Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 84 Pertikaian dalam rumah tangga Leni


__ADS_3

Namun karena Leni merasa kesulitan dalam hidup, keesokan harinya Maryati datang memberikan uang pada Leni. Tanpa bicara Leni langsung mengambil uang itu dari tangan Maryati.


“Lain kali, jangan pernah meminta apa yang telah kau berikan pada kedua orang tua mu. Apakah kau nggak mengerti dengan ajaran agama?”


“Mengerti Bu.”


“Lalu kenapa kau memintanya lagi?”


“Aku butuh uang Bu, aku butuh biaya hidup.”


“Tapi nggak begitu caranya kan?”


“Kata Bang Rijal nggak apa-apa memintanya kembali.”


“Kalau begitu, kenapa nggak suami mu itu saja yang di suruh meminta kembali apa yang telah diberikannya pada ibu dan keluarganya.”


“Aku nggak berani bicara Bu.”


“Berarti suamimu itu telah mengajarkan kau hal yang tak baik, kalau memang dia itu suami yang bertanggung jawab, dia tak akan berani menyuruh mu seperti itu.”


Leni yang telah di marahi oleh Ibunya, dia pun melaporkan hal itu pada suaminya, Rijal marah karena Ibunya tak mau mengembalikan apa yang di minta oleh istrinya.


Siang itu, ketika di rumah Maryati sedang kehabisan sambal, Nisa datang kerumah Leni untuk memintanya. Karena saat itu Leni baru saja melahirkan, jadi yang memasak adalah suaminya.


Saat apa yang di cari Nisa tak ketemu, Nisa langsung bertanya pada Leni, kenapa tak ada sambal di meja makan Kakaknya.


“Ah, kau serius Nisa?”


“Iya Kak, kalau Kakak nggak percaya, Kakak lihat aja sendiri.”


“Padahal Kakak belum makan pagi loh.”


“Mana aku tahu, saat aku ke meja makan, sambalnya memang udah nggak ada kok.”


“Kurang ajar, apakah Bang Rijal tak menyisakan nya untuk Kakak.”


“Aku nggak tahu Kak.”


Mendengar ucapan Nisa, Leni semakin penasaran, lalu mereka berdua mencari sambal itu ke seluruh isi ruangan, bahkan Anisa sampai memanjat lemari pakaian Leni untuk mencarinya.


“Ada Nisa?”


“Nggak Kak.”


“Kemana ya? disembunyikan Abang mu sambalnya, padahal pagi itu Kakak dengar sendiri kalau dia memasak di dapur.”


“Atau jangan-jangan, Bang Rijal membawa semua sambal yang telah di masaknya.”


“Ah, nggak mungkin.”


“Buktinya nggak ada sambal kan, dirumah ini.”

__ADS_1


Mesti tak kunjung ketemu, namun Leni dan Nisa masih saja mencarinya ke setiap celah yang bisa dilihat, alhasil tetap saja tak ketemu. Di saat mereka berdua sedang duduk, Nisa melihat sebuah helm honda terletak di sudut ruangan itu.


Mata dan pikirannya langsung saja tertuju pada helm tersebut, tanpa berpikir panjang lagi, Nisa langsung menghampiri helm itu dan membukanya. Benar saja, ternyata sambal yang mereka cari ada di bawah helm tersebut.


Melihat kelakuan suaminya yang jahat, Leni pun menangis histeris, tak di sangka sama sekali, kalau suaminya tega melakukan semua itu pada dirinya.


Sambil menunggu kedatangan Rijal dari kerja, Leni terus saja menangis di depan pintu, dia sangat sedih kenapa suaminya menyembunyikan sambal yang semestinya harus di makan.


“Kenapa kau menangis Len?” tanya Rijal ingin tahu.


“Kenapa Abang menyembunyikan sambal di bawah helm honda?”


“Aku sengaja melakukannya, agar keluarga mu tak seenaknya meminta sambal kerumah ini.”


“Apa maksud Abang?”


“Ingat Leni, di rumah ini aku kepala keluarga, jadi aku yang bisa menentukan siapa yang bisa di beri dan siapa pula yang nggak bisa.”


“Jadi maksud Abang, keluarga ku nggak boleh di beri apa pun kalau mereka meminta.”


“Iya.”


“Kenapa?”


“Karena yang bekerja di rumah ini cuma aku, jadi aku yang berhak menentukannya.”


“Ooo, begitu maksud Abang.”


“Kau sudah mengerti kan?”


“Emangnya kau bisa kerja apa?”


“Aku ini bukan orang bodoh Bang, aku juga bisa bekerja apa saja, asalkan anak ku bisa makan dengan kenyang.”


“Lalu mana tanggung jawab mu sebagai seorang Ibu?”


“Reno, bukan anak ku sendiri, tapi kau Ayahnya, juga wajib mengurus dan menjaganya dengan baik.”


“Nggak bisa gitu dong!”


“Lalu sekarang katakan apa mau Abang.”


“Aku yang bekerja, kau menjaga semua harta yang ada di rumah ini dengan baik.”


“Itu namanya kau suami yang baik, tapi dengan satu catatan, jika aku ingin memberi pada siapa saja yang ku inginkan kau nggak bisa melarang ku.”


“Terserah mu! bicara sama orang egois tak akan menyelesaikan masalah,” jawab Rijal seraya meninggalkan Leni bersama anaknya.


Saat itu Leni merasa senang sekali, karena suaminya tak lagi membahas hal itu dihadapan dirinya, hari demi hari mereka lalui dengan aman tanpa ada kendala. Namun ketika Rijal telah menerima uang gajinya, dia hanya memberikan sedikit saja pada Leni, setalah itu Rijal langsung pergi.


“Heh, apa maksud semua ini Bang?” tanya Leni tak mengerti.

__ADS_1


“Yang kerja itu kan aku, ya terserah aku, mau memberi mu uang berapa.”


“Nggak bisa gitu dong Bang, bukankah kau itu kepala keluarga, kalau kau hanya memberi ku uang sedikit maka kau saja yang belanja ke pasar dan memasak dirumah serta memenuhi kebutuhan kami berdua.”


“Baik, kau kira aku tak sanggup.”


Rijal memang sengaja melakukan semua itu, agar keluarga Leni tak lagi meminta sambal atau uang pada istrinya di rumah.


Karena semua uang di pegang oleh Rijal, maka dia juga bertanggung jawab mengendalikan semua nya, Leni bersama Ravi hanya diam saja tak berbuat apa-apa.


Lama-kelamaan Leni menjadi jenuh, karena dia tak pernah lagi memegang uang sepersen pun di tangannya.


“Aku bosan begini terus, Bang. Kalau kau nggak mau memberi aku uang, maka ceraikan saja aku.”


Rijal yang sangat mencintai Leni dia hanya diam saja, hatinya terasa bergetar ketika kata itu di dengarnya.


“Apa maksud mu? kenapa kau meminta cerai?”


“Untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini, sementara kau tak pernah memberi ku uang sepersen pun.”


“Tapi aku sudah memenuhi kebutuhan hidupmu kan?”


“Tapi aku butuh uang Bang, kalau kau nggak mau memberinya pada ku, maka besok aku akan bekerja sendiri untuk mendapatkannya.”


“Kalau kau bekerja, lalu Reno bersama siapa?”


“Tinggal saja di rumah sendirian.”


“Ah, kau ini ngawur Leni.”


“Kalau kau takut untuk meninggalkan putra mu dirumah sendirian maka beri aku uang, aku juga butuh main dan kemana saja yang ku inginkan.”


“Baiklah, besok kalau sudah gajian aku akan beri kau separoh gaji.”


“Bagus, tapi dengan satu catatan.”


“Apa itu?”


“Seluruh urusan dapur kau yang tangung. Mulai dari belanja ke pasar sampai memasaknya. Aku nggak mau tahu tentang urusan itu lagi.”


“Nggak bisa gitu dong, Len.”


‘Apa lagi Bang, kayaknya aku udah capek deh, berdebat terus masalah ini.”


“Kalau kau nggak mau mengikuti aturan di rumah ini, sebaiknya kita pisah saja.”


“Baik, kau kira aku nggak setuju dengan semua permintaan mu, sekarang begini saja, kemasi semua barang Abang dan keluarlah dari rumah ini.”


“Nggak bisa gitu dong, itu seenak mu saja namanya.”


“Lalu kau mau apa lagi?” tanya Leni semakin tak mengerti.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2