Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 49 Pertengkaran


__ADS_3

“Bunda seorang Ibu yang memiliki banyak anak, tapi Bunda nggak punya hati dan perasaan.”


“Tutup mulut mu Yung! sekali lagi kau bicara seperti itu, maka Bunda nggak segan-segan mengusir kalian semua dari rumah ini.”


“Usir saja, usir Bunda! aku nggak takut, kami lebih baik tinggal di kolong jembatan dari pada hidup di siksa orang tua sendiri.”


“Diam kau, diam!” bentak Leli seraya memegang dadanya dengan kuat.


Melihat Bundanya menahan rasa sakit, Tomi pun langsung pergi keluar, dia mendatangi rumah makan dan membeli dua bungkus nasi untuk istri dan ketiga anak-anaknya.”


Di hadapan Leli, Maryati menyuapkan ke dua anak-anaknya yang makan dengan begitu lahap.


“Apakah Ibu nggak makan?” tanya Bima dengan suara pelan.


“Kau makanlah nak, isi perut mu sampai kenyang, karena belum tentu kita mendapat nasi esok hari.”


“Tapi Ibu makanlah sedikit, agar Ibu bisa kuat.”


Dengan pelan, Maryati mengambil dua suap nasi dari piring Bima, lalu dia menyuruh Bima untuk menghabis semua nasi itu.”


Mesti istri dan ketiga anaknya menderita hidup di dalam rumah besar itu, namun Tomi masih saja suka bermain judi dan mabuk- mabukan.


Bagai seorang budak, Maryati bahkan di perlakukan kejam oleh Leli dan anak-anaknya, Maryati tak mereka beri makan mesti dia telah bekerja mati-matian di rumah itu.


Siang itu karena dia tak enak badan Maryati sulit untuk bangkit dari tidurnya, tak berapa lama kemudian Mayar pun datang menghampirinya, dengan menggunakan kaki Mayar mencoba mengusik tubuh Maryati.


“Hei bodoh! kenapa kau nggak bangun! kau kira ini rumah nenek moyang mu hah!”


Maryati yang tak pernah bicara, dia hanya bisa diam seraya menangis, melihat Maryati menangis Mayar menjadi tambah kesal, lalu disepaknya tubuh Maryati. Tak ingin berlama-lama, lalu Mayar menyiram tubuh Maryati dengan satu gayung air.


“Bangun kau binatang!” teriak Mayar dengan suara keras.


Suara mayar yang sangat keras itu terdengar jelas oleh Bima, yang saat itu di suruh Mayar menyapu halaman. Mayar sengaja melakukan itu pada mereka. Sebab, jika Bima berada di sisi Maryati, anak itu pasti membela Ibunya. Itu sebabnya, Mayar menyuruh Bima menjauh dari Ibunya.


“Kurang ajar! kalian sangat jahat, kenapa kalian terus saja menyiksa Ibu ku!”

__ADS_1


“Karena Ibu mu itu orang bodoh yang nggak tahu diri.”


“Ibu ku memang orang bodoh, tapi hatinya lebih mulia dari pada kalian semua!”


“Kurang ajar, berani sekali kau bicara seperti pada Bibi mu.”


“Di dunia ini, aku hanya punya Ibu dan kedua adik ku, aku nggak punya Bibi dan Nenek!”


“Baik, hari ini Ibumu terbebas dari hukuman ku, tapi lihat saja nanti, aku akan menyiksa Ibumu, sampai dia memohon ampun pada ku.”


Mayar pun pergi dengan sejuta rasa kesal di dalam hatinya, sementara itu Bima yang melihat Ibunya di perlakukan kasar oleh Mayar, dia pun berusaha untuk menolongnya.


“Kenapa Ibu diam saja, Bu. Sesekali lawan mereka, aku nggak tega Ibu di perlakukan seperti itu oleh mereka semua.”


“Nggak ada gunanya nak, jika Ibu melawan mereka, maka kalian yang akan mereka siksa nantinya. Mana Ayah mu Bima?”


“Nggak tahu Bu, paling-paling dia bermain judi lagi.”


“Jika Ibu tahu akan seperti ini, lebih baik kita jadi gelandangan di Jakarta.”


“Ibu benar, saat ini semua telah terjadi, bagai manapun caranya, kita harus menjalani hidup ini dengan siksaan dari mereka


Bima yang tak tahan dengan penderitaan yang di alami Ibunya, dia pun pergi keluar rumah untuk mencari keberadaan Ayahnya.


Bima keluar rumah dengan membawa kayu di tangannya, di hadapan semua orang Bima berdiri di depan Ayahnya.


“Sekarang katakan pada ku, Ayah mau mati di meja judi ini, atau mati karena menafkahi istri dan anak Ayah!”


“Apa maksud mu, Bima?”


“Aku nggak butuh pertanyaan dari Ayah, sekarang juga beri aku uang, biar kami kembali ke Jakarta. Ayah tahu, betapa tersiksanya Ibu di rumah Ayah, mereka semua memperlakukan Ibu lebih parah dari binatang.”


Mendengar ucapan Bima, semua orang di warung itu baru mengetahui kalau Maryati selalu mendapat siksaan dari keluarga Tomi.”


“Kau benar-benar keterlaluan Tomi, kalau hanya untuk menyiksa istri mu di sini, kan lebih baik kau biarkan saja mereka di Jakarta.”

__ADS_1


“Tapi di Jakarta, kami nggak punya rumah lagi.”


“Bohong! siapa bilang di Jakarta kami nggak punya rumah, aku masih punya Kakek yang jauh lebih baik dari keluarga Ayah, di sana kami di perlakukan lebih manusiawi, tapi kalau di rumah Ayah, kami justru di perlakukan sama dengan sampah.”


Tomi yang merasa malu dengan perkataan Bima, dia pun keluar dari warung itu dan bergegas untuk pulang kerumah.”


Di dalam rumah tampak Maryati sedang menangis sedih, dengan pelan Tomi pun menghampirinya.


“Ada apa? kenapa kau menangis sayang?”


Pertanyaan Tomi tak di jawab Maryati sama sekali, rasa sakit hati yang di rasakan Maryati membuatnya terpaksa harus bungkam.


“Ayah nggak usah bertanya lagi pada Ibu, ini semua ulah Ayah kan. Di kota Padang ini, Ibu ku di perlakukan tidak baik oleh keluarga Ayah.”


“Diam!” kau terlalu banyak bicara Bima, kepala Ayah jadi pusing, yang satu nggak mau bicara, yang satunya lagi malah ngomel mulu kerjaannya.”


“Nggak perlu aku Ayah bentak, semestinya Ayah malu, mengajak kami datang ke Padang ini.”


“Diam, kata Ayah! bisa kau diam nggak?”


“Aku nggak akan diam Ayah, sebelum Ibu ku mendapat keadilan dirumah ini. lihat Leni, badannya begitu panas, tapi Ayah malah enak-enakan duduk di meja judi.”


Maryati hanya diam saja, ketika melihat Bima bertengkar dengan Ayahnya, Tomi yang merasakan tubuh Leni begitu panas, dia pun bergegas menuju warung untuk membeli obat.


Obat itupun di berikan Tomi pada Bima, mesti kesal dan sakit hati, Bima pun mengambil obat itu dan memberikannya pada Leni adiknya.


Baru saja Maryati selesai memberikan obat untuk Leni, lalu Inah pun datang membentak Maryati.


“Heh Yati! kau ini, dari tadi kerjaan mu hanya bermalas-malasan saja, pergi sana timba air, penuhkan seluruh bak mandi itu,” perintah Inah dengan suara ketus.


Tanpa melakukan penolakan sedikit pun, Maryati langsung berdiri dan mengerjakan semua perintah Inah, belum selesai keja yang satu, Mayar pun memerintahkan lagi kerja yang kedua. Jika saja Maryati tidak langsung mengerjakannya, Mayar pasti menghajar Maryati.


Perlakuan keluarga Tomi membuat jantung Bima terasa mau mendidih, ingin sekali rasanya Bima menghajar mereka semua, apa lagi anak-anak Inah yang selalu usil dan jahat kepada Bima, membuatnya semakin menaruh dendam.


“Heh Maryati! buruan, kau kerjakan semuanya, habis itu kau masak yang lezat buat kami semua. Itu makanya, kalau jadi orang itu jangan bodoh, sekarang kau tahu sendiri kan akibat dari kebodohan mu, hanya jadi budak orang yang pintar, hahaha…!”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2