harus berusaha, agar dia dapat melihat wajah putrinya untuk yang terakhir kalinya.
“Apakah Ibu masih sanggup melangkah?” tanya Bima dengan suara pelan.
“Masih nak, Ibu masih sanggup. Mana Ayahmu Bima?”
“Ayah bersama adik-adik telah pergi bersama dengan mobil jemputan tadi Bu.”
“Lalu kita kesana naik apa nak?”
“Kita naik angkot saja Bu.”
“Tapi Ibu nggak tahu tempatnya nak.”
“Aku tahu Bu, bahkan aku sangat kenal sekali dengan tempat itu. Tempat yang dulunya pernah hampir membunuh ku.”
Baru beberapa saat duduk menantikan kedatangan angkot untuk menuju kota Padang, tiba-tiba saja mobil jemputan yang di kirimkan keluarga Mayar datang dan berhenti tepat di hadapannya.
“Ayo Yati, naiklah. Semua orang telah menanti mu di sana.”
Mesti sopir itu bicara jelas di hadapan Maryati, namun Ibu dua belas orang anak itu, tampak diam dan tenang, dia bahkan tak merespon sama sekali ucapan pria itu.
Di saat bersamaan sebuah angkot hendak melewati mereka, Maryati langsung merentangkan sebelah tangannya dan angkot tersebut berhenti. Maryati bersama Bima langsung naik keatas angkot tersebut.
“Kenapa Ibu nggak naik ke atas mobil jemputan tadi, Bu?”
“Untuk apa mengharapkan pertolongan orang yang sangat kejam seperti Mayar, dia bukan hanya sekedar menyakiti Ibu, tapi dia juga telah membunuh adik mu Suci.”
Bima yang mendengar ucapan Ibunya, dia hanya diam saja, Bima mengerti sekali apa yang di rasakan Ibunya selama ini. Rasa sakit yang tak akan pernah terobati.
Setibanya mereka berdua di rumah Mayar, Maryati langsung mengangkat tubuh putrinya yang terbaring tak bernafas.
“Ibu yang sabar ya, semoga kepergian Suci menjadi ladang pahala untuk Ibu dan dirinya."
Tak tampak senyum manis di wajah Maryati saat itu, sementara Tomi, terlihat diam duduk di sudut ruangan yang lain, Maryati memandangi wajah suaminya dengan rasa amarah yang meluap luap.
“Kenapa putri ku bisa meninggal kang? bukankah saat kau membawanya dia dalam keadaan sehat?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*